Menu

Mode Gelap

Nasional

Guru Besar ITS Usul Skema Campuran Terkait Impor 105 Ribu Pikap India

badge-check


					Pikup India Mahindra Perbesar

Pikup India Mahindra

Penulis: Wibisono | Editor: Yobie Hadiwijaya

SURABAYA, SWARAJOMBANG.COM-Harus Laksana Guntur, Guru Besar Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menilai, rencana pemerintah melalui BUMN Agrinas mengimpor sekitar 105 ribu unit mobil pikap dan truk dari India, perlu dikaji secara cermat agar tidak merugikan industri otomotif nasional.

Menurutnya, pemahaman terhadap terminologi impor menjadi kunci dalam melihat kebijakan tersebut. Impor tidak selalu berarti membeli kendaraan utuh dari luar negeri. Ada skema completely built up (CBU), yakni kendaraan dibeli dalam kondisi lengkap dan siap pakai, serta skema knocked down, baik semi maupun completely knocked down, yang memungkinkan perakitan dilakukan di dalam negeri.

“Jadi kita perlu memahamai dulu tentang terminologi impor, juga perlu melihat kontribusinya untuk nasional,” katanya saar mengudara dalam program Wawasan di Radio Suara Surabaya, pada Selasa (24/2/2026).

Ia menjelaskan, kendaraan yang rencananya didatangkan dari India masuk dalam kategori CBU, sehingga kontribusinya terhadap industri nasional relatif rendah. Pasalnya, kendaraan datang dalam kondisi utuh tanpa proses produksi atau perakitan di dalam negeri.

Dengan kondisi itu, ia menyebut perlu penambahan kapasitas produksi pikap nasional, karena produksi di Indonesia masih belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan pemerintah, terutama jika mempertimbangkan keterbatasan anggaran negara yang menuntut efisiensi harga.

Ia menilai, opsi kerja sama langsung dengan produsen sebenarnya dapat menghasilkan harga yang lebih kompetitif jika dilakukan dalam skala besar. Namun, skema pembelian langsung tersebut kerap terbentur aturan pengadaan yang berlaku.

Terkait desakan sebagian anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) agar proyek itu ditinjau ulang, Guntur menegaskan bahwa Indonesia memang belum memiliki mobil nasional 100 persen buatan dalam negeri karena belum adanya pabrik yang sepenuhnya nasional.

Meski demikian, ia menilai skema rakitan bisa menjadi jalan tengah selama dilakukan melalui perusahaan yang memiliki fasilitas perakitan di dalam negeri.

Sebagai rekomendasi, ia mengusulkan skema pembelian diselang-seling. Sebagian unit dapat dibeli dari produsen lokal, sementara sebagian lainnya melalui impor, agar tercipta kompetisi yang sehat. Menurutnya. dengan cara tersebut, industri otomotif tetap bisa bergerak, harga bisa lebih efisien, dan kepentingan nasional tetap terjaga.

“Jalan tengah ini yang paling realistis. Industri otomotif tetap hidup, ekonomi lebih efisien, dan Indonesia tidak hanya menjadi pasar. Minimal kita dilibatkan,” katanya.

Dalam kesempatan itu, ia juga menekankan pentingnya transparansi pemerintah dalam menyampaikan kebijakan tersebut kepada publik agar tidak menimbulkan polemik berkepanjangan. “Ya, setuju, pemerintah juga harus lebih transparan menyampaikan ini ke publik,” pungkasnya.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

TPPU Rp237 M Libatkan Pejabat, Jenderal dan Ulama: Gus Yazid Cabut Keterangan BAP Letjen Widi Prasetijono

22 September 2026 - 15:13 WIB

Menelisik Akar Terorisme (59): Masyarakat Rahasia Tiongkok

21 September 2026 - 22:45 WIB

Pendukung Mengamuk di PN Tipikor Semarang saat Jaksa Ajukan Tuntutan 8 Tahun dan 6 Bulan terhadap Sudewo

21 September 2026 - 22:25 WIB

Jejak Gatot Heroe Pejabat BC Garong Negara: Simpan Valuta Rp2,8 M di Plafon Rumah Madyopuro Malang

21 September 2026 - 21:03 WIB

Bahlil Siapkan Strategi Olah Batu Bara Jadi BBM

21 September 2026 - 19:21 WIB

Walikota Tebingtinggi Copot 5 Kepsep SDN, karena Tolak Serahkan Proyek Revitalisasi Senilai Rp2,44 M

21 September 2026 - 18:16 WIB

Diduga Gunakan Sistem Ponzi Rekrut 4.000 Jamaah Umrah, PT Annisa Ahmada Wajib Kembalikan Dana Rp120 M

21 September 2026 - 10:36 WIB

100 Tahun Pondok Gontor, KH Abdullah Sahal: Bapak Presiden, Kami Tetap Memilih Pendidikan!

20 September 2026 - 23:48 WIB

AI Menghabiskan Miliaran Air dan Listrisk Setara Jepang

20 September 2026 - 17:56 WIB

Trending di Nasional