Penulid: Sri Muryanto | Editor: Priyo suwarno.
SUMBAWA BARAT, SWARAJOMBANG.COM — Memperingati Hari Penyu Laut Dunia 2026, Pantai Mawil kembali menjadi pusat kegiatan pelestarian alam melalui penyelenggaraan Tour de Mawil‑4, berlangsung meriah selama 13 – 16 Juni 2026 di Sumbawa Barat.
Kegiatan ini diikuti 50 peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, komunitas penyelam, pemerhati lingkungan, pelaku usaha, hingga warga masyarakat yang peduli terhadap kelestarian penyu dan ekosistem pesisir.
Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat memberikan dukungan penuh terhadap upaya pelestarian tersebut.
Wakil Bupati didampingi 11 pejabat utama daerah, meliputi Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Asisten Administrasi Umum, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Pelaksana Harian Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata, Kepala Dinas Perikanan, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah, serta Staf Ahli Bidang Aparatur dan Kemasyarakatan.
Inisiator kegiatan, Kelompok Masyarakat Penggerak Konservasi (KOMPAK) Penyu Mawil, sebagai wujud gerakan pelestarian berbasis masyarakat.
Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga Pantai Mawil sebagai salah satu habitat peneluran penyu yang masih aktif hingga kini, sekaligus mengembangkan potensi daerah menjadi destinasi ekowisata bahari yang berkelanjutan.

KOMPAK selenggarakan Tour de Mawil-4, untuk memperingati Hari Penyu Sedunia di pantai Tatar Sepang, Sumbawa Barat. Foto: ist
Secara resmi, kawasan ini tercatat sebagai bagian dari Kawasan Konservasi Taman Pesisir Penyu Tatar SepangTour de Mawil-4 Perkuat Kolaborasi Konservasi Penyu di Pantai Mawil
Sumbawa Barat, 16 Juni 2026 — Memperingati Hari Penyu Laut Dunia 2026, Pantai Mawil kembali menjadi pusat kegiatan pelestarian alam melalui penyelenggaraan Tour de Mawil‑4 yang berlangsung meriah selama 13 hingga 16 Juni 2026. Kegiatan ini berhasil menghimpun lebih dari 50 peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, komunitas penyelam, pemerhati lingkungan, pelaku usaha, hingga warga masyarakat yang peduli terhadap kelestarian penyu dan ekosistem pesisir.
Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat memberikan dukungan penuh terhadap upaya pelestarian tersebut. Meskipun Bupati berhalangan hadir, perwakilan dipimpin oleh Wakil Bupati didampingi 11 pejabat utama daerah, meliputi Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Asisten Administrasi Umum, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Pelaksana Harian Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata, Kepala Dinas Perikanan, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah, serta Staf Ahli Bidang Aparatur dan Kemasyarakatan.
Inisiator kegiatan adalah Kelompok Masyarakat Penggerak Konservasi (KOMPAK) Penyu Mawil, sebagai wujud gerakan pelestarian berbasis masyarakat. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga Pantai Mawil sebagai salah satu habitat peneluran penyu yang masih aktif hingga kini, sekaligus mengembangkan potensi daerah menjadi destinasi ekowisata bahari yang berkelanjutan. Secara resmi, kawasan ini tercatat sebagai bagian dari Kawasan Konservasi Taman Pesisir Penyu Tatar Sepang yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 11 Tahun 2020 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2020–2040.
Selain melibatkan anggota KOMPAK Penyu Mawil, kegiatan ini juga diikuti oleh dosen dan mahasiswa Program Studi Pariwisata Universitas Hamzanwadi, Universitas Mataram melalui program MBKM BPRL Makassar, Penyuluh Perikanan Lapangan Kabupaten Sumbawa Barat, Komunitas Penyelam Nusa Tenggara Barat (Kapela NTB), Kelompok Masyarakat Pengawas Sumber Daya Alam Talonang Indah, perangkat Desa Talonang Baru, karyawan PT Amman Mineral Nusa Tenggara, serta warga sekitar pantai.
Selama empat hari pelaksanaan, peserta menjalankan serangkaian agenda konservasi secara langsung, antara lain patroli malam dan pemantauan keberadaan penyu, pengukuran ukuran tubuh dan cangkang, pendokumentasian identitas penyu melalui foto sisik kepala, pengamatan proses peneluran, pemantauan tukik yang menetas secara alami, aksi bersih‑bersih pantai, hingga diskusi untuk menyusun strategi pelestarian yang lebih baik. Fokus utama kegiatan adalah membersihkan sampah plastik dan benda‑benda keras seperti balok kayu serta ranting besar yang berpotensi menghalangi induk penyu naik ke darat maupun menghambat tukik kembali ke laut.
