Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Priyo Suwarno
SAN FRANSCISCO, SWARAJOMBANG.COM — Pendiri Neuralink, Elon Musk, mengumumkan pengembangan implan eksperimental bernama Blindsight, yang dirancang untuk melewati mata sepenuhnya dan mengirimkan informasi visual secara langsung ke korteks visual di otak.
“Bahkan jika seseorang benar-benar buta sejak lahir, kita dapat menulis langsung ke korteks visual,” ujar Musk, menambahkan bahwa pendekatan ini telah diuji coba dan terbukti berhasil pada monyet .
Hasil Validasi
Unggahan media sosial dikutip dari pernyataan resmi Elon Musk & Neuralink — sesuai rilis perusahaan dan media sains terpercaya
Prinsip kerja perangkat ini: Lewati mata & saraf mata → rangsang langsung korteks visual — benar, berbeda dari implan retina lama yang butuh saraf mata masih berfungsi
UJI KERA
Teruji pada kera; satu individu membawa alat aktif hingga ±3 tahun — terkonfirmasi Neuralink telah melaporkan hasilnya sejak Maret 2024
– Resolusi awal: “Cukup rendah”, dibandingkan grafis konsol lama — Musk sendiri menyamakan dengan grafis Nintendo/Atari awal
Visi masa depan: inframerah, ultraviolet, radar — pernyataan resmi Musk, belum teruji
Status regulasi: FDA beri penetapan Breakthrough Device — percepatan peninjauan, BUKAN persetujuan akhir; uji coba manusia direncanakan akhir 2026, belum ada yang resmi ditanam
Pengawasan
Dunia kedokteran dan antarmuka otak-komputer menyambut terobosan luar biasa dari perusahaan teknologi Neuralink milik Elon Musk.
Sebuah implan bernama Blindsight yang berjanji mengembalikan kemampuan melihat bagi orang yang sama sekali tidak memiliki penglihatan, bahkan sejak lahir.
Caranya sungguh membalikkan jalan alamiah penglihatan — mata dan saraf penglihatan dilewati sepenuhnya. Sebuah kamera kecil menangkap gambar, data diubah menjadi sinyal listrik, lalu dikirimkan langsung melalui ribuan mikroelektroda yang tertanam di korteks visual — bagian otak yang memproses penglihatan.
Otak seakan-akan menerima sinyal seolah datang dari mata sendiri, sehingga timbul persepsi melihat.
“Bahkan jika seseorang benar-benar buta, kita dapat menulis langsung ke korteks visual,” tegas Musk. Pada tahap awal, resolusinya relatif rendah, disamakan Musk dengan grafis video game generasi lama — titik-titik cahaya yang perlahan terbentuk menjadi pola dan bentuk.
Namun visi jangka panjang jauh lebih ambisius: resolusi sangat tajam hingga kemampuan melihat spektrum di luar jangkauan manusia biasa — inframerah, ultraviolet, bahkan gelombang radar. “Ini seperti memiliki kekuatan luar biasa,” kata Musk.
Sebelum ke manusia, teknologi ini sudah diuji bertahun-tahun pada kera. Neuralink melaporkan hewan percobaan mampu merespons rangsangan visual buatan seolah melihat benda sungguhan, dan ada individu yang membawa alat aktif hingga tiga tahun tanpa komplikasi serius.
Badan pengawas obat dan makanan Amerika Serikat — FDA telah memberikan penetapan Alat Terobosan (Breakthrough Device Designation) pada September 2024, mempercepat jalur uji coba manusia, meskipun bukan berarti sudah disetujui untuk dijual.
Penanaman pertama pada manusia ditargetkan akhir 2026, menunggu persetujuan akhir.
Namun para ilmuwan mengingatkan: masih banyak hal belum dipahami sepenuhnya.
“Lebih banyak elektroda belum tentu otak melihat lebih baik — kode otak untuk visual belum sepenuhnya terpecahkan,” ungkap peneliti independen.
Belum diketahui juga apakah orang buta sejak lahir, yang korteks visualnya tak pernah terlatih, benar-benar dapat memproses sinyal tersebut. Keamanan jangka panjang, biaya, serta akses merata juga menjadi perdebatan penting.
Jika berhasil, jutaan orang di seluruh dunia yang buta akibat kerusakan mata atau saraf penglihatan — yang tidak bisa ditolong operasi maupun implan retina lain — berpeluang melihat dunia untuk pertama kalinya. Bukan sekadar obat, ini pintu gerbang manusia menuju evolusi penglihatan baru.**











