Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya
JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM-Laporan terbaru The Wealth Report 2026 yang dirilis oleh konsultan properti global Knight Frank menegaskan dominasi kekuatan ekonomi baru di Asia Tenggara.
Indonesia resmi menempati peringkat ke-2 di Asia Tenggara dalam hal jumlah populasi orang ultra-kaya (Ultra-High-Net-Worth Individuals/UHNWI), tepat berada di bawah Singapura.
Tercatat, sebanyak 3.833 orang Indonesia masuk dalam kelompok super-kaya ini dengan kepemilikan kekayaan bersih minimal US$30 juta atau sekitar Rp553 miliar per individu.
Tidak hanya unggul dari segi kuantitas absolut di tingkat regional, Indonesia bahkan dinobatkan sebagai negara dengan laju pertumbuhan orang super-kaya tercepat di dunia.
Knight Frank memproyeksikan populasi UHNWI di Indonesia akan melesat hingga 81,7% dalam lima tahun ke depan, menyentuh angka 6.966 orang pada tahun 2031. Laju pertumbuhan eksponensial ini sukses melampaui kecepatan akumulasi kekayaan di negara-negara besar lain seperti Arab Saudi, Polandia, hingga Amerika Serikat.
Melonjaknya jumlah kaum ultra-kaya di tanah air berbanding lurus dengan cengkeraman para taipan Indonesia yang mendominasi panggung miliarder ASEAN.
Berdasarkan data Forbes Real-Time Billionaires, panggung orang terkaya di Asia Tenggara secara konsisten dipimpin oleh konglomerat asal Indonesia. Raja batu bara pendiri Bayan Resources, Low Tuck Kwong, kokoh berada di puncak dengan estimasi kekayaan mencapai US$18,8 miliar.
Posisi papan atas miliarder ASEAN ini juga diramaikan oleh taipan petrokimia dan energi hijau Prajogo Pangestu (Barito Pacific) dengan kekayaan US$17,2 miliar, serta duo bersaudara pemilik PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan Djarum Group, Robert Budi Hartono dan keluarga.
Kehadiran para raksasa bisnis ini membuktikan bahwa roda perekonomian domestik Indonesia, mulai dari sektor komoditas, infrastruktur digital, hingga industri perbankan, terus bergerak menjadi mesin pencetak kekayaan yang sangat masif di kawasan Asia.****











