Penulis: Tanasyafira Libas Tirani. | Editor: Priyo Suwarno
JAKARTA, SWARAJOMBANG— Memperingatan Hari Kesaktian Pancasila ini, lahir sebuah karya musik yang sederhana namun megah: lagu “Pancasila”, 1 Oktober 2026.
Bukan sekadar nyanyian baru, melainkan upaya merawat kembali jiwa bangsa melalui bahasa yang dipahami semua generasi — musik.
Lagu ini lahir dari kerja sama tiga nama yang saling melengkapi: Olivia Zalianty sebagai produser, KGPH Ndaru Kusumo yang menciptakan dan mengaransemen musik, serta Isyana Sarasvati yang menyanyikannya.
Meluncur tepat pada 1 Oktober, karya ini mendapat dukungan resmi dari Kementerian Kebudayaan dan kini dapat didengarkan secara luas melalui YouTube.
Yang membuat lagu ini istimewa adalah liriknya — sepenuhnya diambil dari kelima sila Pancasila, tanpa tambahan kata-kata lain.
“Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.”
Lima kalimat yang sudah kita kenal sejak kecil, kini diaransemen dengan nuansa khidmat yang memadukan keindahan musik orkestra dan kelembutan unsur gamelan. Durasinya hanya sekitar 2 menit 42 detik, namun maknanya meresap dalam-dalam.
“Pancasila adalah fondasi yang menyatukan keberagaman Indonesia. Setiap sila memiliki warna musikalnya sendiri, namun semuanya mengalir dalam satu kesatuan.”
— KGPH Ndaru Kusumo, pencipta lagu
Bagi Isyana Sarasvati, menyanyikannya bukan sekadar tugas seni, melainkan penghormatan pribadi: “Saya tumbuh dengan pemahaman bahwa Pancasila adalah rumah bersama kita. Semoga lagu ini bisa menjadi pengingat bahwa persatuan adalah kekuatan kita.”
Sementara itu, Olivia Zalianty — yang dikenal aktif mengangkat sejarah bangsa melalui panggung — menegaskan maksud di balik karya ini:
“Kami ingin Pancasila bukan sekadar tertulis di dinding sekolah atau dibacakan pada upacara. Kami ingin nilai ini hidup, didengar, dirasakan, dan diamalkan sehari-hari — terutama oleh generasi muda.”
Lagu ini bukan karya tunggal. Ia menjadi kelanjutan dari semangat kebangsaan yang ditampilkan dalam orkestrasi “Meradjoet Sendja” di Gedung Kesenian Jakarta bulan Agustus lalu, sebuah pertunjukan yang merajut musik, teater, dan gagasan para pendiri bangsa menjadi satu panggung kenangan.
Di tengah perbedaan yang kadang memisahkan kita, lagu ini hadir sebagai pengingat lembut: Pancasila bukan warisan yang tertinggal di masa lalu. Ia adalah rumah yang selalu terbuka, tempat kita pulang, bersama-sama.
“Nilai-nilai Pancasila bukan sesuatu yang jauh, melainkan dekat dan hidup.”
Lagu “Pancasila” kini telah tersedia untuk didengarkan dan dinyanyikan kembali — bukan sebagai kewajiban, melainkan sebagai keinginan untuk kembali merawat persatuan.**











