Penulis: Adi Wardhono | Editor: Priyo Suwarno
KULON PROGO, SWARAJOMBANG.COM – Sistem Peringatan Dini (EWS) Tsunami yang dipasang di desa Karangwuni, Wates, Kulon Progo, Yogyakarta, tiba-tiba berbunyi keras selama sekitar 20 menit pada malam hari, 6 September 2025.
Peringatan dini nitu menurut mayasrakat berbunyi: Suara sirine mulai dengan pengumuman bahwa telah terjadi gempa yang bisa menyebabkan tsunami, masyarakat diminta untuk waspada!
Pihak BPBD Kulon Progo memberikan penjelasan resmi tentang bunyi sirine EWS yang tiba-tiba di Karangwuni, Komandan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kulon Progo.Sunardi menjelaskan bunyi sirine itu disebabkan oleh gangguan atau kesalahan pada sistem EWS yang masih sedang diselidiki.
Oleh karena itu, BPBD memutuskan untuk mematikan EWS tersebut hingga vendor memperbaiki masalah agar suara yang seolah-olah menandakan adanya tsunami tidak muncul kembali.
Peristiwa ini membuat warga merasa cemas, dan beberapa di antara mereka memilih untuk mengungsi. Hingga saat ini, penyebab bunyi sirine EWS tersebut masih belum diketahui dengan jelas, karena tidak ada kerusakan fisik atau aktivitas manusia yang bisa mengaktifkan sirine itu.
Sistem EWS tsunami di Karangwuni memang menggunakan pengaktifan manual yang hanya bisa berfungsi jika tombol khusus di ruang operator ditekan, dan setelah diperiksa, tombol itu dalam keadaan mati dan panel kotaknya terkunci.
Karena penyebab teknisnya belum ditemukan, ada spekulasi di masyarakat bahwa bunyi sirine mungkin disebabkan oleh makhluk halus yang diyakini ada di daerah Balai Desa Karangwuni.
Beberapa warga juga melaporkan sering melihat penampakan makhluk gaib di dekat lokasi EWS, sehingga banyak yang mengaitkan fenomena ini dengan hal-hal mistis.
Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulon Progo dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Karangwuni mengatakan bahwa saat ini mereka masih menunggu hasil pemeriksaan dari vendor yang menyediakan EWS yang belum mengecek lokasi.
Meskipun begitu, secara resmi penyebab bunyi mendadak ini dinyatakan sebagai kesalahan sistem teknis yang belum teridentifikasi, bukan karena bencana alam.
Namun, karena tidak ada penjelasan teknis dan tombol yang tidak aktif, warga lokal menghubungkan kejadian ini dengan kehadiran makhluk halus sebagai penyebab bunyi sirine yang misterius.
Ia juga menegaskan bahwa tidak ada aktivitas gempa atau potensi tsunami di wilayah Kulon Progo saat sirine berbunyi. Sunardi menambahkan bahwa vendor yang bertanggung jawab atas EWS belum melakukan pemeriksaan langsung di lokasi hingga sekarang, dan kondisi panel box EWS ditemukan terkunci tanpa ada gangguan fisik dari luar.
Selain itu, Kepala Bidang Pencegahan, Kesiapsiagaan, Rehabilitasi dan Konstruksi BPBD Kulon Progo, Muh Juaini, juga menyampaikan bahwa EWS tsunami yang berbunyi itu adalah alat baru yang dipasang pada tahun 2025, dan saat diperiksa dalam kondisi baik.
Dengan demikian, penjelasan utama disampaikan oleh Sunardi sebagai komandan TRC BPBD Kulon Progo yang mengonfirmasi bahwa bunyi sirine disebabkan oleh kesalahan sistem, bukan karena adanya aktivitas manusia atau bencana alam.
Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Karangwuni, Sunardi, menjelaskan bahwa bunyi sirine yang sangat keras itu bahkan disertai pesan suara yang memperingatkan adanya tsunami.
“Peristiwa pada hari Sabtu pukul 23.15 WIB berbunyi sampai 23.35 WIB jadi kurang lebih 20 menit berbunyi terus-menerus,” ujar Sunardi saat dihubungi Pandangan Jogja, Senin, 8 September 2025.
“Suara sirine mulai dengan pengumuman bahwa telah terjadi gempa yang bisa menyebabkan tsunami, masyarakat diminta untuk waspada. Begitu mendengar, orang-orang yang sedang tidur langsung terbangun dan dengan cepat mengambil motor serta mengenakan helm, mereka pergi ke tempat berkumpul,” tambahnya.
Menurut Sunardi, sirine berbunyi tanpa ada orang yang mengendalikannya atau perintah dari pusat. Semua sistem peringatan dini kemudian dihentikan sementara sambil menunggu pihak penyedia layanan untuk melakukan pemeriksaan.
“Ketika sirine berbunyi, tidak ada yang mengendalikan, panelnya terkunci rapat, mungkin dalam istilah teknis bisa disebut sebagai kesalahan,” ujarnya.
Sunardi juga menambahkan, kejadian ini menunjukkan bahwa masyarakat cukup siap menghadapi bencana. Namun, dia mengingatkan bahwa jika kejadian seperti ini terjadi lagi, kepercayaan masyarakat terhadap sistem peringatan dini bisa menurun.
“Jika hal negatif ini berlangsung terus-menerus, akan menyebabkan keributan. Dikhawatirkan nantinya jika ada kejadian yang benar-benar terjadi, masyarakat tidak akan peduli lagi atau tidak mempercayainya,” ucapnya. **











