Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
SWARA JOMBANG. — Pada tahun film klasik Griffith muncul, seorang yang rasis mencium adanya angin reaksi lalu melawan pengaruh-pengaruh aneh itu lalu memutuskan menjadi Jenderal Forrest kedua demi kepentingan masyarakat Selatan Lama.
William Joseph Simmons dari Alabama, yang pernah menjadi tentara dan menteri serta pedagang kaos kaki menjadi seorang penggabung kenamaan.
Dia menjadi anggota dari sekitar lima belas organisasi persaudaraan, termasuk Masons. ‘Saya percaya pada orde-orde persaudaraan dan relasi antarmanusianya,’ ujarnya, ‘dalam persaudaraan sebagai bangsa.’
Atas nama persaudaraan rakyat Amerika Protestan kulit putih melawan meningkatnya kalangan kulit berwarna dan Katolik serta Yahudi dan kaum imigran dari Eropa Selatan, Simmon pun melakukan aksinya.
Pada suatu malam pada tahun 1915, bersama lima belas pengikutnya, dia mendaki puncak Gunung Stone dekat Atlanta; membakar salib yang dilukiskan sedang marah di samping altar batu kasar tempat diletakan bendera Amerika, Alkitab terbuka, sebuah pedang serta sebuah botol air yang diyakini dari sungai suci.
Di sanalah, Simmons memaklumkan diri sebagai Grand Wizzard dari Ku Klux Klan yang kembali bangkit dan menerapkan sumpah bersatu atas para muridnya yang berlutut, yang diangkat sebagai Knight (Ksatria) dari Kekaisaran Yang Tidak Terlihat yang baru.
Namun Simmons gagal sebagai organisatoris dan pedagang; Kaisar di Eropa nampak lebih sebagai musuh penting dibanding sebagai mahluk asing di negeri sendiri.
Simon nyaring menghancurkan dirinya ketika menarik perhatian beberapa ribu anggota untuk mengawali kebangkitan Klan. Tetapi ketika dia berada pada titik kehancuran, dia menemui dua pedagang kebencian yang paling berhasil.
Edward Young Clark dan istri simpanannya, Elizabeth Tyler, yang mengelola sebuah bisnis hubungan masyarakat dan promosi bernama Southern Publicity Association.
Mereka mengumpulkan dana bagi Young Men’s Christian Association (Asosiasi Anak Muda Kristen) serta Salvation Army (Bala Keselamatan); namun menetapkan bahwa keuntungan sikap fanatic mungkin jauh melebihi keuntungan dari kelompok persaudaraan.
Ketika bertemu Simmons pada tahun 1920, Clarke pun menandatangani kontrak dan berdasarkan kontrak itu pula, Sang Grand Wizzard tetap menjadi figur kebangkitan Klan, sementara Clarke-Tyler turut terlibat melakukan perekrutan anggota baru dan mengeruk dompet dari Knights of the Invincible Empire (Ksatria Kekaisaran Yang Tak Terlihat).
Bersamaan dengan penjualan tergesa-gesa pakaian para anggota persaudaraan Klan yang gelisah bagai bendera Amerika selama Perang Dunia I, jumlah keanggotaan Klan pun meledak berkembang.
Jika sebelum 1921, dia hanya beranggotakan 100.000 orang, jumlahnya meningkat menjadi sekitar 4 juta anggota pada masa tiga tahun berikutnya.
Gerakan itu memanfaatkan ketakutan khayalan yang melanda kota-kota kecil Selatan dan Barat sehingga bisa mendapatkan pengikut di pedesaan Utara.
Keberhasilan terpenting perekrutan Klan, yang pernah disaksikan Clarke dan Tyler dijadikan metode memperdayai orang picik yang menghamba pada kaum berada untuk bergabung dalam persaudaraan mengubah tujuan Klan.
Dari lembaga pengumpulan dana, ia berubah menjadi kekuatan politis dalam banyak negara bagian dan dalam partai Demokrat.
Ketika anggotanya berjumlah jutaan, organisasi itu diubah menjadi ancaman nasional terhadap demokrasi, sementara Klan pertama hanya melakukan tindakan subversif terhadap pemerintahan popular di Selatan.
Klan kedua membuatnya tidak banyak berarti, jika sebuah kelompok pemberontak yang secara politis dipimpin oleh dokter gigi bodoh, Hiram Wesley Evans, tidak merebut kekuasaan atas masyarakat rahasia.
Simmons pun kala itu diangkat sebagai sekretaris nasional, atau Imperial Kligrapp orde itu. Meski demikian, Evans mendapat cukup banyak dukungan dari antara para pemimpin Klan sehingga Simmons tidak punya kekuasaan sama sekali.
Ia sekadar Kaisar Klan. Sekaligus sebagai salah satu cara untuk mendorong keluar Clarke dan Tyler dari kekuasaan mereka.
Bagaimanapun, kedua orang itu ditemukan separuh telanjang dan mabuk bersama sehingga dituduh berperilaku tidak senonoh.
Evans mengorganisasikan Klan sebagai kelompok kekuatan politis di dalam Partai Demokrat Selatan.
Para calon Klan meraih kursi Senat Amerika Serikat serta jabatan gubernur beberapa negara bagian. (Bersambung).











