Menu ✖

Mode Gelap

Nasional

Menelisik Akar Terorisme (39): Frankenstein dari Gunung Liar Swiss

badge-check


					Ilustrasi. Foto: ist Perbesar

Ilustrasi. Foto: ist

Penulis: Jacobus E. Lato  |  Editor: Priyo Suwarno

SWARAJOMBANG.COM—  Lewat kesusteraan, teror masa itu diterjemahkan dalam fantasi gaya Gothic. Pada tahun 1816, Mary Shelley menuliskan Frankenstein berkat pengaruh suaminya, Percy Bysshe Shelley serta Lord Byron.

Meski sebuah novel horror, Frankenstein pun sebuah analisis yang menukik terhadap revolusi Akal Budi, tentang konflik antara dorongan Setan untuk mencapai batasan luar kebebasan serta perlunya pengendalian masyarakat.

Sebagai pahlawan, Pangeran Frankenstein sendiri merupakan perpaduan dari Shelley dan Byron yang berupaya mencari asal-usul hidup dan hakikat manusia.

Dia menciptakan patung monster, yang merupakan karikatur keji keinginannya.
Anggota tubuhnya proporsional. Saya pun menilai gambarannya sebagai cantik.

Cantik! Tuhan Yang Agung! Kulit kuningnya tidak sepenuhnya menutupi fungsi otot dan arteri di bawahnya. Rambutnya bergelombang hitam, berurai lepas, giginya putih bak mutiara.

Tetapi kemewahan ini hanya membentuk kontras yang jauh lebih mengerikan dengan matanya yang berair, yang nampak nyaris sama warnanya seperti lekuk mata putih, tempat matanya berada, wajahnya berkerut berpadu dengan bibir hitam yang lurus bergetar.

Sebetulnya, Pangeran Frankenstein menciptakan versi dirinya sendiri yang berubah mengerikan, musuh dari impian dunia batin.

Monster ini meledak marah, walau masih tetap lugu. Karena diciptakan manusia, dia lantas mencari rekan manusia, yang tidak mampu menatap cahaya pandangan matanya.

Berbagai gambaran dirinya yang berubah sebetulnya meramalkan ketakutan-ketakutan mereka. Namun, monster Framkenstein tidak dipilih untuk dihancurkan. Dia memang diiciptakan untuk membenci manusia.

Ketika belakangan berhadapan dengan Pangeran Frankenstein di puncak gunung liar gunung Swiss, sang monster pun dihinggapi rasa marah yang getir, rasa hina akibat rupanya yang buruk.

Bentuk tubuhnya yang buruk namun tidak berbau duniawi nyaris terlampau mengerikan bagi mata manusia. Namun dia secara tepat mengeluhkan masalah ini kepada tuannya: “Ingat, saya ciptaanmu; saya seharusnya menjadi Adam anda. Namun saya lebih sebagai malaekat yang jatuh, yang engkau singkitkan dari kegembiraan walau tidak melakukan kesalahan.

Di mana-mana saya melihat adanya kebahagiaan, namun dari sana saya sendiri dikeluarkan tanpa ada kemampuan untuk menariknya masuk kembali ke sana. Saya sebetulnya murah hati dan baik; penderitaan membuat saya menjadi setan. Buatlah agar saya bahagia. Dengan demikian, saya pun akan kembali baik.”

Monster sebetulnya memperlihatkan kepada kita kasus orang-orang yang mengalami dua penciptaan. Pertama karena penciptaan, dan kedua karena diciptakan oleh masyarakat.

Bagaimana dengan para budak kulit hitam yang kulitnya membuatnya nampak buruk bagi tuan kulit putihnya

dan pekerjaannya di perkebunan-perkebunan Amerika membuatnya menolak hidup berkeluarga? Bagaimana dengan budak tambang atau pabrik baru, yang membuatnya dekil dan rusak karena pekerjaannya dengan upah terlampau rendah bahkan untuk membuatnya sendiri bertahan hidup?

Bagaimana dengan narapidana, yang dikecam karena watak serta kejahatannya untuk menjalani hidupnya dalam sel atau padang gurun Australia?

Monster itu memaksa Pangeran Frankenstein supaya menciptakan sesama monster baginya, atau dia akan menghancurkan mesin pengetahuan yang membuatnya tidak bisa dibentuk dengan bagus.

Jika mendapat sahabat, maka mereka akan pergi ke tempat luas Amerika Selatan tempat binatang buas menjadi satu-satunya rekan mereka. (Bersambung)

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Peringati Hari Jadi ke 116, Bupati Warsubi Ziarah di Makam Pendiri Jombang

22 Oktober 2026 - 13:04 WIB

Prajurit TMMD 130 Jombang Melalui Komsos Membangun Desa Klitih Plandaan

22 Oktober 2026 - 09:48 WIB

Pasar Cukir Jombang Terbakar, Sebanyak 54 Kios Pakaian Ludes

22 Oktober 2026 - 07:39 WIB

Kasus Keracunan Pindah ke Bogor setelah Cirebon, 103 Siswa Cisarua Dirawat ke Rumah Sakit

21 Oktober 2026 - 22:39 WIB

Hanya 5 Jam Polisi Perak Ringkus Pelaku Pencuri Motor di Musala Glagahan

21 Oktober 2026 - 19:38 WIB

Daging Ayam Rp50.000, Cabai Rawit Melambung Rp150.000 per Kg

21 Oktober 2026 - 19:37 WIB

Destry Damayanti: DP 0% untuk Semua Jenis Rumah

21 Oktober 2026 - 19:21 WIB

KM Batumandi Terbakar di Selat Sunda, SAR Gabungan Berhasil Evekuasi 460 Penumpang dan Kru

21 Oktober 2026 - 17:07 WIB

2026 PAD Mencapai 77,69 %, Sholahuddin: Mengarah Jombang Mandiri Anggaran

21 Oktober 2026 - 14:09 WIB

Trending di Nasional