Menu

Mode Gelap

Nasional

AI Menghabiskan Miliaran Air dan Listrisk Setara Jepang

badge-check


					Rakus Listrik dan air Perbesar

Rakus Listrik dan air

Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya

JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM-Lampu indikator biru pada peladen (server) di sebuah pusat data (data center) raksasa berkedip tanpa suara. Di layar komputer Anda, sebuah instruksi (prompt) sederhana dikirimkan: “Tolong buatkan lukisan digital dengan nuansa era 80-an.” Hanya dalam hitungan detik, gambar estetik nan memukau tersaji di layar. Sempurna, instan, dan tampak magis.

Namun, di balik layar digital yang bersih itu, ada harga alam yang harus dibayar mahal. Setiap kali kecerdasan buatan (AI) berpikir, melahirkan kata, atau menyusun piksel gambar, sebuah mesin superkomputer di belahan dunia lain sedang bekerja keras hingga memancarkan panas ekstrem.

Untuk mendinginkannya, miliaran liter air tawar harus terus dialirkan, ditemani oleh pasokan listrik raksasa yang menyala tanpa jeda. Kini, janji masa depan digital yang serba mudah mulai membayangi batas daya dukung Bumi.

Skala konsumsi energi oleh ekosistem AI global saat ini telah mencapai level yang mencengangkan. Menurut riset terbaru dari lembaga keuangan global Goldman Sachs, lonjakan konsumsi listrik untuk mengoperasikan AI saat ini diibaratkan seperti “membangun satu negara Jepang baru” di dalam peta ketenagalistrikan global.

Jika seluruh pusat data AI di dunia digabungkan menjadi sebuah negara, konsumsi energinya diproyeksikan segera menembus 945 hingga 1.050 Terawatt-hour (TWh). Angka ini tidak hanya menyamai total konsumsi listrik tahunan Negara Jepang—salah satu raksasa ekonomi dengan industri paling padat di dunia—tetapi juga menempatkan jaringan AI global sebagai konsumen energi terbesar kelima di planet ini.

Bukan hanya listrik yang terkuras. Rasa haus teknologi ini menjalar ke sektor air bersih. Laporan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui United Nations University (UNU-INWEH) mengungkap fakta yang menggetarkan: jejak air tahunan yang dibutuhkan untuk mendinginkan pusat data AI diproyeksikan mencapai 9,3 triliun liter.

Volume air tawar sebanyak itu setara dengan kebutuhan air domestik dasar bagi 1,3 miliar penduduk di seluruh wilayah Afrika Sub-Sahara selama satu tahun penuh.

Setiap satu gambar estetis yang dihasilkan oleh generator AI, tanpa kita sadari, mengonsumsi sekitar 1,2 Watt-hour listrik dan menelan 2 sendok makan air bersih untuk sistem pendinginan peladennya.

Peringatan dari Pemerintah
Kondisi ini memicu kekhawatiran mendalam di tingkat pembuat kebijakan dan pakar lingkungan. Di Indonesia, Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH), Diaz Hendropriyono, secara terbuka menyoroti ancaman nyata ini terhadap target pelestarian lingkungan nasional.

“Perkembangan AI yang semakin canggih ini membawa tantangan baru bagi upaya pengurangan emisi karbon. Kebutuhan energinya yang sangat masif berpotensi mengacaukan rencana dekarbonisasi kita, karena sebagian besar pasokan listrik untuk pusat data global nyatanya masih ditopang oleh pembangkit berbahan bakar fosil,” ujar Diaz dalam sebuah forum lingkungan.

Dari sudut pandang akademisi, Professor Li Zhou, Peneliti Keberlanjutan Teknologi di Universitas Tokyo, menambahkan bahwa efisiensi cip saat ini belum mampu mengimbangi ledakan data.

