Penulis: Tanasyafira K. Tirani | Editor: Priyo Suwarno
JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM – “Tingginya harga minyak goreng di pasar dalam negeri Rp21.000/ litet, saat ini sama sekali bukan karena kekurangan pasokan, melainkan murni akibat ulah segelintir oknum atau mafia pangan yang memainkan harga,” ujar menjawab
Pernyataan ini disampaikan menjawab wartawan Selasa, 19 Mei 2026, di Jakarta Selatan.
Menurut Amran, kondisi yang terjadi sangat ganjil dan bertentangan dengan hukum ekonomi dasar.
Pasalnya, Indonesia adalah produsen sekaligus pengekspor utama minyak kelapa sawit dan produk turunannya ke seluruh dunia, dengan jumlah pengiriman yang sangat besar.
“Kalau minyak goreng di Indonesia harganya tinggi, itu akibat permainan mafia. Coba lihat, kita ini negara pengekspor, kita banyak sekali mengirim ke luar negeri,” kata Mentri.
“Secara teori ekonomi, kalau barang banyak, produksi melimpah, harga seharusnya turun atau murah. Tapi kenyataannya malah mahal. Itu pasti ada yang mengatur, ada yang main-mainkan, ada maffianya,” tegas Amran.
Berdasarkan data resmi yang dirilis Kementerian Pertanian dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), sepanjang Januari hingga Mei 2026, total volume ekspor minyak sawit dan turunannya mencapai 14,8 juta ton, meningkat sekitar 11,2% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Pengiriman besar ini menyumbang devisa negara sebesar 16,7 Miliar Dolar AS, naik sekitar 9,8% dari tahun sebelumnya, menjadi salah satu penyumbang valuta asing terbesar bagi Indonesia.
Dari sisi produktivitas, kinerja industri sawit nasional tahun 2026 juga tercatat lebih baik dibanding tahun lalu.
Produktivitas per hektare rata-rata nasional kini mencapai 3,42 ton/ha, meningkat sekitar 4,2% dibanding tahun 2025 yang berada di angka 3,28 ton/ha.
Secara total, produksi nasional hingga bulan Mei ini tercatat naik sekitar 5,1%, membuktikan pasokan dalam negeri sangat aman dan berlimpah .
“Lihat datanya jelas sekali. Kita kirim ke luar negeri belasan juta ton, dapat devisa puluhan triliun rupiah, produktivitas kita makin tinggi dibanding tahun lalu. Artinya barangnya ada banyak, tidak kurang sama sekali, ” tegas Menteri.
“Lalu kenapa di sini mahal? Jawabannya cuma satu: ada yang menahan, ada yang main harga, ada yang ingin untung sendiri di atas penderitaan rakyat,” tambah Amran dengan nada keras.
Amran menegaskan, kondisi ini terjadi karena rantai distribusi dan tata niaga dikuasai pihak tertentu yang sengaja menimbun barang atau menciptakan kelangkaan buatan, sehingga harga melonjak seenaknya, sementara masyarakat yang menanggung beban.
Padahal, kata menteri, seharusnya, dengan posisi Indonesia sebagai raja ekspor, harga di dalam negeri bisa sangat terjangkau dan stabil.
“Ini yang membuat kita pusing. Hukum pasar tidak berjalan karena ada campur tangan mafia. Mereka mengacaukan semuanya, lalu masyarakat marah dan menyalahkan pemerintah. Padahal pelaku utamanya ada di sana. Saya katakan tegas: ada mafia, saudaraku, yang harus diberesin di republik ini,” tandasnya.
Mentan meminta Satgas Pangan, Kepolisian, dan instansi penegak hukum bertindak lebih cepat, tegas, dan tuntas. Seluruh praktik penimbunan, pengaturan harga, dan kecurangan perdagangan harus diputus rantainya.
Menurutnya, persoalan ini bukan soal jumlah produksi, tapi soal keadilan distribusi.
“Kami sudah ingatkan berkali-kali, jangan main-mainkan kebutuhan pokok rakyat. Minyak goreng kebutuhan dasar. Kalau ini dikuasai mafia, berarti kesejahteraan rakyat sedang dirampok.”
“Kami minta jangan pandang bulu, berantas sampai tuntas. Biar nanti mekanisme pasar berjalan normal, harga turun, dan rakyat lega,” pungkas Menteri Amran Sulaiman mengakhiri pernyataannya.**











