Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga
JOMBANG, SWARAJOMBANG.COM-Dalam sebuah cuplikan obrolan yang diunggah akun @patisakpore dan dicuplik dari @forumkeadilanTV pada 15 Agustus 2025, tergambar kuat bahwa Pati bukan sekadar sebuah wilayah.
Pati, menurut narasumber Okkey Madasari, adalah simbol perlawanan yang sudah berakar jauh dalam sejarah bangsa.
“Pati ini, Kang, pati ini menempati peran sentral dalam pergerakan sosial di Indonesia,” ujar Okkey narasumber membuka perbincangan.
Pernyataan itu segera ditegaskan dengan gambaran sejarah. “Secara sejarah, Pati itu memang identik dengan perlawanan,” lanjutnya. Kata-kata ini seakan menjadi pintu menuju masa lalu, di mana perlawanan lahir dari penderitaan rakyat kecil.
“Di abad 19, ada seorang petani, pemimpin petani namanya Samin Surasentiko.” Ucapan itu mengingatkan pada sosok sederhana yang kemudian menjadi simbol pembangkangan sipil terhadap kolonialisme Belanda.
Gerakan ini bukan sekadar legenda, melainkan kenyataan sejarah. “Ya, gerakan Samin. Dari Blora sampai ke Pegunungan Kendeng itu masuk di wilayah Pati,” tambahnya, menegaskan bahwa tanah Pati adalah bagian dari medan perlawanan.
Dengan lantang, Okkey menggambarkan perlawanan yang dilakukan para petani miskin kala itu. “Pati itu masuk dalam wilayah di mana Samin Surasentiko memimpin yang namanya civil disobedience di masa penjajahan Belanda.”
Civil disobedience atau pembangkangan sipil itu dilakukan bukan tanpa alasan. “Pembangkangan sipil yang dilakukan oleh petani itu sudah dimulai pada masa itu,” ucapnya, menjelaskan titik awal sebuah gerakan rakyat.
Sejarah mencatat, strategi perlawanan mereka sederhana namun berani. “Dan bentuk yang mereka lakukan adalah mereka menolak membayar pajak.” Penolakan pajak bukan sekadar angka, melainkan pernyataan keras menentang penindasan kolonial.
“Jadi perlawanan terhadap pemerintah kolonial dalam bentuk membangkang, dalam bentuk memboikot pajak, itu merupakan respon dari kebijakan-kebijakan pemerintah saat itu,” tuturnya. Kebijakan yang dimaksud tak lain adalah kebijakan yang memeras, menindas, dan menghisap hasil kerja petani.
“Yang semakin memeras petani, yang semakin membuat petani sulit, yang semakin menciptakan penderitaan,” ucapnya menggambarkan betapa kerasnya tekanan penjajahan kala itu.
Sebagai informasi, karena gerakan Samin dianggap pemerintah kolonial berbahaya, menyebar ke daerah lain di Jawa seperti Bojonegoro, Madiun, dan Grobogan dengan tokoh-tokohnya, maka pemerintah kolonial sampai harus menangkap dan membuang Samin Surosentiko beserta pengikutnya ke Padang pada tahun 1907.***











