Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
SWARAJOMBANG.COM– Kaum Anabaptis menjadi ekstremis pada zaman ekstrim, ketika Reformasi dan pemberontakan dilancarkan dari Roma.
Sebagai kaum radikal millennium, warisan pemikiran mereka bersumberkan pada kaum Manichea serta Gnostik. Namun, mereka mempraktekannya jauh lebih daripada yang dapat ditoleransi pada masa yang sangat tidak toleran ini.
Salah satu pemimpin pertama mereka, Felix Manz, adalah anak di luar nikah seorang pengkotbah Zurich. Dia murid penginjil penting pertama Swiss, Ulrich Zwingli, yang ajaran-ajarannya membantu mendirikan Gereja Inggris.
Manz mengkotbahkan bahwa pembaptisan orang dewasa atau anak-anak membuat mereka terjamin untuk langsung berjalan menuju rahmat Allah tanpa perlu campur tangan negara dan Gereja.
Konsep ini sama seperti yang ditegaskan oleh Chronicle of the Hutterie Brethren tentang upacara Annabaptis: ‘Bersama pembaptisan dimulailah pemisahan dari dunia dan pekerjaan-pekerjaan jahatnya.’
Para pengkotbah kultus itu melaksanakan pembaptisan massal di sungai-sungai di Jerman dan Swiss setelah 1512. Zwingli menentang dan menuduh mereka mempraktekkan sosialisme Kristen perdana.
‘Tidak boleh ada magisterium (baca: otoritas mengajar yang ada pada Gereja Katolik),” tulisnya tentang ajaran-ajaran mereka. ‘Semuanya harus diperlakukan sama.’
Karena, itu, Felx Manz pun dihukum. Sembari diikat pada sebuah balok gawang, Felix Manz diarak dari sebuah penjara di Zurich kemudian dibuang ke Sungai Limmat sampai mati tenggelam.
Bagaimanapun, kematiannya tidak pernah menghentikan pesan-pesannya untuk sampai kepada pengorganisasi revolusioner, Thomas Muntzer, di tengah gejolak ‘Revolusi Para Petani Jerman.’
Thomas memang pernah menemui pemimpin pemberi inspirasi Reformasi lainnya, Marthin Luther, namun mereka ternyata berbalik saling mengecam. Luther bahkan dia cap babi dan guru penipu.
Muntzer adalah Babeuf dan Bakhunin awal, pendiri kelompok revolusioner bernama Liga Kaum Terpilih (League of the Elect).
Ia diarahkan untuk menyerang para adipati dan pangeran yang memerintah Jerman. Pihak berwewenang menjadi sasarannya: kerusuhan di pedesaan menjadi umpannya yang lugu.
Luther pun segera melancarkan serangan balik. Soalnya, dia memang mendapat apa yang diinginkannya yaitu dukungan para tuan tanah setempat demi Reformasi sesuai persyaratan-persyaratannya.
Dia lalu mengeluarkan pamphlet, Menentang Gerombolan Petani Pembunuh dan Pencuri pada tahun 1512.
Pamflet itu memaklumkan bahwa tidak ada yang begitu meracuni atau merugikan ataupun jahat dibandingkan dengan pemberontakan.
Sebagaimana anjing gila berpenyakit rabies harus dibunuh, maka revolusi harus dipadamkan atau ia bakal menyerang siapapun serta seluruh negeri.
Segera Muntzer ditangkap, disiksa dan dipenggal kepalanya. Namun, sama seperti agama Kristen awal berkembang di antara para budak Romawi, demikian juga doktrin-doktrin Annabaptis hadir bagi orang-orang pedesaan yang hina di Eropa Utara dalam pesan yang penuh harapan.
Dari Polandia hingga Belanda, mulai bermunculan pergolakan-pergolakan kecil yang diikuti pembunuhan.
Sementara sejumlah pengkotbah Annabaptis merekomendasikan antikekerasan yang diajarkan Yesus Kristus, beberapa pengkotbah justru memusatkan perhatian untuk menciptakan surga baru di bumi
Di Haarlem, di tengah gelombang revolusi kaum Annabaptis melawan Roma, seorang tukang roti bernama Jan Matthys menikahi seorang suster biarawati yang cantik, Divara.
Pun juga memperkenalkan kepada Munster di Westphalia, suatu masyarakat radikal yang bertujuan mengubah kondisi di seantero Eropa.
Sebagai pribadi kharismatik pada masa-masa sulit, Matthys menobatkan nyaris 12.000 warga di sana sesuai versi iman Kristennya sendiri.
Pemilihan pun dibuat untuk pembentukan dewan kota Annabaptist. Gereja katedral dirampok. Baptisan massal dilaksanakan setiap hari.
Siapa saja yang menolak upacara inisiasi langsung mereka kepada Allah diusir dari tembok-tembok kota dengan cemeti-cemeti besi dan pemukul kayu.
Uskup lokal Jerman lantas menanggapinya dengan melakukan pengepungan atas kota bidaah itu.
Dengan mengaku diri sebagai Kristus, Jan Matthys mengadakan Perjamuan Terakhir, mencium para muridnya dan berangkat keluar untuk mati bersama dua puluh empat orang dari mereka. Dia pun dicincang berkeping-keping. (Bersambung).











