Penulis: Satwiko Rumekso | Editor: Yobie Hadiwijaya
SURABAYA, SWARAJOMBANG.COM-Leak adalah salah satu unsur paling misterius dan kompleks dalam tradisi spiritual dan kepercayaan masyarakat Bali. Dalam pengertian umum, merujuk pada sosok makhluk supranatural atau roh jahat yang dipercaya memiliki kekuatan magis tinggi dan kemampuan untuk berubah bentuk, terbang di malam hari, serta melakukan praktik-praktik ilmu hitam.
Namun, membatasi Leak hanya sebagai “makhluk jahat” tentu saja menyederhanakan kedalaman makna dan fungsinya dalam kosmologi Bali. Untuk memahami secara utuh, kita perlu menggali lebih dalam ke dalam konteks budaya, spiritual, dan filosofis yang melingkupinya.
Dalam ajaran Hindu Bali, kehidupan dipandang sebagai bagian dari keseimbangan antara kekuatan baik (dharma) dan kekuatan buruk (adharma). Keseimbangan inilah yang menjadi dasar filosofi rwa bhineda, yakni konsep dualitas yang mengakui bahwa segala hal di dunia memiliki pasangan atau lawannya. Leak hadir sebagai bagian dari kekuatan adharma, namun keberadaannya justru dianggap penting untuk menjaga keseimbangan kosmis.
Leak diyakini merupakan hasil dari praktik ilmu gaib tingkat tinggi yang disebut pangleakan. Mereka yang mempelajari dan menguasai ilmu ini disebut sebagai pengleak, dan biasanya diasosiasikan dengan individu yang ingin memperoleh kekuatan supranatural untuk berbagai tujuan, mulai dari melindungi diri hingga mencelakai orang lain.
Namun tidak semua pengleak dianggap jahat; ada pula yang memanfaatkan ilmu tersebut untuk kepentingan spiritual atau pengobatan, meski praktiknya sangat tertutup dan bersifat esoterik.
Wujud Leak
Dipercaya memiliki kemampuan untuk berubah bentuk (metamorfosis), terutama saat malam hari. Dalam banyak kisah rakyat dan penuturan masyarakat lokal, Leak bisa menjelma menjadi binatang seperti burung hantu, babi hutan, kera, anjing, atau bahkan bola api yang beterbangan di langit malam.
Namun, wujudnya yang paling terkenal dan sering digambarkan dalam seni pertunjukan maupun topeng adalah wujud yang menyeramkan: kepala manusia dengan rambut panjang menjuntai, mata melotot, lidah menjulur panjang, dan terkadang dengan organ tubuh yang terlepas dari badan.
Wujud ini sebenarnya bukan semata hasil imajinasi horor, melainkan simbolisasi dari energi tak terkendali, kekuatan destruktif, dan sisi gelap manusia yang belum “disucikan”. Oleh karena itu, dalam banyak upacara seperti Calon Arang dan pertunjukan Wayang Wong, wujudnya yang menyeramkan bukan hanya berfungsi untuk menakut-nakuti, tetapi juga menjadi sarana meditasi visual terhadap kekuatan alam semesta yang liar dan tidak bisa dikendalikan.
Cerita-cerita tentang Leak telah menjadi bagian dari tradisi lisan masyarakat selama berabad-abad. Sejak kecil, anak-anak sering mendengar kisah tentang keberadaannya yang berkeliaran di malam hari, mencari korban untuk menghisap darah atau mencuri bagian tubuh manusia. Meski terdengar menyeramkan, kisah-kisah ini juga mengandung nilai moral dan edukasi spiritual: berhati-hatilah dalam bersikap, jagalah pikiran agar tidak dikuasai amarah dan iri hati, serta waspadai sisi gelap dalam diri sendiri.
