Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Priyo Suwarno
TIONGKOK, SWARAJOMBANG.COM— Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebuah perangkat antarmuka otak-komputer (BCI) telah resmi disetujui untuk penggunaan secara komersial di dunia.
Namanya NEO — cip seukuran koin yang memungkinkan orang lumpuh menggerakkan tangan hanya dengan kekuatan pikiran.
Dikembangkan oleh Neuracle Technology Shanghai bersama tim peneliti Universitas Tsinghua, NEO disetujui oleh Badan Pengawas Alat Kesehatan Nasional Tiongkok (NMPA) pada 13 Maret 2026.
Alat ini menjadikan implan otak pertama di dunia yang beralih dari uji coba laboratorium menjadi alat medis yang dapat dibeli dan dipasang secara sah di rumah sakit.
Cara Kerja
Keistimewaan terbesar NEO terletak pada keamanannya. Berbeda dengan proyek Neuralink milik Elon Musk yang menanamkan ribuan elektroda langsung ke dalam jaringan otak, NEO diletakkan di atas dura mater — selaput pelindung terluar otak — tanpa menembus jaringan saraf itu sendiri.
Delapan sensor di permukaannya membaca sinyal listrik otak secara real-time, lalu mengirimkannya ke komputer yang menerjemahkan pikiran menjadi gerakan sarung tangan pneumatik.
Pasien yang selama bertahun-tahun tidak bisa menggenggam benda, kini bisa memegang cangkir, menulis, dan melakukan gerakan dasar lainnya hanya dengan membayangkan melakukannya.
“Pada hari kesembilan latihan, tangan kanan saya berhasil menggenggam bola tanpa bantuan sarung tangan,” ujar salah satu pasien yang telah menerima implan.
Persetujuan ini diberikan untuk pasien usia 18–60 tahun yang mengalami kelumpuhan anggota tubuh akibat cedera tulang belakang bagian leher, namun masih memiliki fungsi otak dan sebagian lengan.
Berapa Harga?
Hingga saat ini, harga resmi perangkat belum dipublikasikan secara terbuka. Namun berbagai sumber memperkirakan total biaya perangkat beserta operasi pemasangannya berkisar 200.000–500.000 RMB (sekitar Rp 440 juta – Rp 1,1 miliar).
Yang paling luar biasa, hanya dalam 48 jam setelah persetujuan diberikan, pemerintah Tiongkok sudah memasukkan NEO ke dalam sistem asuransi kesehatan nasional.
Artinya pasien hanya membayar sebagian kecil, diperkirakan 20–30% dari total biaya, sementara sisanya ditanggung negara.
Ini langkah yang belum pernah dilakukan negara lain untuk teknologi semacam ini. Pemasangan implan komersial pertama dilakukan pada Juli 2026 di sebuah rumah sakit di Shanghai.
Siapa Pengendalinya
Kemajuan ini memicu dua reaksi sekaligus: kekaguman sekaligus kekhawatiran.
Di satu sisi, ini adalah harapan baru bagi jutaan penyandang disabilitas saraf di seluruh dunia.
Di sisi lain, muncul pertanyaan mendasar: siapa yang mengatur teknologi yang menghubungkan pikiran manusia langsung ke komputer?
Jika NEO berkembang dari sekadar menggerakkan tangan menjadi perangkat yang membaca, menyimpan, bahkan mengirimkan isi pikiran — di mana batasannya? Siapa yang menjaga privasi batin seseorang tetap miliknya sendiri?
NEO bukan sekadar cip medis. Ia adalah pintu gerbang menuju masa depan di mana batas antara otak manusia dan mesin mulai menghilang. Pertanyaannya bukan lagi “bisa atau tidak?” — pertanyaannya: “siapa yang memegang kendali atas pikiran kita?”**











