Menu

Mode Gelap

Nasional

Usia 98 Tahun Kiai Tar Tausyiah 2,5 Jam Pengajian Taubat Bersama di Ponpes Shiddiqiyyah Ploso

badge-check


					Para santri dan pengurus   ponpes Tharikah Shiddiqiyyah, memberi penghormatan kepada kiai Al‑Mukarrom Mursyid Thariqah Shiddiqiyyah Indonesia, Syekh Muhammad Muchtarullohi mujtaba mu'thi,98, usai memberikan tausyiah, sekitar pukul 23.30 wib, Kamis malam, 25 Juni 2026. Foto: swarajombang.com/ hadi s. purwanto Perbesar

Para santri dan pengurus ponpes Tharikah Shiddiqiyyah, memberi penghormatan kepada kiai Al‑Mukarrom Mursyid Thariqah Shiddiqiyyah Indonesia, Syekh Muhammad Muchtarullohi mujtaba mu'thi,98, usai memberikan tausyiah, sekitar pukul 23.30 wib, Kamis malam, 25 Juni 2026. Foto: swarajombang.com/ hadi s. purwanto

Penulis: Arief H. Soesatyo  |  Editor: Priyo Suwarno

JOMBANG, SWARAJOMBANG.COM — Maraknya praktik korupsi, penyimpangan nilai, dan memudarnya kesadaran kebangsaan menjadi tema:  Taubat Bersama, di Ponpes Tharikah Shiddiqiyyah pusat di desa Losari, Ploso Jombang, Kamis malam, 25 Juni 2026.

Ribuan jamaah memadati tiga lapangan besar, untuk mendengarkan tausiyah dari Al‑Mukarrom Mursyid Thariqah Shiddiqiyyah Indonesia, Syekh Muhammad Muchtarullohi mujtaba mu’thi, yang akrab disebut Kiai Tar.

Dihadiri ribuan jamaah Tharikoh Shidiqqiyyah, dari berbagai wilayah  pada Kamis malam, pukul 19.30 hingga 23.00 WIB.

Kiai Tar menegaskan bahwa kembali kepada fitrah dan memegang teguh ajaran agama sebagai solusi utama untuk memulihkan kondisi bangsa.

Tokoh kharismatik berusia 98 tahun itu  tegas mengatakan: “Koruptor itu adalah orang yang hidup dari mayat atau korban saudara‑saudaranya sendiri.”

Maksudnya, setiap harta dari hasil korupsi adalah harta yang diambil secara tidak halal, merampas hak orang lain, melucuti kesejahteraan rakyat, dan mematikan kesempatan hidup orang banyak.

Seolah‑olah ia makan dan hidup dari penderitaan serta kerugian sesama anak bangsa. Inilah penyakit hati yang paling berbahaya, yang merusak sendi‑sendi kehidupan bernegara dan meruntuhkan kepercayaan antarwarga.

Dalam penjelasannya, Kiai pemilik pondok seluas lebih 50 ha itu mengaitkan nilai luhur dengan dasar negara.

Pancasila disebut sebagai Pancawarna, Pancapintu, sekaligus tiang kokoh bagi Indonesia — gerbang menuju kehidupan yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Tujuan negara yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 diuraikan sebagai landasan nyata:

* Pertama melindungi segenap bangsa Indonesia
* Kedua melindungi tumpah darah Indonesia. Dari sabang sampai merauke.
* Ketiga memajukan kesejahteraan umum
* Ke empat mencerdaskan kehidupan bangsa.
* Ke lima ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Semua ini, menurut Kiai Tar, bersumber dari keyakinan kepada Allah Yang Maha Esa — bukan sekadar sebutan, melainkan wujud pengakuan atas keagungan‑Nya.

Teks Proklamasi di area ponpes Tharikah Shiddiqiyyah Pusat, di desa Losari, Ploso, Jombang. Foto: swarajombang/ priyo suwarno

Terjebak Teks

Kiai Tar menyoroti bahwa banyak generasi muda kini kurang memahami makna sejarah dan jati diri bangsa, karena penyampaiannya seringkali hanya terbatas pada teks tanpa makna mendalam.

Di sinilah peran pesantren menjadi sangat sentral, bukan sekadar lembaga mengajar syariat, melainkan benteng penjaga akhlak dan budi pekerti.

Inti acara malam ini adalah taubat bersama dalam kerangka ajaran tasawuf, bukan sekadar lantunan syair. Taubat diartikan sebagai kembali ke asal — mengingat bahwa setiap manusia lahir dalam keadaan suci dan tanpa dosa.

Penyimpangan terjadi karena tergoda hawa nafsu, termasuk godaan harta yang membuat orang berani mengambil hak orang lain.

Ada Jl. Cinta di lingkungan pondok pesantren Tharikah Shiddiqiyyah seluas lebih 50 hektar di desa Losari, kecamatan Ploso, Jombang. Foto: swarajombang.com/ priyo suwarno

Untuk itu, beliau mengajarkan rangkaian bacaan yang teratur, di mana angka delapan dimaknai sebagai pintu keberuntungan dan penghapus dosa, diakhiri dengan janji setia kepada Allah.

Beliau menegaskan bahwa rahmat Allah jauh lebih luas daripada segala dosa. Tidak ada kesalahan yang tidak bisa diperbaiki, asalkan hamba‑Nya sungguh‑sungguh bertobat dan berjanji tidak mengulangi perbuatan yang merugikan orang lain.

Sebagai penutup, beliau berpesan agar taubat ini bukan hanya ritual semalam, melainkan menjadi perubahan sikap nyata.

Dengan hati yang bersih, maka korupsi dan penyimpangan akan perlahan menghilang, dan Indonesia dapat tumbuh menjadi bangsa yang beradab, sejahtera, serta diridai Allah SWT.

Meski pada usia memasuki usia seabad kurang dua tahun, dengan suara tegar mampu 2,5 jam betausyiah mendapat perhatian dari jamaah yang berdatangan dari Jawa Timur, Jateng, Jabar dan Madura.

Mereka memenuhi tiga lapangan besar di kawan desa Losari, kecamatan Ploso yang sangat megah itu.**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Demo `Warga Surabaya Turun ke Jalan Berujung Ricuh di Grahadi

26 Juni 2026 - 20:12 WIB

Menelisik Akar Terorisme (26): Rahasia Kaum Freemanson

26 Juni 2026 - 12:34 WIB

Kemenperin Klarifikasi Soal Kabar PHK 2500 Pekerja di PT Pakerin Mojokerto

25 Juni 2026 - 20:34 WIB

MBR Bisa Nyicil Rumah sampai 40 Tahun

25 Juni 2026 - 20:01 WIB

Pengacara: Suami Sempat Video Call dengan Korban, ASN Bangkalan Ditemukan Tewas di Parkiran Bandara Juanda

25 Juni 2026 - 09:22 WIB

Progam Calon Manajer KDMP, Sebulan Tiga Peserta Latsarmil Meninggall Dunia

25 Juni 2026 - 08:45 WIB

Menelisik Akar Terorisme (25): Sepak Terjang Templar dan Freemanson

24 Juni 2026 - 20:53 WIB

Anissa dan Taufiq Meninggal Dunia Saat Ikuti Latsarmil Calon Manajer KDMP

24 Juni 2026 - 19:31 WIB

Rp24,9 Miliar Milik 158 Penunggak Pajak Disita DJP

24 Juni 2026 - 19:16 WIB

Trending di Nasional