Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Priyo Suwarno
TAIWAN, SWARAJOMBANG.COM – Di tengah ancaman invasi dari China yang kian nyata, warga sipil Taiwan kini berlatih intensif menggunakan walkie-talkie untuk berkomunikasi tanpa bergantung pada internet, langkah antisipatif krusial dalam menghadapi potensi pemadaman jaringan digital akibat serangan cyber atau blokade.
Pelatihan ini merupakan bagian dari program pertahanan sipil yang semakin gencar digulirkan sejak ketegangan geopolitik di kawasan membara belakangan ini.
Kelompok-kelompok pertahanan sipil setempat menjadi penyelenggara utama pelatihan warga sipil Taiwan soal penggunaan walkie-talkie, yang berlangsung pada Senin hingga Selasa, 16-17 Februari 2026.
Taiwan secara konsisten menyelenggarakan latihan pertahanan sipil berkala, termasuk simulasi Wan An dan Han Kuang, di mana masyarakat dilatih untuk evakuasi, bertahan hidup, serta berkomunikasi dalam situasi darurat.
Pada Februari 2026 ini, kelompok pertahanan sipil mengarahkan perhatian khusus pada komunikasi alternatif lewat walkie-talkie, mengingat risiko serangan cyber atau blokade dari China yang bisa memutus akses internet dan sinyal seluler.
Alat komunikasi ini diprioritaskan karena mengandalkan frekuensi radio VHF/UHF yang sulit untuk diblokir secara total, sehingga memfasilitasi koordinasi di tingkat lokal antara warga, relawan, dan petugas darurat. Dalam latihan, peserta mensimulasikan skenario invasi sambil mempraktikkan kode-kode komunikasi sederhana guna menghindari penyadapan musuh.
Pelaporan soal latihan terbaru ini muncul melalui media sosial pada 16-17 Februari 2026, berbarengan dengan lonjakan aktivitas militer China di Selat Taiwan. Pemerintahan Taiwan era Presiden Lai Ching-te mendorong inisiatif kesiapsiagaan sipil semacam ini demi memperkuat ketahanan nasional, tanpa menimbulkan kepanikan massal.
Pelaporan awal tentang latihan warga sipil Taiwan menggunakan walkie-talkie untuk komunikasi bebas internet baru bermunculan sekitar pertengahan Februari 2026, khususnya diliput pada 16-17 Februari.
Meski belum ada pengumuman resmi mengenai tanggal pasti sesi latihan, video serta unggahan media sosial menggambarkan aktivitas tersebut sedang berjalan di area seperti Taipei pada periode itu. Hal ini selaras dengan rutinitas simulasi pertahanan sipil Taiwan seperti Wan An, yang digelar beberapa kali setiap tahun.
Pelatihan semacam ini dirancang sebagai upaya berkelanjutan menanggapi ancaman dari China, dengan jadwal yang tidak dipublikasikan secara tetap untuk mencegah kemungkinan prediksi oleh pihak musuh.
Sebelumnya, latihan bertema militer digelar pada akhir Januari 2026, tetapi penekanan pada pelatihan sipil walkie-talkie baru menonjol di bulan Februari.
Penyelenggara pelatihan warga sipil Taiwan menggunakan walkie-talkie adalah kelompok pertahanan sipil (civil defense groups) setempat.
Kelompok relawan pertahanan sipil ini beraktivitas di level lokal, contohnya di Taipei, dan berkolaborasi dengan pemerintah kota serta Kementerian Dalam Negeri Taiwan dalam program kesiapan menghadapi darurat.
Mereka bukan bagian dari militer konvensional, melainkan organisasi berbasis masyarakat yang mengkhususkan diri pada pelatihan sipil non-tradisional seperti komunikasi radio.
Latihan di Februari 2026 diselenggarakan secara mandiri oleh kelompok-kelompok ini sebagai respons lincah terhadap eskalasi ketegangan dengan China, sambil terintegrasi ke dalam simulasi nasional seperti Wan An yang melibatkan aparat pemerintah.
Tidak ada satu lembaga pusat yang mendominasi; inisiatif ini lebih mencerminkan gerakan komunitas sipil yang didukung oleh kebijakan nasional. **