Di beberapa daerah, terutama yang masih sangat memegang teguh adat dan tradisi, keberadaan Leak masih diyakini secara kuat. Terkadang, saat seseorang sakit keras tanpa sebab yang jelas, atau ketika terjadi konflik sosial yang pelik, masyarakat akan mengaitkannya dengan ulahnya. Para balian (dukun atau tabib tradisional) akan dipanggil untuk melakukan ritual pembersihan, dan dalam kasus-kasus tertentu, pengakuan atau pengusiran Leak bisa menjadi bagian dari penyelesaian konflik.
Leak dalam mitologi Bali adalah jelmaan manusia yang menguasai sebuah ilmu bernama Aji Pengeleakan. Pengamal ilmu tersebut dapat mengubah wujudnya menjadi berbagai bentuk seperti menjadi sosok Rangda (ratu dari para leak dalam mitologi Bali), bade (tempat mayat/tulang manusia saat ngaben), paga (keranda dari ulatan bambu kadang beserta petinya), binatang, maupun sinar yang berwarna merah, kuning, hijau, dan sebagainya tergantung tingkat kesaktian level dalam ilmu tersebut.
Ilmu leak digunakan untuk tameng badan maupun untuk menyerang musuh-musuh pada zaman dahulu kala, dan juga karena orang-orang yang menguasai ilmu leak ditambah dengan menguasai ilmu-ilmu santet, pengasih, penunduk, pembungkam, sirep, ilmu pelet, ilmu cetik atau racun, akhirnya ilmu pengeleakan menjadi sebuah momok yang mengerikan dan jahat. Leak hanya bisa dilihat di hari sandikala (menjelang Magrib sampai malam hari) oleh orang-orang yang memiliki kepekaan mata batin ataupun para ahli supranatural, sedangkan siang hari orang-orang yang memiliki ilmu leak tetap beraktivitas seperti biasa karena bagaimanapun juga mereka adalah manusia biasa yang mempelajari ilmu leak.
Ilmu Leak (atau Liak) dikenal pula sebagai Ilmu Pengiwa yang berarti “Ilmu Kiri”, adalah salah satu metode meditasi Tantra khas Bali[2] yang sering disalahartikan sebagai ilmu hitam (Aji Wegig). Ilmu Leak di Bali sering kali dikaitkan dengan cerita Calonarang. Masyarakat Bali meyakini kalau kata Leak berasal dari kata lina aksara yang berarti “hilangnya aksara”, kemudian lima aksara atau panca aksara. Dengan demikian Ilmu Leak sejatinya adalah ilmu Aksara, yang mana Aksara merupakan salah satu komponen penting dalam Tantra.[2]
Leak di Bali kerap diidentikkan dengan perilaku jahat para penganut ajaran kiri atau pengiwa yakni berupa kepala manusia dengan organ-organ yang masih menggantung di kepala tersebut. Leak dikatakan dapat terbang untuk mencari wanita hamil, untuk kemudian mengisap darah bayi yang masih di kandungan. Ada tiga leak yang terkenal. Dua di antaranya perempuan dan satu laki-laki.
Menurut kepercayaan orang Bali, ngeleak adalah manusia biasa yang mempraktikkan sihir jahat dan membutuhkan darah embrio agar dapat hidup. Dikatakan juga bahwa leak dapat mengubah diri menjadi babi atau bola api, sedangkan bentuk leak yang sesungguhnya memiliki lidah yang panjang dan gigi yang tajam. Beberapa orang mengatakan bahwa sihir leak hanya berfungsi di pulau Bali, sehingga leak hanya ditemukan di Bali.
Ada seseorang menusuk leher leak dari bawah ke arah kepala pada saat kepalanya terpisah dari tubuhnya, maka leak tidak dapat bersatu kembali dengan tubuhnya. Jika kepala tersebut terpisah pada jangka waktu tertentu, maka Leak akan mati. Dalam lontar Durganing Purwa dinyatakan bahwa terdapat sekitar 35 jenis leak, di antaranya leak pemoroan, leak nengkleng, leak ugig yang semuanya berkonotasi tentang keburukan di penganut ilmu leak itu.***











