Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
SWARAJOMBANG.COM— Sikap kejam yang nampak dalam berbagai perang koloni Amerika melawan suku-suku Indian diteruskan kepada para penemu Eropa yang bergerak menuju Lautan Pasifik.
Bagi mereka, bangsa Indian nampak sangat berbahaya serta menentang semua pemerintah karena bebas menentang, khususnya pemerintah mereka sendiri.
“Bangsa Indian tidak berutang budi kepada siapapun, selain pada suku mereka sendirinya,” sejarahwan sosial Perancis de Toqueville menulis, “Kebajikan, kekurangan dan prasangkanya merupakan karya mereka sendiri; tumbuh berkembang dalam kemerdekaan alamnya yang buas.”
Akibatnya, kemerdekaan buas itu berubah menjadi teknik untuk mempertahankan hidup bagi bangsa-bangsa Eropa, yang terpaksa hidup seperti bangsa Indian, bersaing melawan mereka.
Yang paling eksrim dari kenyataan ini adalah jebakan-jebakan yang dikenal sebagai “Orang-orang Gunung” dari Pegunungan-pegunungan Batu. Dengan telanjang mereka hidup dari makan daging mentah tanpa hukum atau suara hati.
Supaya bisa hidup dalam lingkungan mereka, Orang-orang Gunung itu meninggalkan peradaban memasuki kehidupan serigala liar.yang sendirian.
Salah satu dari mereka disebut “Phil Sang Kanibal,” karena dapat bertahan hidup selama musim dingin hanya dengan memakan jasad istrinya. Semua orang Indian makan apa saja yang berjalan, berenang, bergeliang-geliyung serta merangkak.”
Bagai binatang, mereka hidup di antara masa paceklik dan pesta, menenggak darah kerbau dan makan hatinya yang mentah serta membumbuinya dengan kantung empedu.
Masa penjualan tahunan kulit beruang mereka merupakan masa untuk bermabuk-mabukan, pesta seks serta pembunuhan dan buang-buang waktu.
Sedangkan masa sisa tahun selanjutnya merupakan kehidupan ala binatang di gunung-gunung yang membuat manusia lupa bahwa hidup lebih dari sekedar bertahan hidup.
Individualisme ekstrim itu tidak menjadi masalah bagi para perintis. Sebaliknya, ia benar-benar mendorong mereka menuju kehidupan tanpa hukum.
Mereka bepergian ke barat dalam gerbong-gerbong kereta api yang menjadi kota sementara di atas roda, hutan-hutan dan reremputran merah prairie serta perbukitan serta kawasan semi gurun.
Seperti diakui keluarga Abe Lincoln di Illinois, “Kami hidup sama seperti bangsa Indian, kami pun memperoleh keuntungan dalam bidang politik dan agama jika ada.” Di Kanada, Earl dari kawasan Selkirk mulai membuka pemukiman di kawasan luas yang terkenal dengan nama Rupert Land pada 1811.
Ia pun mengirim para emigran orang-orang Skotlandia menuju tepian Sungai Red River agar bisa menciptakan oase hukum dan perdagangan di hutan-hutan belantara.
Persaingan pahit atas perdagangan buluh binatang dibangun dengan menggabungkan Montreal North West Company dan British Hudsons Bay Company. Meski demikian, selama beberapa dekade, Red River tetap sebagai satu-satunya pemukiman dalam sebuah kawasan berhutan lebat dan menjadi fokus kerusuhan di kawasan barat.
Sebelum Kanada memperoleh status dominion, dua pemberontakan meletus di koloni Kanada Atas dan Bawah.
Kedua pemberontahan dilancarkan oleh Kaum Patriot di bawah pimpinan Louis Papineau dan para pendukung William Lyon Mackenszie berakhir dengan pembakaran kapal uap Caroline yang tengah berlayar menuju Air Terjun Niagara.
Akibat insiden itu kedua pemimpin pemberontak melarikan diri ke Amerika. Di kawasan selatan perbatasan, tempat Amerika Setikat mendapatkan kawasan baratdaya, Perang Meksiko dilancarkan.
Keberhasilan ini diraih dengan pendekatan yang terkenal dengan satu tangan memegang bayonet dan tangan lainnya memegang selembar uang satu dollar. (Bersambung)











