Penulis: Sri Muryanto | Editor: Priyo Suwarno
LAMPUNG, SWARAJOMBANG.COM – Benda berharis garis menyala di malam hari sekitar pukul 20.00 WIB melintas di langit Lampung, khususnys di kawasan Tulang Bawang. Benda mirip temabakan rudal itu melayang lama dan panjang, kemudian menghilang.
Semakin mengetarkan, karena muncul sebuah video bahwa benda berbahaya itu ternyata jatuh di kawasan Gedung Aji, Tulang Bawang, Lampung.
Warga berhamburan keluar rumah, mata terpaku pada benda bercahaya yang meluncur deras, seolah meteor raksasa hendak mendarat tepat di depan pintu.
Video amatir langsung meledak di media sosial: “Ini jatuh di dekat DPRD!” seru netizen @Gi_N0ng, sambil rekam kobaran oranye menyala terang, diiringi keriuhan massa. Tapi, apa jadinya jika sensasi viral itu ternyata… hoaks antariksa?
Fenomena ini bukan sekadar gosip medsos. Pada Sabtu malam, 4 April 2026, pukul 19.56 WIB, langit Lampung benar-benar diterangi jejak api panjang. Bukan pesawat, bukan drone, melainkan “sampah antariksa” dari roket China CZ-3B R/B yang sudah pensiun.
Observatorium Astronomi Itera Lampung (OAIL) langsung turun tangan, mengonfirmasi: benda itu terbakar saat menembus atmosfer, pecah jadi serpihan-serpihan seperti kembang api raksasa.
“Ciri khas roket bekas, bukan meteor alam,” tegas peneliti OAIL, yang kini memantau data lintasan untuk pastikan tak ada fragmen nyasar ke daratan.
Peneliti BRIN, Thomas Djamaluddin, menambahkan plot twist: lintasan roket itu dari India, meluncur ke Samudera Hindia, dan mendarat aman di pantai barat Sumatera.
“Tidak berbahaya, karena sudah hangus total di atmosfer,” katanya. Bayangkan, ribuan kilometer di atas kita, puing-puing luar angkasa ini jadi saksi bisu misi-misi ambisius China – tapi untungnya, bukan jadi ancaman di tanah Lampung.
Sementara itu, hiruk-pikuk medsos tak terbendung. Video yang sama beredar dengan klaim liar: jatuh di Gedung Aji, dekat DPRD Tulang Bawang, bahkan Lampung Timur.
Warga Gedung Aji – kecamatan kecil di Tulang Bawang – cerita soal “cahaya biru menyilaukan” yang bikin anak-anak menangis ketakutan.
Polda Lampung langsung gerak cepat, koordinasi dengan Kapolres setempat hingga Minggu pagi, 5 April 2026. Hasilnya nihil: tak ada laporan warga, tak ada puing, tak ada ledakan.
Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Pol Yuni Iswandari Yuyun, membantah tegas klaim viral itu.
“Koordinasi dengan Dr. Robiatul Mustaba dari ITERA jelas: arah jatuh ke samudera, bukan daratan Lampung. Pengecekan lapangan di Tulang Bawang dan Lampung Timur aman total,” ujarnya.
Situasi terkendali, hoaks dibantai fakta – tapi cerita ini jadi pengingat: di era medsos, langit bisa “jatuh” kapan saja, asal verifikasi dulu.
Kini, OAIL terus pantau kemungkinan fragmen kecil. Sampah antariksa seperti CZ-3B ini bukan yang pertama; ribuan puing roket mengorbit Bumi, menunggu giliran terbakar. Bagi warga Lampung, malam itu jadi petualangan tak terlupakan: dari panik viral ke lega ilmiah. **











