Menu

Mode Gelap

Nasional

Sjafrie Sjamsoedin: Butuh sekitar 700.000 Personel, RI Berencana Bangun 750 Batalion Infantri Baru

badge-check


					Kemenhan Sjafire Sjamsoedin menegaskan bahwa pemerinath RI akan membangun sebanyak m750 batalion infantri baru hingga 2029 ke depan. Foto: Instagram@kumparan Perbesar

Kemenhan Sjafire Sjamsoedin menegaskan bahwa pemerinath RI akan membangun sebanyak m750 batalion infantri baru hingga 2029 ke depan. Foto: Instagram@kumparan

Penulis: Yusran Hakim   |   Editor: Priyo Suwarno

JAKARTA, SWARAJOMBANG – Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pertahanan dan TNI Angkatan Darat, tengah merencanakan pembentukan hingga 750 batalion infanteri baru sebagai bagian dari upaya penguatan pertahanan nasional yang dijadwalkan sampai tahun 2029.

Kemenham Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin,  rencana ini juga menghadirkan sejumlah tantangan strategis, operasional, dan anggaran yang perlu dikawal secara ketat.

Setiap tahun, pemerintah berencana menambah sekitar 150 batalion baru, sehingga total kekuatan infanteri akan mencapai sekitar 870 batalion, dari 120 batalion yang sudah ada saat ini.

Skala penambahan yang besar ini menuntut koordinasi intensif lintas kementerian dan instansi, termasuk Kementerian Pertahanan, Pemerintah Daerah, ATR/BPN, dan Perhutani, untuk aspek lahan, sumber daya, dan anggaran.

Meskipun didasari oleh konsep optimum essential force (OEF) dalam RPJMN 2025-2029, proses pembentukan batalion tersebut harus memperhitungkan keterbatasan anggaran yang belum defenitif diumumkan.

Penyesuaian anggaran hingga kini masih dalam kajian bersama berbagai lembaga, memunculkan pertanyaan seputar kesinambungan pendanaan dan prioritas pembiayaan pertahanan dalam situasi ekonomi nasional.

Selain penguatan di darat, fokus pemerintah juga meliputi pengembangan satuan matra laut dan udara. Namun, perlu kewaspadaan agar perluasan kekuatan tak hanya memenuhi kuantitas, melainkan juga kualitas personel, peralatan, dan kesiapan operasional—faktor krusial bagi efektivitas pertahanan nasional.

Pemerintah menempatkan wilayah perbatasan seperti Papua, Kalimantan, dan Nusa Tenggara Timur sebagai prioritas utama. Namun, tantangan geografis dan sosial kawasan ini membutuhkan strategi pertahanan yang terpadu dengan pembangunan ekonomi lokal dan kepentingan masyarakat setempat agar tidak menimbulkan ketegangan baru.

Penjelasan resmi rencana ini telah disampaikan dalam beberapa forum koordinasi sepanjang 2025 oleh Kementerian Koordinator Politik dan Keamanan serta Kementerian Pertahanan. Meski begitu, publik dan kalangan pengamat mempertanyakan kesiapan administrasi dan kelayakan anggaran jangka panjang, mengingat skala dan kompleksitas proyek ini.

Menteri Pertahanan menyatakan pembentukan batalion baru adalah bagian dari usaha strategis lima tahun memperkuat postur TNI AD, namun keberhasilan implementasi membutuhkan transparansi, evaluasi berkelanjutan, dan sinergi antarlembaga agar tujuan penguatan pertahanan nasional dapat tercapai secara efektif dan berkelanjutan sampai 2029.**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Menelisik Akar Terorisme (25): Sepak Terjang Templar dan Freemanson

24 Juni 2026 - 20:53 WIB

Anissa dan Taufiq Meninggal Dunia Saat Ikuti Latsarmil Calon Manajer KDMP

24 Juni 2026 - 19:31 WIB

Rp24,9 Miliar Milik 158 Penunggak Pajak Disita DJP

24 Juni 2026 - 19:16 WIB

Jasad Wanita Hamil Dalam Mobil Plat Merah di Area Parkir Bandara Juanda, Diduga Sekretaris PRKP Bangkalan

24 Juni 2026 - 18:32 WIB

Aksi Unjuk Rasa Massa Karyawan PT SGS: Tolak PHK, Minta Bupati Jombang Audit Perusahaan

23 Juni 2026 - 20:28 WIB

Musim Liburan, Antrean Panjang di Pelabuhan Ketapang

23 Juni 2026 - 19:08 WIB

Polisi Ringkus Taufik Hidayat di Cibiru setelah 23 Hari Buron, Sekap dan Siksa Yuvita Lestari 1.095 Hari di Bandung

23 Juni 2026 - 14:52 WIB

Tanah Hibah 880 m² Dikuasai Orang, Waki’ah Minta Polisi Usut

23 Juni 2026 - 14:48 WIB

Kerja Cepat TPPA Batam Selamatkan Bocah 9 Tahun dari Penganiayaan Ibu Tiri

23 Juni 2026 - 12:18 WIB

Trending di Nasional