Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
SWARAJOMBANG.COM– Sleeman menuliskan deskripsi mendetil tentang ritual pesta atau Tuponee yang diberikan tiap kali usai melakukan pembunuhan, kadangkala di atas makam korban. Goor atau gula kasar menggantikan komuni roti dan anggur orang Kristen.
Gula ditaruh di atas selimut atau kain, ditebarkan di atas tanah bersih. Di dekatnya ditempatkan beliung yang disucikan dan sepotong perak sebagai persembahan.
Pemimpin kelompok penjahat duduk di atas kain yang ditebarkan, menghadapi ke arah barat, sedang di sekelilingnya duduk berjajar dalam jumlah genap sejumlah pencekik yang lebih terhormat. Anggota kelompok pemujaan lain yang tingkat keahlian mencekiknya kurang, duduk mengitari kain di atas tanah.
Ketua kelompok menuangkan sedikit gula kasar ke lubang sembari berdoa: Mahadewi, sebagaimana kau bersedia menganugerahkan satu lakh (sejenis angka mata Rupee) dan 62 ribu Rupee kepada Joora Naig dan Koduck Bunwari untuk kebutuhan mereka, maka kami berdoa, penuhilah keinginan kami.”
Doa tulus untuk mendapatkan apa yang diminta biasanya jarang diungkapkan, seorang pejudi sekalipun. Kaum Thug lain mengulangi doa, sementara pemimpin mereciki air suci ke dalam lubang dan beliung kemudian membagikan sedikit gula kasar di atas tangan para anggota yang duduk di atas selimut.
Demikianlah pertanda untuk suatu pembunuhan dengan pencekikan simbolik diberikan. Kaum Thug pun kemudian memakan gula kasar dari tangan mereka dalam suasana diam yang agung.
Sisa gula dibagikan kepada peserta sekitarnya. Gula hanya dimakan oleh orang-orang yang benar sudah melakukan pembunuhan. Yang jatuh di tanah dikuburkan dalam lubang.
Jika kebetulan seorang anggota baru memakannya, maka dia pun dipaksa keluar dari upacara serta seorang diri mencekik orang waktu itu juga. Karena dibutuhkan kerahasiaan, kain selalu dibawah untuk digunakan membangun tenda tempat pesta pembunuhan Tuponee dapat dijalankan. Feringheea berbicara tentang dampak luar biasa yang ditimbulkan oleh upacara itu.
“Kami semua kadangkala merasa kasihan, tetapi goor, gula kasar Tuponee mengubah hakikat kami. Ia pun bakal mengubah hakikat kuda. Biarkanlah siapa pun mencicipi goor, maka dia menjadi anggota Thug meski dia mampu melakukan pekerjaan apapun dan kaya raya di dunia.”
“Saya tidak pernah menginginkan makanan; ibu keluarga saya sangat kaya, relasinya sangat bagus di kantor. Saya sendiri menduduki jabatan tinggi di kantor dan menjadi pendukung setia kapan pun saya pergi sehingga yakin mendapatkan promosi jabatan. Namun, saya selalu merasa sial ketika tidak hadir bersama kelompok saya sehingga terpaksa kembali ke Thuggee.:
“Ayah saya menyuruh saya mencicipi goor, gula kasar mematikan itu ketika saya masih anak-anak. Jika saya hidup selama ribuan tahun, maka saya tidak akan pernah mampu menjalani pekerjaan lain apapun.”
Sleeman menegaskan bahwa dia jarang menemukan di antara kaum Thug, Kekejaman tanpa belas kasih, yaitu rasa sakit yang ditimbulkan lebih daripada yang diperlukan untuk mencabut nyawa seseorang— rasa sakit atas pikiran atau badan korban.
Pembunuhan perempuran merupakan pelanggaran aturan yang mereka pertalikan dengan banyaknya keberhasilan kami melawan sistem… tetapi tidak seorang anggota Thug yang diketahui menghina lewat tindakan atau lewat kata-kata kepada wanita yang hendak mereka bunuh.
Tidak ada kelompok penjahat yang pernah berani membunuh wanita yang pantas dicurigai melakukan hubungan seksual yang kejam dengan salah seorang anggotanya. (Bersambung).