Pendekatan konservasi yang diterapkan di Pantai Mawil mengutamakan perlindungan alami. Telur penyu dibiarkan menetas di lokasi sarang aslinya, dan tukik yang lahir dibantu kembali ke laut tanpa perlakuan berlebihan. Metode ini diyakini mampu menjaga kelangsungan proses biologis dan perilaku alami penyu laut. Dalam kegiatan kali ini, tercatat kedatangan 3 ekor penyu induk, di mana 1 ekor berhasil bertelur sedangkan dua lainnya kembali ke laut sebelum melakukannya. Sebanyak 10 kilogram sampah plastik serta potongan kayu dan kaca juga berhasil dikumpulkan dan dipindahkan dari kawasan peneluran.
Wakil Bupati Sumbawa Barat dalam sambutannya menyampaikan apresiasi setinggi‑tingginya kepada semua pihak yang terlibat. Menurutnya, keberhasilan pelestarian penyu sangat bergantung pada kerja sama yang erat antara pemerintah, masyarakat, lembaga pendidikan, komunitas, dan dunia usaha. Kolaborasi ini tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga membuka peluang pengembangan ekowisata yang memberikan manfaat ekonomi bagi warga setempat secara berkelanjutan.
Melalui pelaksanaan Tour de Mawil‑4, para peserta tidak hanya menikmati keindahan alam pesisir Sumbawa Barat, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung menjadi bagian dari upaya melindungi salah satu habitat penyu terpenting di wilayah ini. Kegiatan ini diharapkan memperkuat komitmen bersama untuk terus menjaga keberlangsungan hidup penyu laut serta mewariskan lingkungan pesisir yang sehat dan terjaga bagi generasi mendatang. yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 11 Tahun 2020 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2020–2040.
Selain melibatkan anggota KOMPAK Penyu Mawil, kegiatan ini juga diikuti oleh:
dosen dan mahasiswa Program Studi Pariwisata Universitas Hamzanwadi
Universitas Mataram melalui program MBKM BPRL Makassar
Penyuluh Perikanan Lapangan Kabupaten Sumbawa Barat,
Komunitas Penyelam Nusa Tenggara Barat (Kapela NTB),
Kelompok Masyarakat Pengawas Sumber Daya Alam Talonang Indah,
perangkat Desa Talonang Baru, karyawan PT Amman Mineral Nusa Tenggara, serta warga sekitar pantai.
Selama empat hari pelaksanaan, peserta menjalankan serangkaian agenda konservasi secara langsung, antara lain patroli malam dan pemantauan keberadaan penyu, pengukuran ukuran tubuh dan cangkang, pendokumentasian identitas penyu melalui foto sisik kepala, pengamatan proses peneluran, pemantauan tukik yang menetas secara alami, aksi bersih‑bersih pantai, hingga diskusi untuk menyusun strategi pelestarian yang lebih baik.
Fokus utama kegiatan adalah membersihkan sampah plastik dan benda‑benda keras seperti balok kayu serta ranting besar yang berpotensi menghalangi induk penyu naik ke darat maupun menghambat tukik kembali ke laut.
Pendekatan konservasi yang diterapkan di Pantai Mawil mengutamakan perlindungan alami.
Telur penyu dibiarkan menetas di lokasi sarang aslinya, dan tukik yang lahir dibantu kembali ke laut tanpa perlakuan berlebihan.
Metode ini diyakini mampu menjaga kelangsungan proses biologis dan perilaku alami penyu laut.
Dalam kegiatan kali ini, tercatat kedatangan 3 ekor penyu induk, di mana 1 ekor berhasil bertelur sedangkan dua lainnya kembali ke laut sebelum melakukannya.
Sebanyak 10 kilogram sampah plastik serta potongan kayu dan kaca juga berhasil dikumpulkan dan dipindahkan dari kawasan peneluran.
Wakil Bupati Sumbawa Barat dalam sambutannya menyampaikan apresiasi setinggi‑tingginya kepada semua pihak yang terlibat.
Menurutnya, keberhasilan pelestarian penyu sangat bergantung pada kerja sama yang erat antara pemerintah, masyarakat, lembaga pendidikan, komunitas, dan dunia usaha.
Kolaborasi ini tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga membuka peluang pengembangan ekowisata yang memberikan manfaat ekonomi bagi warga setempat secara berkelanjutan.
Melalui pelaksanaan Tour de Mawil‑4, para peserta tidak hanya menikmati keindahan alam pesisir Sumbawa Barat, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung menjadi bagian dari upaya melindungi salah satu habitat penyu terpenting di wilayah ini.
Kegiatan ini diharapkan memperkuat komitmen bersama untuk terus menjaga keberlangsungan hidup penyu laut serta mewariskan lingkungan pesisir yang sehat dan terjaga bagi generasi mendatang.**











