Menu

Mode Gelap

Nasional

Media Rusia Sebut George Soros Ikut Biayai Demo di Indonesia

badge-check


					Soros dituding ngisruh saat 1998 Perbesar

Soros dituding ngisruh saat 1998

Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya

JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM-Media afiliasi pemerintah Rusia, Sputnik, menduga protes yang berujung kerusuhan dan pembakaran gedung pemerintah di Indonesia sebagai aksi yang didanai oleh asing.

Sputnik, mengutip Analis Geopolitik Angelo Giuliano, menyoroti penggunaan simbol bendera bajak laut “One Piece” yang cukup masif sebelum demonstrasi memuncak.

Menurut Giuliano, simbol tersebut mengindikasikan adanya pengaruh eksternal, serupa dengan pola yang terlihat di negara lain.

Kerusuhan itu berdampak signifikan, hingga membatalkan rencana kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke China dalam rangka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Shanghai Cooperation Organisation (SCO).

Giuliano menilai, meski aksi massa berangkat dari keresahan ekonomi yang nyata, penggunaan simbol dari anime Jepang tersebut bukanlah hal kebetulan.

Dalam “One Piece”, para bajak laut mengibarkan bendera hitam bertengkorak dengan topi jerami sebagai simbol perlawanan terhadap “tirani.”

Giuliano mengklaim ada dua aktor eksternal yang mungkin berperan, yakni National Endowment for Democracy (NED)—lembaga donor yang ikut mendanai media di Indonesia sejak 1990-an, serta Open Society Foundations milik George Soros.

“Hal ini berkaitan dengan fokus Indo-Pasifik belakangan ini terjadi,” kata Giuliano.

Penulis The China Trilogy sekaligus pendiri Seek Truth From Facts Foundation, Jeff J. Brown, juga menyampaikan klaim serupa.

Ia menilai pola yang terjadi di Indonesia mirip dengan situasi di Serbia. “G7 menginginkan diktator baru yang didukung AS, seperti Suharto di masa lalu,” ujar Brown.

Brown juga menilai Presiden Prabowo tidak sejalan dengan agenda Amerika Serikat (AS) dan Eropa, karena memperkuat kerja sama dengan China, Rusia, SCO, dan BRICS.

“Indonesia adalah negara Asia Tenggara pertama yang bergabung dengan BRICS dan secara terbuka bekerja sama dengan China dalam Inisiatif Belt and Road,” tambahnya.

Lebih jauh, Brown menekankan posisi strategis Indonesia di kancah global. Indonesia dianggap sebagai sasaran empuk karena memiliki perekonomian terbesar kedelapan di dunia berdasarkan, terbesar di ASEAN, dan berpenduduk hampir 300 juta jiwa.

“Dari sudut pandang negara imperialis, semua ini menjadikan Indonesia sebagai target besar yang sangat layak untuk diserang melalui revolusi berwarna yang direkayasa,” kata Brown.

Saat krisis moneter melanda, nama Soros ikut disebut sebagai spekulan yang memperparah anjloknya rupiah. Bahkan, PM Malaysia kala itu, Mahathir Mohamad, menuding Soros sebagai pemicu krisis Asia. Namun, Soros sendiri membantah dan menyatakan tidak melakukan operasi pasar di Indonesia saat itu. Kerusuhan Mei 1998 lebih banyak dipicu faktor politik domestik dan ketegangan sosial, bukan intervensi individu.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Youtube Siarkan Langsung Piala Dunia 2026

23 Maret 2026 - 15:58 WIB

Menhub Imbau Pemudik Hindari Puncak Arus Balik 24, 28, dan 29 Maret

23 Maret 2026 - 15:53 WIB

Tol Jombang-Mojokerto Antre 5 KM akibat Dilewati 171.000 Kendaraan Lebaran

22 Maret 2026 - 21:50 WIB

Jasad Dokter Shanti Hastuti Membusuk Tangan Terikat Kabel, Serta Mulut Disumpal Kain Hitam

22 Maret 2026 - 20:42 WIB

Sopir dan Dua Penumpang Lolos dari Maut, Saat Ford EcoSport Terbakar di KM 499 Tol Semarang-Solo

22 Maret 2026 - 20:05 WIB

Tanggul Kali Sadar Jebol Rendam 536 Rumah, Seribu Warga di Tiga Kecamatan Mojokerto Tidak Bisa Lebaran

22 Maret 2026 - 15:21 WIB

Target Hemat 20 % BBM, Pemerintah segera Mengatur ASN Lakukan WFH Sehari Dalam Sepekan

21 Maret 2026 - 16:52 WIB

Sopir Tewas di Tempat 24 Penumpang Luka-luka, Akibat PO Agra Mas Tabrak Truk di Tol Ngawi

21 Maret 2026 - 15:32 WIB

26,7 Kg Sabu Dalam Ban Serep Bersama Pajero Naik Towing, Hasil Operasi Ketupat Polisi di Cileungsi

21 Maret 2026 - 14:48 WIB

Trending di Headline