Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga
SURABAYA, SWARAJOMBANG.COM– Malam itu, jalanan Kampung Bangunrejo, Surabaya, berubah menjadi panggung perenungan. Tanpa batas dengan penonton, monolog Sangkan Paran digelar dalam rangkaian Mbangunredjo Art Festival (MBAF) 2025.
Pertunjukan ini mengalir penuh emosi, mengajak penonton menyelami kisah tentang hidup, kehilangan, dan harapan.
Seorang perempuan tampil dengan tubuh penuh luka, menanggalkan gaun bahagia, mencabik pelepah pisang hingga habis, lalu menyalakan obor yang menyala di tengah gelap.
Ia bukan sekadar aktor, melainkan suara kolektif dari sebuah kampung yang pernah dibayangi stigma lokalisasi.
MBAF 2025 sendiri menjadi momentum penting. Festival tahunan yang kini memasuki edisi ke-12 ini lahir dari semangat warga eks-lokalisasi
Bangunrejo untuk menanggalkan masa kelamnya. Dari gerakan ini berdiri Sanggar Seni Omah Ndhuwur, yang memandang seni bukan sekadar ekspresi, melainkan jalan perubahan sosial.
Monolog Sangkan Paran, yang dipentaskan Minggu malam (28/9), menjadi sorotan utama. Dibawakan oleh Wijayani Rahayu Ningsih dengan arahan sutradara sekaligus penulis naskah Abdoel Semute, pertunjukan ini memadukan simbol, filosofi, dan rasa dalam sebuah kisah batin seorang perempuan yang bergulat dengan kehilangan.

Simbol-simbol kuat hadir di sepanjang pementasan. Pelepah pisang yang dicabik hingga habis melambangkan rapuhnya manusia; obor menyala di tengah gelap merepresentasikan api kehidupan yang harus dijaga; sementara kursi tunggal yang ditinggikan menggambarkan kesendirian dan keterasingan, sekaligus pilihan untuk tetap tegak di persimpangan nasib.
Semua itu berpadu dengan konsep Jawa Sedulur Papat Limo Pancer, yang mengajarkan bahwa manusia tidak pernah lahir sendirian ditemani kakang kawah, adi ari-ari, getih, dan puser, yang bersama pancer (diri manusia) menjadi kesatuan hidup.
Dalam tafsir ini, simbol pementasan merepresentasikan ikatan kosmis manusia dengan asal-usul dan perjalanan hidupnya.
“Lewat pertunjukan ini kami ingin menunjukkan bahwa seni bukan sekadar tontonan, tetapi juga sarana penyembuhan.” ujar Abdoel Semute, pendiri Sanggar Seni Omah Ndhuwur.
Harapan Cak Semute adalah MBAF bisa menghapus stigma dan diskriminasi terhadap perempuan dan anak-anak yang dulu menjadi korban bayang-bayang lokalisasi dengan seni.
“Seni adalah cara kami melawan sekaligus menyembuhkan,” tegasnya
Selain monolog ini, puncak MBAF akan digelar pada 25–26 Oktober 2025 dengan menampilkan kirab budaya, pentas tari, musik modern dan tradisi, serta seni ludruk, Reog Ponorogo, dan Dongkrek.
Dengan atmosfer intim yang menyatu dengan penonton, Sangkan Paran menjelma bukan sekadar pertunjukan, melainkan pengalaman batin bersama sebuah ruang tafsir tentang
perjalanan manusia dari kehidupan hingga kematian, dari luka hingga harapan.
MBAF 2025 sekali lagi menegaskan, seni dapat menjadi jembatan yang menghubungkan ingatan kolektif, luka, dan keberanian, sekaligus membuka jalan menuju ruang hidup yang lebih manusiawi.****











