Penulis: Yolis Andi Purnomo | Editor: Priyo Suwanro
PROBOLOINGGO, SWARAJONANG.COM – Sebuah inisiatif lintas agama berlangsung tanpa banyak sorotan publik, namun penuh makna. Di wilayah hutan Kabupaten Probolinggo, tepatnya di Desa Brabe, Kecamatan Maron, sebanyak 1.000 pohon pisang raja mulai ditanam untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus mempererat persaudaraan antar umat beragama.
Penanaman dimulai dengan simbolisasi berupa penanaman sembilan bibit di sembilan titik berbeda dalam hutan yang sulit diakses, 28 km dari pusat kota Kraksaan, pada Sabtu, 15 November 2025. Acara ini dibuka dengan lagu Indonesia Raya dan doa bersama yang dipimpin oleh tiga pemuka agama setempat, menandai semangat kebangsaan dan toleransi yang begitu kental.
Kehadiran tokoh lintas iman memperkuat makna kegiatan ini, mulai dari Kyai Misnaji (PCNU Kota Kraksaan), Ustadz Cung Asy’ari (MWC NU Kecamatan Maron), Zen Ubaidillah (PC GP Ansor Kota Kraksaan), pendeta dari Gereja Katolik St Paulus, hingga Pendeta Yosephine dari Gereja Kristen Jawa Wetan. Kerja sama ini diprakarsai GP Ansor bersama komunitas umat Katolik dan GKJW, memanfaatkan lahan waqaf milik MWC NU Maron.
Menurut Zen Ubaidillah, kegiatan bertajuk “Dialog Karya Penanaman 1000 Pohon Pisang” ini bukan sekadar aksi lingkungan, tetapi juga bentuk nyata toleransi antar pemeluk agama dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kyai Misnaji dan Ustadz Cung Asy’ari memberi dukungan penuh atas inisiatif ini, mengapresiasi peran GP Ansor dalam mengelola potensi anggota demi kemandirian organisasi dan persatuan bangsa.
Sentuhan internasional melengkapi kisah ini. Rm. Fadjar Tedjo Soekarno dari Gereja Katolik St Paulus menjelaskan bahwa gagasan ini lahir dari persahabatan dengan Addin Jauharudin, Ketua GP Ansor, yang terbina sejak pertemuan pemuda lintas iman dengan Paus Fransiskus di Vatikan tahun 2024.
Mereka membawa semangat perdamaian dan persaudaraan seperti termaktub dalam Dokumen Abu Dhabi dan pesan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia 2025, yang mengajak umat beragama bergerak bersama dalam semangat solidaritas dan pelayanan masyarakat.
Pendeta Yosephine menegaskan, walau umat kristiani kadang merasa canggung bertemu lintas agama, justru interaksi seperti kegiatan penanaman ini membangun kedekatan dan persaudaraan yang lebih nyata. Kerja bakti bersama sebelumnya pada 25 Oktober 2025 dalam membersihkan lahan pemakaman adalah awal dari hubungan harmonis yang kemudian memunculkan ide penanaman ini.
Kegiatan penanaman pisang raja ini bukan hanya soal menanam pohon, tetapi simbol kehidupan bersama dalam kebhinekaan yang merawat bumi, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus menguatkan tali persaudaraan lintas iman yang seharusnya menjadi fondasi kesejahteraan bersama. **











