Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
SWARAJOMBANG.COM— Teror dapat menjadi aksi pemerasan atas orang banyak oleh segelintir orang. Ketika kapal-kapal panjang berkepala naga bangsa Viking mendekati biara atau kota, rasa takut terhadap kekejaman bangsa-bangsa Utara hanya menghasilkan tanda perlawanan sekaligus banyaknya barang rampasan.
Pajak tambahan atas tanah bagi penjajah Denmark pun dikeluarkan untuk mencegah para penyerang itu masuk.
Ternyata upaya itu justru hanya mendorong lebih banyak armada kapal bangsa itu datang di Inggris untuk mengambil lebih banyak lagi kepingan perak, seperti layaknya pembayaran uang tebusan bagi penculik atau penggarong masa kini.
Mulai dari perompak Baltik sebelumnya hingga Mafia masa kini, banyak upeti dikeruk dari orang yang paling merasa ketakutan.
Suap selalu merupakan kebijakan paling buruk melawan bandit. Mereka selalu kembali datang menuntut lebih banyak lagi.
Empat tipe penjahat menjadi pahlawan lokal atau kelompok suku. Ada bandit pedalaman yang bangkit memimpin kerusuhan nasional, mulai dari Hereward, Sang Pembangkit setelah Penaklukan Normandia hingga Pancho Villa di utara Meksiko.
Kemudian, ada bandit sosial yang didorong oleh rasa tidak adil berkampanye menentang para tuan tanah dan imam atau pendeta rakus atas nama orang-orang tertindas.
Setelah itu, muncul pula bandit transportasi, mulai dari para perompak Barbary hingga Bonnie dan Clyde hingga pembajak pesawat. Kemudian, ada pengeksploitasi pedesaan, yang bergerak dari pusat-pusat tanah mereka menuju hutan-hutan tempat orang miskin berdiam, sebagaimana dilakukan Mafia di Chicago.
Para anggota Bolsehevik bahkan merekrut kader-kader awal mereka dari penjahat kota ini, mengubah para perampok bank menjadi pejuang garis depan proletariat.
Seorang pemimpin Anglo-Saxon melawan tirani Normandia bernama Hereward. Ia melancarkan perang gerilya dari hutan-hutan kemudian menyerang seluruh Inggris.
Langkahnya diikuti penjahat legendaris dari hutan-hutan, Robin Hood, yang merupakan prototip lain dari perlawanan desa terhadap kejahatan kota, seperti juga dilakukan orang dari gunung, William Tell di Austria.
Para pahlawan rakyat ini menginspirasi pemimpin Pemberontakan Petani selanjutnya, seperti Watt Tyler dan Jack Cade, yang merepresentasikan pemberontakan petani melawan tindakan pemerasan para aristokrat dan gereja.
Mereka menentang hukum hanya untuk menciptakan kembali keseimbangan antara orang kaya dan miskin. Mereka memang mampu memberi inspirasi, namun tidak berhasil.
Dalam Pemberontakan Petani pada 1381, kekerasan massal tidak terjadi sebelum para gerombolan penjahat dari London tiba.
Mereka membumihanguskan Savoy dan Kuil serta Biara St. Johanes. Uskup Agung Canterbury, juga Lord Choncellor serta Bendahara Kerajaan, ditarik keluar dari menara menuju tempat eksekusi mereka.
Kepala mereka kemudian dipajang di atas tiang-tiang tinggi. Menurut Henry Knighton, ‘para korban itu secara sukarela dan tanpa protes, menawarkan diri seperti domba-domba kepada pencukur.
Dengan kaki telanjang, kepala terbuka serta ikat pinggang disisihkan, mereka berjalan bebas menuju kematian seolah-olah mereka adalah para pembunuh atau pencuri yang pantas menerima nasib ini.’
Peran kemartiran ini dengan sangat hati-hati diambilalih oleh pemimpin pemberontak, Wat Tyler. Sayangnya, dia dipenggal kepalanya ketika justru sedang bertindak sebagai perantara antara Raja Muda Richard II dengan ribuan petani pengikutnya, yang kemudian dibubarkan setelah mendapatkan ganti rugi.
Pemimpin spiritual pemberontakan pedesaan, John Ball, dikenang dalam sebuah drama singkat sepanjang empat babak. Naskah itu mungkin ditulis pemimpin pemberontak lainnya, George Peele dengan judul “The Life and Death of Jack Straw” (Hidup dan matinya Jack Straw).
Ball mengungkapkan permohonan yang terus menerus dari kaum Kristen miskin terhadap para tuan mereka:
Para tetangga, para tetangga, yang paling lemah kini menghadap tembok
Namun ingatlah kata-kataku dan ikutilah bimbingan John Ball.
Inggris sudah begitu lamban berkembang, sehingga orang kaya memegahkan diri melihat orang miskin mengemis ke pintu gerbang rumah mereka.
Tetapi, berkat kitab suci saya mampu berdiri di hadapanmu membuktikannya,
Bahwa Allah tidak terlibat dalam masalah ini baik membiarkannya atau menyukainya. Tetapi ketika Adam menyelidiki dan Hawa menguraikannya, Siapakah kini pria yang baik.
(Bersambung)











