Penulis: Tanasyafira L. Tirani | Editor: Priyo Suwarno
JAKARTA l, SWARAJOMBABG COM– Rupiah anjlok tembus Rp17.000 per dolar AS pada 9 Maret 2026, membangkitkan mimpi buruk krisis 1998 bagi masyarakat.
Tetapi, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis klaim ekonom soal resesi, menegaskan ekonomi Indonesia masih ekspansi dengan daya beli terjaga.
Purbaya menyampaikan ini saat ditemui wartawan di Pasar Tanah Abang, Jakarta, menanggapi depresiasi 0,31% ke Rp16.953 per US$ pukul 14:14 WIB.
Hingga 10 Maret siang ini, kurs spot BI mencapai Rp17.050 (naik 0,24% atau 41 poin), menurut data real-time Bloomberg dan BI Rate.
Optimisme Pemerintah
Pada Januari 2026, saat rupiah di Rp16.955, Purbaya optimistis mata uang RI segera rebound berkat fundamental kuat: IHSG all-time high 9.133, aliran dana asing masuk Rp15 triliun (data BEI Februari), dan proyeksi pertumbuhan 6%.
Ia menolak spekulasi independensi BI dan yakin target 5% tetap realistis meski BI baru revisi jadi 4,8-5,4% akibat pelemahan global.
Analisis Data Kurs TerkiniPada 9 Maret, dolar AS menguat 0,50% ke Rp17.009 (Bloomberg), setelah tutup Rp16.925 pada 6 Maret. Bank besar seperti Mandiri (jual Rp17.020), BNI (Rp17.010), BRI (Rp17.015), dan BCA (Rp17.025) ikut sentuh level tersebut awal pekan.
Pelemahan ini dipicu risk-off global: indeks DXY dolar naik 2,1% sepekan, defisit perdagangan RI Rp45 triliun Januari-Februari (Kemendag), dan outflow asing dari emerging markets US$3 miliar (IIF data 10 Maret).
Analisis mendalam menunjukkan tren memburuk: rata-rata kurs 3 bulan terakhir melemah 4,2% dari Desember 2025, dengan volatilitas tertinggi sejak Q4 2025.
BI telah intervensi Rp20 triliun di pasar spot minggu ini, tapi tekanan berlanjut dari suku bunga Fed yang stabil di 4,75-5%.
Dampak Harga Minyak dan InflasiHarga minyak Brent US$112 per barel (naik 8% sebulan, data OPEC) memperparah beban impor energi Indonesia (80% ketergantungan).
Ini picu imported inflation: inflasi Februari 2026 3,15% YoY (BPS), naik dari 2,98% Januari, terutama volatile foods dan energi.
Dampak riil: BBM potensial naik 5-7% pasca-Lebaran, LPG Rp500/kg melonjak, biaya logistik +12% (Asosiasi Logistik), harga gula impor +15%, daging +10%. Kelas menengah bawah terpukul—daya beli terkikis 3-5% tanpa kenaikan upah seimbang (analisis BI).
Barang elektronik, obat, dan pangan impor naik 8-12%, risiko pertumbuhan di bawah 5,2% dengan BI Rate potensial hike 25 bps ke 6,25%.
Pemerintah-BI siapkan intervensi: wajibkan DHE ekspor 30% disalurkan lokal, diversifikasi impor dari Timur Tengah ke AS, dan stimulus fiskal Rp50 triliun untuk subsidi energi.**











