Menu

Mode Gelap

Nasional

Menelisik Akar Terorisme (21): Penjahat Jadi Simbol Perlawanan Rakyat

badge-check


					Ilustrasi. Foto: ist Perbesar

Ilustrasi. Foto: ist

Penulis: Jacobus E. Lato  |  Editor: Hadi S. Purwanto

SWARAJOMBANH.COM– Shakespeare sendiri sangat berhati-hati dengan tindak kekerasan gerombolan pada era kekuasaan bangsawan.

Dari bukunya King Henry the Sixth, Part two to Coriolanus (Dari Raja Henry Keenam, Bagian Kedua hingga Coriolanus), dia merumuskan filosofi tentang penjahat, tetapi akhirnya mengutuknya lewat mulut Jack Cade, saat pemimpin pemberontak itu mengambil alih London pada 1450 dan memulai kampanyenya tentang terror pedesaan.

Cade: Pergi dan bakarlah Jembatan London, Dan jika mampu, bakarlah tuntas juga Menaranya … Runtuhkanlah Savoy.

Yang lain lagi bergeraklah menuju Gedung Pengadilan. Runtuhkan semua gedung itu… Bakarlah semua catatan tentang peristiwa itu.

Mulutku akan menjadi parlemen Inggris… Dan mulai sekarang semuanya harus sama.

Cade historis tidak berhasil dalam kampanye tanpa perusakan dan kesombongannya yang sia-sia. Namun di utara Inggris, William Wallace menjadi pahlawan abad pertengahan tentang perlawanan bangsa Scotkandia terhadap pemerintahan Inggris.

Seperti dinyanyikan oleh balada abad keenambelas: Tidak ada kisah yang dapat saya dengar,
Tentang John atau Robin Hood,
Atau juga tentang Wallace tetapi
Yang saya pikir tidak sepenuhnya baik.

Penjahat bersama kelompok perampoknya menjadi simbol perlawanan rakyat melawan penindasan asing.

Di Irlandia, sebagian memang demikian. Masyarakat nasionalis yang tumbuh dalam abad delapan belas adalah kelompok-kelompok teroris Katolik yang menentang minoritas Protestan Anglo-Irlandia yang berkuasa.

Kondisi masyarakat Katolik yang miskin sangat menyedihkan. Hukum yang keras menolak semua hak sipil mereka dan membiarkan mereka dikasihani para imigran, ketika setiap kata ‘para tuan tanah Irlandia’ memperlihatkan adanya pemerasan dan penindasan.

Di selatan, para petani tidak memiliki obat penawar bagi situasi keputusasaan mereka sehingga terpaksa berpantang makan kentang, kecuali minum minuman keras dan berkomplot menentang penguasa Inggris dan rezim mereka.

Bagaimanapun para petani di Ulster, di utara negeri itu, adalah Penentang yang berpindah dari Skotlandia. Mereka membenci Kaum Baptist lebih daripada membenci para tuan tanah mereka sendiri.

Seperti orang kulit putih miskin di negara-negara Amerika selatan bertoleransi kepada penanam kebun mereka karena membuat mereka merasa lebih bermartabat dari para budak kulit hitam, orang Ulster pun bertoleransi kepada tuan tanah karena membuat mereka merasa lebih unggul dibanding para tetangga mereka penganut Katolik. (Bersambung)

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Sasar Toko Emas, Pria Bersenjata Api Laras Panjang Jarah Perhiasan Rp350 Juta

18 Juli 2026 - 22:44 WIB

Terdapat Luka Tembak di Kepala, Bos Otomotif Tewas di Kamar Hotel St Regis Jaksel

18 Juli 2026 - 22:10 WIB

50 Karyawan SGS Unjuk Rasa di Depan Disnaker Jombang: PHK Tipu-tipu

17 Juli 2026 - 21:07 WIB

Landas Pacu Bandara Juanda Direvitalisasi Agar Pesawat Jumbo Bisa Mendarat

17 Juli 2026 - 20:25 WIB

Rektor ITS: Tak Boleh Mahasiswa Mundur karena Biaya

17 Juli 2026 - 20:00 WIB

Beban Rp124 Miliar tapi Kas KPRI Sejahtera Jombang Kosong, Wibisono: Patut Diduga Langgar Tiga Undang Undang Sekaligus!

17 Juli 2026 - 14:55 WIB

Kosmak Ungkap Dugaan Jaringan Bisnis Besar di Bawah Kendali Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah

17 Juli 2026 - 11:27 WIB

Piala Dunia FIFA bukan Sekadar Hiburan, Hasil Survei Kadin-TVRI: Punya Efek Ekonomi Langsung Rp5 Triliun

17 Juli 2026 - 10:25 WIB

Kas KPRI Sejahtera Jombang Kosong: Uang Rp124 Miliar Milik 300 Anggota tak Bisa Dicairkan

17 Juli 2026 - 05:32 WIB

Trending di Nasional