Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Priyo Suwarno
SHENZHEN, SWARAJOMBANG.COM – Meski menghadapi boikot teknologi dari AS selama lebih dua dekade, China diam-diam berhasil mengembangkan prototipe awal sistem litografi ultraviolet ekstrem (EUV) pada awal 2025.
Teknologi ini krusial untuk memproduksi chip semikonduktor paling canggih, yang memanfaatkan panjang gelombang cahaya EUV sebesar 13,5 nanometer—jauh lebih pendek daripada litografi deep ultraviolet (DUV) konvensional—untuk mencetak transistor berukuran 2-3 nanometer.
Reuters melaporkan bahwa tim ilmuwan di fasilitas keamanan tinggi Shenzhen, dibantu mantan insinyur ASML dan jaringan institut penelitian China, telah menghasilkan mesin prototipe yang mampu memancarkan cahaya EUV stabil.
Ini merupakan terobosan kritis, karena generasi cahaya EUV melibatkan plasma tin droplet yang dipanaskan laser hingga 220.000°C, proses yang ASML sempurnakan selama 17 tahun untuk mencapai efisiensi 5-7% konversi energi.
Namun, prototipe China masih dalam tahap pengujian dan belum menghasilkan chip fungsional. Tantangan utama mencakup optik presisi multilayer mirror (dengan reflektivitas >70% pada EUV), keandalan sistem vakum ultra-tinggi, serta kontrol getaran sub-nanometer—area di mana ASML unggul berkat investasi miliaran euro. Sumber memperkirakan chip fungsional baru terealisasi pada 2028-2030.
Sementara itu, ASML tetap monopoli global dengan mesin EUV twinscan berharga $250 juta per unit, esensial untuk chip AI dari Nvidia, AMD, dan produksi TSMC, Intel, serta Samsung.
Perusahaan Belanda ini, berbasis di Veldhoven, mendominasi berkat presisi tak tertandingi: satu mesin mampu cetak 200 wafer per jam dengan defect rate <0,1%. Valuasi ASML capai $419 miliar per Desember 2025, menjadikannya raksasa teknologi Eropa terbesar.
Pembatasan ekspor Belanda ke China—ditekan AS—telah memangkas kontribusi pasar China menjadi 20% dari pendapatan ASML pada 2024.
Meski China giat reverse engineering, mereka tertinggal bertahun-tahun dalam skalabilitas produksi massal. Proyeksi ASML: pendapatan 44-60 miliar euro pada 2030, didorong ledakan permintaan AI. **











