Penulis: Wibisono | Editor: Priyo Suwarno
JOMBANG, SWARAJOMBANNG.COM Plengsengan sekunder Gude milik BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) Brantas mengalami ambrol lagi, menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengguna jalan, awal April 2025.
Plengsengan Gude baru saja dibangun tahun 2024, rampung awal 2025, tetapi saat sudah ambrol lagi mengalami ambrol adalah sekitar 20 meter, demikian akun Instgaram@wargajombang, mengunggah video plengsengan yang ambrol itu, Sabtu 5 April 2025.
Pembangunan proyek ini menelan anggaran sekitar Rp 59,6 miliar dan baru saja selesai dikerjakan, namun kini mengalami kerusakan yang signifikan, ambrol sekitar 20 meter, di desa Pesantren, kecamatan Tembelang, Jombang, jalur utama ke arah Gudo, Jombang.
Istilah sekuder Gude ini merujuk pada saluran sekunder yang berada di daerah Gude, yang merupakan bagian dari sistem pengelolaan sumber daya air.
Saluran sekunder ini berfungsi untuk mengalirkan air dari saluran utama ke area yang lebih kecil, seperti lahan pertanian atau pemukiman. Untuk istilah “sekunder” menunjukkan bahwa saluran ini adalah bagian dari jaringan yang lebih besar, yang biasanya mencakup saluran primer dan tertier.
Kondisi plengsengan yang ambrol ini terletak di Desa Pesantren, Kecamatan Tembelang, Jombang, dengan panjang ambrol mencapai hampir tiga meter. Kerusakan ini juga mengancam bahu jalan provinsi yang berdekatan.
Pejabat dari Dinas PU Bina Marga Jatim menyatakan kerusakan terjadi, hal tersebut bukan merupakan kewenangan mereka dan akan dilaporkan kepada pihak BBWS untuk ditindaklanjuti.
Sebelumnya, kerusakan serupa juga dilaporkan terjadi di lokasi lain yang dikelola oleh BBWS Brantas, menunjukkan adanya masalah berkelanjutan terkait kualitas konstruksi dan pemeliharaan proyek-proyek infrastruktur di daerah tersebut.
Penanggung jawab proyek plengsengan sekunder Gude milik BBWS Brantas adalah Hanif Jatmiko, kontraktor pelaksana dari PT Tiara Multi Teknik. Proyek ini merupakan bagian dari rehabilitasi jaringan irigasi yang anggaran sebesar Rp 59,6 miliar.
Hanif Jatmiko telah mengonfirmasi ada kerusakan pada proyek tersebut dan menyebutkan bahwa kerusakan disebabkan oleh faktor alam, khususnya kondisi air yang tinggi saat malam pergantian tahun. **