Penulis: Adi Wardhono | Editor: Priyo Suwarno
BANJARNEGARA, SWARAJOMBANG — Jeritan panik dan doa menggema saat terjadi longsor Bukti Situkung di Banjarnegara, Jawa Tengah. Pada Minggu siang, 16 November 2025, pukul 13.30 WIB, Bukit Situnkung menyapu Dusun Situkung, Desa Pandanarum.
Reruntuhan tanah dan batu menghancurkan sekitar 20 rumah, menelan satu nyawa, melukai dua jiwa, dan menjerat dua warga lain dalam pelukan material longsor yang belum terangkat. Klewih, pria paruh baya berusia antara 40-50 tahun, ditemukan tak bernyawa di bawah timbunan tanah yang mencekam.
Kisah duka itu belum ada habisnya. Dua korban luka bergelut dengan rasa sakit, sementara harapan tergantung pada evakuasi yang penuh ketegangan bagi dua warga yang terjebak, berjuang dalam sunyi di bawah reruntuhan.
Begitu banyak jiwa yang berguncang. Sebanyak 480 penduduk dusun terpaksa meninggalkan rumah mereka yang kini terkubur, mencari perlindungan di kantor kecamatan dan rumah warga tak terdampak. Tanah yang terus labil membuat proses evakuasi berjalan penuh kehati-hatian, nyawa menjadi taruhannya.
BPBD Banjarnegara dan relawan segera beraksi, bekerja tanpa lelah mendata korban dan mengarahkan warga ke tempat aman. Dari desa, 179 jiwa berhasil diungsikan menuju titik yang menjanjikan keselamatan.
Meski kini situasi mulai membaik, ancaman longsor susulan mengintai, seiring cuaca yang masih tak bersahabat. Relawan dengan suara tegas mengimbau agar semua tetap waspada dan menjauhi area rawan.
Aji Piluroso, Kepala Pelaksana BPBD Banjarnegara, mengungkap fakta pilu di balik bencana ini: curah hujan semalam yang deras menjadi pemicu utama longsor, meluluhlantakkan Dusun Situkung.
Dengan langkah cepat, BPBD tidak hanya mengevakuasi dan membersihkan reruntuhan, namun juga mengingatkan seluruh warga agar tetap menjaga kewaspadaan menghadapi kemungkinan bencana berulang.
Di tengah duka dan ketidakpastian, upaya membuka akses jalan yang tertutup longsor terus digencarkan agar bantuan segera sampai, dan kehidupan bisa perlahan pulih. **











