Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
SWARAJOMBANG.COM--Dalam Perang Pequot, kaum Puritan Inggris serta para sahabat Indian mereka melancarkan pembasmian etnis atas sebagian besar warga New England yang berada di luar kota ‘bangsa Indian yang tengah berdoa,’ dengan menggunakan tiang gantungan, tali penjerat, siksaan bahkan kanibalisme.
Inilah Perang Daud, seorang komandan mengumumkan, karena Saul membunuh ribuan musuh, maka Daud membunuh puluhan ribu musuh.
Ketika seseorang bertumbuh kembang dalam ‘tingginya darah dan dosa melawan manusia dan Allah, maka Dia ‘menyiksa, mencincang mereka serta membantai mereka dengan pedang.’ Sejumlah tahanan Pequot dijadikan budak.
Pada saat itulah para budak Afrika untuk pertama kalinya dibawa ke New England. Pascaperang yang dilancarkan oleh Raja Philip Bersama federasi Bangsa Indiannya, terjadilah lagi perang yang jauh lebih berdarah-darah.
Kepala dan tangan Raja Philip dipotong, tubuhnya dibelah kemudian digantung pada sebatang pohon.
Dan dalam pemberontakan internal yang paling mengancam di Virginia, pada 1672, Nathaniel Bacon mendapatkan dukungan nyaris dari semua koloni melawan Gubernur Berkeley yang ingin ‘menghancurkan dan mengusir keluar semua orang Indian secara keseluruhan, serta semua bentuk perdagangan dengan mereka.’
Pada pertengahan abad delapan belas, ketika aturan-aturan peperangan ditaati di banyak pertempuran bangsa Eropa, kekejaman masih mewarnai bangsa Prancis dan Perang Indian di berbagai medan perang tiga belas koloni.
Berkat bantuan Prancis, Pontiakus menyatukan suku-suku perbatasan untuk merebut kembali Ohio Valley dan kawasan Great Lakes.
Jenderal Inggris Amherst menginginkan agar bangsa Indian diburu dengan anjing sebagaimana bangsa Spanyol melakukannya atas bangsa Aztek. Musuh harus diracuni dengan selimut yang diolesi cacar air guna ’memusnahkan ras yang buruk ini.”
Ironisnya, praktek bangsa Indian menguliti kepala musuh mereka dan mengantung piala-piala berambut ini di pinggang mereka menyebarkan unsur-unsur beracun yang dibawa imigran Eropa jauh lebih baik ketimbang pakaian yang terkontaminasi atau spora anthraks dalam dunia pos modern.
Bersamaan dengan penyebaran koloni di seluruh Amerika Utara, maka Empat Penunggang Kuda yaitu tifus, cacar air, campak dan influenza — membunuh sebagian besar suku-suku yang berada di hadapan mereka.
Meskipun bangsa Indian Sioux dan sekutu-sekutu mereka mengalahkan Jenderal Custer dalam Pertempuran seputar Little Bigh Horn, mereka tidak pernah mampu mengalahkan penyakit mematikan yang dibawa masuk ke tanah mereka yang asri.
Epidemi berkecamuk silih berganti. Seperti ditulis seorang ahli tentang penyebaran penyakit dalam Armies of Pestilence (Pasukan Sampar) ‘Inilah pembunuhan massal berskala besar yang tepat disamakan dengan impian-impian Hitler dan Himmler.’
Kontrateror perang biolgis dalam kota modern Amerika masih menjadi mimpi buruk yang bakal terjadi.’ (Bersambung).











