Menu

Mode Gelap

Nasional

Eks KSAU : Ada Masalah Tanah Negara di Proyek Kereta Cepat Whoosh

badge-check


					Eks KSAU, Perbesar

Eks KSAU,

Penulis: Ganjar | Editor: Aditya Prayoga

JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM. Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Madya (Purn) Agus Supriatna menyampaikan pandangannya soal proyek Kereta Cepat Whoosh.

Menurutnya sejak awal bermasalah karena melibatkan aset negara. Pandangan itu ia sampaikan dalam kanal YouTube Anak Bangsa pada 16 Oktober 2025.

Menurut Agus, proyek tersebut seharusnya dibiayai penuh secara bisnis tanpa melibatkan dana APBN. Ia menegaskan, “Bisnis itu bisnis, kok mau pakai tanah negara. Stasiun Halim itu aset negara, tanahnya milik TNI AU. Selama saya jadi Kepala Staf, tidak akan pernah saya setuju kalau itu dipakai.”

Agus mengungkapkan bahwa penolakannya sudah disampaikan sejak awal karena Halim adalah wilayah strategis yang berfungsi untuk pengamanan ibu kota.

Ia menilai keputusan menjadikan Halim sebagai stasiun kereta cepat justru menyalahi logika strategis pertahanan negara. Menurutnya, lokasi yang lebih tepat adalah Bekasi Timur atau Manggarai yang sudah terhubung dengan jalur KRL.

KA Cepat Shinkansen, MRT, LRT dan di Seluruh Dunia Merugi, Mengapa Mereka Tetap Dibangun

Ia juga mempertanyakan mengapa penggunaan tanah milik negara tidak diimbangi dengan kompensasi yang pantas. “Biarpun bagaimana, gak bisa pakai tanah negara untuk proyek bisnis. Kecuali kalau benar-benar bermanfaat besar untuk rakyat,” ujarnya.

Agus menilai proyek ini sejak awal berorientasi pada keuntungan, bukan kepentingan publik. Ia menyinggung kerugian yang terus bertambah dan potensi beban keuangan negara.

“Manfaatnya apa sekarang? Tambah utang kan? Terus rugi, lalu dibayar APBN. Loh, APBN itu uang rakyat,” katanya.

Ia juga menyinggung pengalaman saat menjabat KSAU, ketika beberapa pekerja asing asal Tiongkok membawa peralatan ke Halim tanpa izin.

Agus mengatakan ia langsung menahan mereka serta menyita perlengkapan tersebut karena belum ada izin resmi. Menurutnya, peristiwa itu menunjukkan lemahnya koordinasi dan pengawasan terhadap proyek strategis nasional.

Agus memuji sikap Menteri Keuangan baru, Purbaya, yang menolak penggunaan APBN untuk menutup kerugian proyek tersebut. Ia berharap sikap itu dapat diteruskan dengan pengawasan yang tegas.

“Saya setuju sekali dengan Pak Purbaya. Harusnya dari dulu DPR ada yang bicara seperti ini,” tuturnya.

Ia menutup dengan penegasan bahwa proyek seperti Kereta Cepat harus dijalankan secara profesional tanpa mengorbankan aset negara maupun uang rakyat.****

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Gempa M 7,6 Bitung: 3 Orang Tewas, 15 Orang Luka-luka Kerusakan Bangunan Meluas

2 April 2026 - 14:35 WIB

Nenek Delce Lahia Tewas Tertimpa Gedung KONI Manado, Akibat Gempa Mag 7.6 Bitung

2 April 2026 - 09:10 WIB

Petir Mengganas Sambar 10 Wisatawan di Pantai Bambang Lumajang, Satu Orang Tewas Sembilan Lainnya Luka

31 Maret 2026 - 10:29 WIB

Wabup Lebak Amir Hamzah Tinggalkan Acara Hahalbibahal, Disebut Bupati sebagai Mantan Napi

30 Maret 2026 - 22:42 WIB

Fasad RSUD Ploso Jombang Berantakan Timpa Mobil, Akibat Diterjang Hujan dan Angin Kencang

30 Maret 2026 - 21:06 WIB

Satu Personel RI Penjaga Perdamaian di Lebanon Gugur

30 Maret 2026 - 13:22 WIB

Nakhoda dan Tiga ABK Tugboat Musaffah 2 Warga Indonesia Hilang di Selat Hormuz, Diduga Kena Serangan Rudal

29 Maret 2026 - 19:33 WIB

Angkut 25 Penumpang Bus Wisata Kelinci Terguling di Jatidukuh Mojokerto, Satu Tewas Lainnya Luka-luka

29 Maret 2026 - 00:39 WIB

Risiko Besar Evakuasi Balon Raksasa Nyangkut di Menara SUTET Trenggalek

28 Maret 2026 - 23:53 WIB

Trending di Headline