Penulis: Sri Muryanto | Editor: Priyo Suwarno
JAKARTA, SWARAJOMNANG.COM-– Erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung sejak 4 September 2026 dan berstatus Siaga (Level III) telah menyebabkan penyebaran abu vulkanik yang meluas hingga ke wilayah Jabodetabek, Banten, Lampung, dan sebagian Jawa Barat.
Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan aktivitas vulkanik masih tinggi dan tren erupsi belum menunjukkan penurunan.
Masyarakat, khususnya para orang tua, diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kesehatan yang dapat ditimbulkan, terutama bagi anak-anak sebagai kelompok paling rentan.
Abu vulkanik bukanlah debu biasa. Material ini terbentuk dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran sangat halus dengan permukaan tajam dan abrasif.
Ketika terhirup, partikel-partikel ini dapat menggores dan mengiritasi saluran pernapasan. Lebih jauh, abu vulkanik juga mengandung gas-gas iritan seperti sulfur dioksida (SO₂) dan karbon monoksida (CO) yang dapat memperparah iritasi dan memicu peradangan pada sistem pernapasan anak.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio (K), menegaskan bahwa dalam situasi darurat seperti ini, keselamatan dan kesehatan anak harus menjadi prioritas utama di atas segalanya.
“Tidak ada yang lebih berharga daripada nyawa dan masa depan anak-anak kita. Ditengah ancaman abu vulkanik yang nyata, kita wajib mengutamakan perlindungan mereka dengan tindakan preventif yang tegas dan cepat. Jangan menunggu sampai gejala muncul, karena setiap tarikan napas anak kita saat ini adalah investasi untuk kesehatannya di masa depan,” tegas dr. Piprim.
Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi (K), menambahkan bahwa paparan abu vulkanik dapat memicu berbagai gangguan pernapasan akut.
“Gejala yang paling umum adalah iritasi saluran napas yang menyebabkan bersin, batuk, pilek, hingga sesak napas. Pada anak dengan riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis, paparan ini dapat memicu serangan akut atau eksaserbasi yang berbahaya,” jelas dr. Wahyuni.
Anak dengan kondisi tertentu seperti bayi dengan riwayat displasia bronkopulmonal atau anak dengan penyakit jantung bawaan juga masuk dalam kelompok berisiko tinggi
“Kami mengingatkan orang tua untuk tidak menganggap remeh gejala yang muncul. Jika anak mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan pernapasan seperti napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94%, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat,” kata dr Wahyuni.
Mengingat tingginya risiko tersebut, IDAI melalui UKK Respirologi mengeluarkan serangkaian rekomendasi penting bagi orang tua untuk melindungi anak dari paparan abu vulkanik.
Langkah paling ideal adalah mengungsikan anak menjauh dari lokasi terdampak. Jika tidak memungkinkan, upaya terbaik adalah menjaga anak tetap berada di dalam rumah dengan kondisi rumah tertutup rapat untuk mencegah abu masuk.
Orangtua juga diminta untuk memastikan sistem sirkulasi udara di dalam rumah tidak menarik partikel dari luar.
Matikan pendingin ruangan (AC) yang menghisap udara dari luar dan atur ke mode sirkulasi ulang (recirculation). Hindari menyalakan kipas angin, karena dapat meniup kembali partikel abu yang telah mengendap di permukaan furnitur atau lantai, sehingga kembali terhirup oleh anak.
Proses pembersihan rumah dari abu vulkanik juga harus dilakukan dengan hati-hati.
Jauhkan anak dari area yang sedang dibersihkan. Saat membersihkan, usahakan menggunakan lap atau kain basah, atau basahi lantai dan objek yang akan dibersihkan agar debu tidak beterbangan ke udara. Aktivitas menyapu kering justru akan menyebarkan kembali partikel abu yang berbahaya.
Jika terpaksa harus keluar rumah, pastikan anak menggunakan masker khusus anak yang terpasang dengan baik.
Masker ini penting untuk menyaring partikel abu yang masuk ke saluran pernapasan. Selain itu, berikan pelindung mata seperti kacamata untuk mencegah iritasi pada mata yang dapat disebabkan oleh partikel abu yang tajam.
Paparan abu vulkanik tidak hanya berdampak pada saluran pernapasan, tetapi juga dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan mata.
Oleh karena itu, kenakan pakaian tertutup pada anak untuk mengurangi kontak langsung dengan abu. Setelah beraktivitas di luar, pastikan anak membersihkan diri dan mengganti pakaian.
Bagi anak dengan riwayat asma atau alergi saluran napas, pastikan selalu menyiapkan obat-obatan rutin dan obat darurat yang biasa digunakan.
Hindari juga paparan polusi asap tambahan di dalam rumah seperti asap rokok dan asap dapur yang dapat memperburuk kondisi saluran pernapasan anak yang sudah teriritasi.
Pastikan anak cukup minum air putih untuk mencegah dehidrasi, karena kondisi ini dapat memperberat gejala penyakit.
Selain itu, konsumsi makanan bergizi seimbang juga penting untuk menjaga daya tahan tubuh anak di tengah ancaman polusi udara akibat abu vulkanik.
Rekomendasi IDAI
1. Mengungsikan anak menjauhi lokasi yang terkena dampak letusan (paling ideal)
2. Tetap tinggal di dalam rumah dengan kondisi tertutup rapat bila kondisi udara di lingkungan buruk, yaitu lebih dari 100 pada ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara), yang dapat dilihat di situs pemantau kualitas udara.
3..Jauhkan anak saat membersihkan ab
4. Saat membersihkan rumah, jauhkan anak. Jika tidak memungkinkan, gunakan lap atau kain basah, atau basahi lantai/ objek yang hendak dibersihkan dengan air agar debu tidak beterbangan saat dibersihkan dengan kain atau lap
5. Matikan alat yang menghisap udara luar masuk rumah (mis. AC); atur mode air recirculation/closed vent
6. Jangan nyalakan kipas angin karena justru akan meniupkan partikel debu yang sudah mengendap di permukaan furnitur atau lantai ke udara, dan akan terhirup
7. Gunakan masker khusus anak pada anak yang berusia lebih dari 2 tahun dan pastikan terpasang dengan baik; ajarkan cara memakainya.
8. Berikan pelindung mata pada anak, dapat berupa kacamata anak
9.Kenakan pakaian tertutup untuk mengurangi paparan langsung pada kulit sensitif anak
10. Siapkan obat-obatan rutin bila anak punya riwayat asma/alergi saluran napas
11. Hindarkan anak dari polusi asap tambahan di dalam rumah (asap rokok, asap dapur)
12. Pastikan anak cukup minum untuk mencegah dehidrasi
13. Segera datang ke rumah sakit bila terdapat gejala sesak napas yang ditandai dengan laju napas meningkat, ada tarikan dinding dada ke dalam, dan saturasi oksigen di bawah 94% dengan oksimeter jari.**











