Menu

Mode Gelap

Headline

TNI dan Polisi Dikerahkan atasi Tawur Kampung Borta Vs Sapiria, Pasca Panglima Kipas Tewas

badge-check


					Mengatasi keamanan di dua kampung berperang, Polisi dan TNI dikerajkan ke lokasi Borta dan  Sapiria, kecamatan Rallo, Makassar, pasca Nusyam panglima Bosta tewas, Selasa 18 November 2025. Foto: Instagram@heraldsulserbar Perbesar

Mengatasi keamanan di dua kampung berperang, Polisi dan TNI dikerajkan ke lokasi Borta dan Sapiria, kecamatan Rallo, Makassar, pasca Nusyam panglima Bosta tewas, Selasa 18 November 2025. Foto: Instagram@heraldsulserbar

Penulis: Mulawarman   |   Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, MAKASSAR– Panglima perang atau tokoh pemuda tewas dalam tawuran dua kelompok dari Kampung Borta dan Sapiria di Kecamatan Tallo, Makassar, adalah Nursyam (40) yang juga dikenal dengan nama panglima  “Kipas.”

Ia meninggal akibat tembakan peluru senapan angin di bagian kepala saat bentrokan berlangsung, Selasa 18 November 2025. Sejak pecah tawuran dua kampung itu, Minggu 16 November 2025.

Kematian Nursyam,  disebut sebagai  salah satu tokoh atau bos geng di wilayah tersebut, memicu kemarahan dan memanasnya kembali konflik antar kelompok pemuda itu yang kemudian menyebabkan pembakaran tujuh rumah warga di kawasan Tempat Pemakaman Umum Beroangin, Selasa 18 November 2025.

Nursyam dikenal sebagai figur sentral atau pemimpin kelompok pemuda di Kampung Borta yang berperan penting dalam konflik tawuran berkepanjangan dengan kelompok dari Sapiria.

Ia dianggap sebagai salah satu tokoh yang memimpin dan mengorganisasi aksi tawuran yang berdampak signifikan hingga menimbulkan korban jiwa dan kebakaran rumah warga di kawasan TPU Beroangin, Tallo, Makassar.

Mengingat kompleksitas situasi tawuran ini, sepak terjangnya kemungkinan terkait dengan kepemimpinan kelompok dalam konflik sosial di tingkat lokal, namun tidak ada informasi rinci soal latar belakang kehidupan, motivasi, atau aktivitas lainnya yang lebih luas di luar konflik yang terjadi ini.

Kapolsek Tallo, Kompol Syamsuardi, membenarkan adanya korban jiwa dan mengaku bahwa polisi masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti kematian korban, apakah benar akibat peluru senapan angin atau faktor lain.

Polisi telah mengimbau warga agar menghindari lokasi sekitar Pekuburan Beroangin karena dikhawatirkan terjadi tawuran susulan. Petugas gabungan dari Polrestabes Makassar, Kodim TNI, Brimob, dan Satpol PP dikerahkan untuk menjaga keamanan dan mencegah bentrokan lebih lanjut. Namun, meskipun ada penjagaan ketat, tawuran tetap pecah kembali, yang bahkan menyebabkan pembakaran tujuh rumah warga.

Terjunkan pasukan

Jumlah pasukan polisi dan TNI yang dikerahkan di lokasi tawuran di TPU Beroangin, Kecamatan Tallo, Makassar, sebanyak puluhan personel dari Polrestabes Makassar dan Kodim TNI setempat.

Polisi menempatkan pasukan Brimob, TNI, dan Satpol PP dalam satu bulan terakhir sebagai upaya pengamanan wilayah agar tawuran tidak terjadi kembali. Namun, meskipun sudah ada penjagaan gabungan dari aparat kepolisian dan TNI, tawuran tetap pecah kembali.

Penempatan pasukan tersebut dilakukan untuk memukul mundur kelompok yang terlibat bentrokan serta mengantisipasi kerusuhan susulan.

Meskipun demikian, angka pasti jumlah pasukan gabungan yang dikerahkan di setiap kejadian tajamnya tawuran tidak disebutkan secara spesifik dalam sumber-sumber yang tersedia saat ini, namun terus dijaga dalam skala puluhan personel yang aktif berjaga di lokasi.

Kronologi tawuran di Kecamatan Tallo, Makassar, pada Selasa 18 November 2025 berawal dari bentrokan yang sudah berlangsung berulang kali antara dua kelompok pemuda dari Kampung Borta dan Sapiria.

Intensitas permusuhan meningkat ketika Nursyam alias Kipas, panglima dari kelompok Sapiria, tewas akibat tembakan senapan angin di kepala saat bentrokan terjadi di kawasan Pekuburan Beroangin pada Minggu malam 16 November 2025.

Korban sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi meninggal dunia pada Selasa 18 November, yang kemudian memicu bara dendam dan kemarahan.

Setelah kematian Nursyam, suasana menjadi sangat memanas, dan pesan peringatan tersebar di grup WhatsApp untuk menghindari kawasan pekuburan karena akan terjadi perang besar.

Pada siang hari tanggal 18 November, tawuran pecah kembali di lokasi yang sama, memicu pembakaran tujuh rumah warga yang berada di sekitar pekuburan.

Kebakaran diduga disengaja sebagai bagian dari aksi balas dendam setelah kematian sang panglima. Polisi dengan aparat gabungan TNI berusaha membubarkan massa dan memadamkan api, namun sengitnya bentrokan menyebabkan situasi sangat mencekam di kawasan tersebut.

Tawuran ini adalah puncak dari konflik berkepanjangan antara dua kelompok tersebut yang sudah memakan korban jiwa dan kerusakan rumah warga sebelumnya.​ **

 

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Faisol Riza:  Industri Kecil Belum Siap Ikut Wajib Halal Oktober

18 Juni 2026 - 19:38 WIB

Tantangan Sosial Makin Berat, Dinsos Jombang Sosialisasi Pendamping Hukum Pengelola LKS/ LKAA

18 Juni 2026 - 19:35 WIB

Siapkan Saldo E-Toll Rp900 Ribu, Jakarta-Surabaya Tanpa Diskon Libur Sekolah

18 Juni 2026 - 19:19 WIB

Libur Sekolah MBG Sementara Berhenti

17 Juni 2026 - 20:11 WIB

Menelisik Akar Teroris (20): Para Penjahat dan Gerilyawan

17 Juni 2026 - 19:06 WIB

Anggaran 2027 Rp184 Triliun, Polri Ajukan Tambahan Rp61 Triliun

17 Juni 2026 - 17:26 WIB

Peringatan Tahun Baru Hijriah 1448, Ketua DPRD Hadi Atmaji Hadiri Acara Doa Bersama di Pendopo Pemkab Jombang

17 Juni 2026 - 14:00 WIB

Rencana PHK 1.000 Karyawan PT SGS Masuk dalam RDP Komisi D DPRD Jombang

17 Juni 2026 - 12:46 WIB

Pesawat Pembom Boeing B‑52 Stratofortress Jatuh, Amerika Alami Kerugian Rp1,340 Triliun

17 Juni 2026 - 08:53 WIB

Trending di Nasional