“Kita sedang berlomba dengan waktu. Jika arsitektur komputasi kita tidak segera dirombak menjadi jauh lebih hemat daya, pasokan listrik di kota-kota besar Asia dan Eropa akan tersedot secara masif hanya untuk menghidupkan pusat data digital,” ungkap Zhou.

Hal senada juga diungkapkan oleh John Payne dari UNESCO, yang terlibat dalam kajian dampak air global. Ia mengingatkan bahwa krisis ini bukanlah masalah global yang abstrak, melainkan ancaman lokal yang akut.

“Air murni yang diserap oleh menara pendingin data center menguap begitu saja ke atmosfer demi menjaga temperatur chip komputer. Di wilayah-wilayah yang sudah mengalami krisis air kering, kehadiran pusat data AI raksasa berisiko langsung merebut hak air minum bagi komunitas lokal di sekitarnya,” jelas Payne.

Dari sudut pandang industri pertambangan dan teknologi, Mark Henderson, Direktur Strategi Energi di Konsorsium GridClean, memberikan gambaran mengenai sulitnya pemenuhan pasokan tersebut.

“Raksasa teknologi seperti Microsoft dan Google kini mulai melirik energi nuklir skala kecil untuk menjaga peladen mereka tetap menyala. Ini membuktikan bahwa kapasitas energi surya dan angin yang ada saat ini bahkan tidak akan cukup untuk memuaskan rasa haus energi dari kecerdasan buatan,” tegas Henderson.

Mencari Jalan Keluar dari Labirin Energi
Sektor teknologi tidak tinggal diam melihat ancaman ini. Berbagai raksasa teknologi kini berlomba-lomba memindahkan pusat data mereka ke wilayah beriklim dingin dekat kutub untuk memanfaatkan pendingin udara alami.

Sebagian lainnya mulai beralih menggunakan sistem pendingin lingkaran tertutup (closed-loop cooling) yang tidak membuang air, serta mengamankan pasokan listrik mandiri dari energi nuklir bersih.

Teknologi AI memang memberikan lompatan kecerdasan yang luar biasa bagi peradaban manusia. Namun, jika pertumbuhan ini tidak diimbangi dengan efisiensi energi yang revolusioner, kemudahan digital yang kita nikmati hari ini bisa jadi harus dibayar dengan kekeringan dan krisis energi di dunia nyata.****

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Rudal Houthi Serang Riyadh, Rudal Sasar Bandara King Khaled dan Meledak di Fasilitas Aramco

20 September 2026 - 09:09 WIB

Penelisik Akar Terorisme (58): Pemberontak Chang Hsien-chung Hingga Jejak Perang Salib di Tiongkok

20 September 2026 - 08:35 WIB

Presiden Prabowo Pekikan 3 Kali: Free Palestine, Mau Heboh Terserah! Di Acara 100 Tahun Pondok Modern Gontor

19 September 2026 - 16:19 WIB

Izin Operasional PT Anissa Ahmada Dibekukan,1.900 Jamaan Tuntut Pengembalian Ongkos Haji Total Rp 56 Miliar

19 September 2026 - 15:29 WIB

Saksi Faisyal Assegap Ancam Datangkan Massa ke PN Tipikor, Sidang Gratifikasi Dirjen Djaka Budi

19 September 2026 - 14:45 WIB

SAR Hentikan Operasi Pencarian 5 Jurnalis dan 3 Kru yang Hilang Saat Liputan Erupsi G. Anak Krakatau

19 September 2026 - 12:39 WIB

Heboh, Hellyana Selesai 4 Bulan Jalani Hukuman Langsung Duduk Kembali Jabatan Wagub Babel

19 September 2026 - 11:22 WIB

Akses Penyeberangan Pelabuhan Jangkar-Celukan Bawang Segera Dibuka

18 September 2026 - 20:45 WIB

28 Kepsek SDN di Banyuasin Terkena OTT Polisi Palembang, Sita Rp30,99 Juta.

18 September 2026 - 18:29 WIB

Trending di Nasional