Menu

Mode Gelap

Nasional

Menelisik Akar Terorisme (19): Betapa Kejam dan Kelam Perang Daud

badge-check


					Menelisik Akar Terorisme (19): Betapa Kejam dan Kelam Perang Daud Perbesar

Penulis: Jacobus E. Lato  |  Editor: Hadi S. Purwanto 

SWARAJOMBANG.COM--Dalam Perang Pequot, kaum Puritan Inggris serta para sahabat Indian mereka melancarkan pembasmian etnis atas sebagian besar warga New England yang berada di luar kota ‘bangsa Indian yang tengah berdoa,’ dengan menggunakan tiang gantungan, tali penjerat, siksaan bahkan kanibalisme.

Inilah Perang Daud, seorang komandan mengumumkan, karena Saul membunuh ribuan musuh, maka Daud membunuh puluhan ribu musuh.

Ketika seseorang bertumbuh kembang dalam ‘tingginya darah dan dosa melawan manusia dan Allah, maka Dia ‘menyiksa, mencincang mereka serta membantai mereka dengan pedang.’ Sejumlah tahanan Pequot dijadikan budak.

Pada saat itulah para budak Afrika untuk pertama kalinya dibawa ke New England. Pascaperang yang dilancarkan oleh Raja Philip Bersama federasi Bangsa Indiannya, terjadilah lagi perang yang jauh lebih berdarah-darah.

Kepala dan tangan Raja Philip dipotong, tubuhnya dibelah kemudian digantung pada sebatang pohon.

Dan dalam pemberontakan internal yang paling mengancam di Virginia, pada 1672, Nathaniel Bacon mendapatkan dukungan nyaris dari semua koloni melawan Gubernur Berkeley yang ingin ‘menghancurkan dan mengusir keluar semua orang Indian secara keseluruhan, serta semua bentuk perdagangan dengan mereka.’

Pada pertengahan abad delapan belas, ketika aturan-aturan peperangan ditaati di banyak pertempuran bangsa Eropa, kekejaman masih mewarnai bangsa Prancis dan Perang Indian di berbagai medan perang tiga belas koloni.

Berkat bantuan Prancis, Pontiakus menyatukan suku-suku perbatasan untuk merebut kembali Ohio Valley dan kawasan Great Lakes.

Jenderal Inggris Amherst menginginkan agar bangsa Indian diburu dengan anjing sebagaimana bangsa Spanyol melakukannya atas bangsa Aztek. Musuh harus diracuni dengan selimut yang diolesi cacar air guna ’memusnahkan ras yang buruk ini.”

Ironisnya, praktek bangsa Indian menguliti kepala musuh mereka dan mengantung piala-piala berambut ini di pinggang mereka menyebarkan unsur-unsur beracun yang dibawa imigran Eropa jauh lebih baik ketimbang pakaian yang terkontaminasi atau spora anthraks dalam dunia pos modern.

Bersamaan dengan penyebaran koloni di seluruh Amerika Utara, maka Empat Penunggang Kuda yaitu tifus, cacar air, campak dan influenza — membunuh sebagian besar suku-suku yang berada di hadapan mereka.

Meskipun bangsa Indian Sioux dan sekutu-sekutu mereka mengalahkan Jenderal Custer dalam Pertempuran seputar Little Bigh Horn, mereka tidak pernah mampu mengalahkan penyakit mematikan yang dibawa masuk ke tanah mereka yang asri.

Epidemi berkecamuk silih berganti. Seperti ditulis seorang ahli tentang penyebaran penyakit dalam Armies of Pestilence (Pasukan Sampar) ‘Inilah pembunuhan massal berskala besar yang tepat disamakan dengan impian-impian Hitler dan Himmler.’

Kontrateror perang biolgis dalam kota modern Amerika masih menjadi mimpi buruk yang bakal terjadi.’ (Bersambung).

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Sasar Toko Emas, Pria Bersenjata Api Laras Panjang Jarah Perhiasan Rp350 Juta

18 Juli 2026 - 22:44 WIB

Terdapat Luka Tembak di Kepala, Bos Otomotif Tewas di Kamar Hotel St Regis Jaksel

18 Juli 2026 - 22:10 WIB

50 Karyawan SGS Unjuk Rasa di Depan Disnaker Jombang: PHK Tipu-tipu

17 Juli 2026 - 21:07 WIB

Landas Pacu Bandara Juanda Direvitalisasi Agar Pesawat Jumbo Bisa Mendarat

17 Juli 2026 - 20:25 WIB

Rektor ITS: Tak Boleh Mahasiswa Mundur karena Biaya

17 Juli 2026 - 20:00 WIB

Beban Rp124 Miliar tapi Kas KPRI Sejahtera Jombang Kosong, Wibisono: Patut Diduga Langgar Tiga Undang Undang Sekaligus!

17 Juli 2026 - 14:55 WIB

Kosmak Ungkap Dugaan Jaringan Bisnis Besar di Bawah Kendali Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah

17 Juli 2026 - 11:27 WIB

Piala Dunia FIFA bukan Sekadar Hiburan, Hasil Survei Kadin-TVRI: Punya Efek Ekonomi Langsung Rp5 Triliun

17 Juli 2026 - 10:25 WIB

Kas KPRI Sejahtera Jombang Kosong: Uang Rp124 Miliar Milik 300 Anggota tak Bisa Dicairkan

17 Juli 2026 - 05:32 WIB

Trending di Nasional