Penulis: Tanasyafira Libas Tirani | Editor: Priyo Suwarno
JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM- Akuisisi mayoritas PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) oleh POSCO International Corporation, anak perusahaan dari konglomerat Korea Selatan POSCO Group, menggambarkan transformasi signifikan dalam industri sawit Indonesia.
POSCO Group, raksasa dari Korea Selatan melalui entitas AGPA Pte. Ltd, 18 November 2025, mengambil alih 65,72% saham SGRO senilai Rp9,44 triliun, menguasai 1,19 miliar lembar saham dan memegang kendali atas lahan sawit seluas 128.000 hektare yang tersebar di Sumatra dan Kalimantan.
Penambahan ini mengangkat total lahan sawit POSCO di Indonesia menjadi 150.000 hektare, hampir tiga kali luas Kota Seoul.
Meskipun langkah ini memperkuat integrasi vertikal POSCO dalam rantai produksi minyak sawit—mulai dari penanaman hingga pengolahan dan rafinasi—ada ketegangan yang mengiringi perubahan kepemilikan.
Karyawan PT Nusantara Sarana Alam, anak usaha SGRO di Kalimantan Barat, menggelar aksi protes pada 28 November 2025 menuntut pengakuan hak pesangon dan masa kerja di tengah kekhawatiran tentang pengurangan tenaga kerja pasca-akuisisi.
Serikat buruh menuntut kesepakatan resmi, sementara pemerintah daerah menegaskan perlindungan hak karyawan harus dijaga sesuai Undang-Undang Ketenagakerjaan, termasuk keberlanjutan manfaat sosial seperti BPJS.
Akusisi ini juga memunculkan sorotan tentang dampak lingkungan dan sosial yang mungkin muncul dari ekspansi industri sawit.
POSCO menyatakan komitmen pada standar keberlanjutan (ESG) dan sertifikasi RSPO untuk mengurangi risiko deforestasi, namun tantangan regulasi dan tekanan dari investor global tetap ada, apalagi dengan maraknya kritik terhadap praktek pengelolaan lahan sawit di Indonesia.
Secara bisnis, POSCO mengintegrasikan asetnya di Indonesia dengan fasilitas pengolahan minyak sawit berkapasitas besar di Balikpapan, Dumai, dan Papua Selatan, menyasar pasar biofuel global dan kebutuhan domestik Korea Selatan.
Transaksi ini menandai langkah besar investor asing dalam sektor agribisnis Indonesia, mengindikasikan peluang pertumbuhan sekaligus potensi ketegangan sosial dan ekologis yang harus diantisipasi.
Dari sisi Grup Sampoerna, penjualan saham merupakan strategi melepaskan peran pengelolaan sawit demi pertumbuhan bisnis SGRO di bawah pengelolaan korporasi asing yang lebih terintegrasi dan berkapital besar.
Namun, perubahan ini mengingatkan perlunya pengawasan ketat agar ekspansi investasi asing tidak melupakan perlindungan pekerja dan ekosistem lokal yang rentan. **











