Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Priyo Suwarno
AMERIKA, SWARAJOMBANG.COM- Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel menyebut aksi AS sebagai “serangan kriminal” dan “negara terorisme”, menyerukan respons internasional mendesak terhadap intervensi tersebut.
Dalam unggahan di platform X, Díaz-Canel menulis: “Kuba mengecam serangan kriminal oleh AS terhadap Venezuela.” Ia menggambarkan aksi tersebut sebagai “terorisme negara terhadap rakyat Venezuela yang pemberani dan terhadap Amerika Kita (Our America)”, serta menyerukan respons mendesak dari komunitas internasional.
Díaz-Canel menyoroti bahwa “zona perdamaian” Kuba sedang “diserang secara brutal”, menekankan pelanggaran kedaulatan dan eskalasi geopolitik di Amerika Latin.
Beberapa laporan menyebut ia membandingkan serangan ini dengan genosida Israel di Gaza, menandakan solidaritas kuat Kuba terhadap Venezuela.
Rusia mengutuk tindakan tersebut sebagai agresi bersenjata, menyerukan dialog dan menegaskan solidaritas dengan Venezuela.
Beberapa analis internasional, seperti yang dilaporkan media, menyoroti pelanggaran kedaulatan negara oleh AS, meski belum ada kutipan sarkasme spesifik dari analis terkemuka yang viral.
Presiden Donald Trump menyampaikan pidato singkat di Mar-a-Lago, Florida, pada 3 Januari 2026, mengonfirmasi penangkapan Nicolas Maduro dan mengumumkan AS akan mengambil alih pengelolaan sementara Venezuela.
Ia menekankan operasi militer sukses sebagai langkah untuk transisi kekuasaan aman, dengan fokus utama pada sektor energi. “Amerika Serikat telah berhasil melancarkan serangan skala besar terhadap Venezuela” dan Maduro beserta istrinya “berhasil ditangkap” lalu diterbangkan ke AS.”
Secara terang-tedangan dia menyatakan: “Amerika Serikat akan ‘mengelola’ negara itu sampai transisi kekuasaan yang aman, adil, dan solid dapat diatur. Kita akan menjalankan roda pemerintahan negara ini dengan benar,” sambil soroti minyak Venezuela agar “kembali mengalir sebagaimana mestinya” dan “menghasilkan uang untuk negara ini.”
Trump tekankan investasi miliaran dolar dari perusahaan minyak AS untuk rekonstruksi infrastruktur energi Venezuela, yang punya cadangan 303 miliar barel. “Ini tidak akan merugikan kita,” katanya, karena AS kuasai minyak dan stabilkan ekonomi pasca-rezim Maduro. Pidato ini disiarkan via Truth Social dan konferensi pers, picu kecaman dari Venezuela serta negara lain.
-
Dengan harga minyak terkini ($57-$61 per barel), nilai teoritis maksimal sekitar $17-18 triliun setara dengan sekitar Rp283 triliun rupiah, menggunakan nilai tukar terkini sekitar Rp16.650 per USD pada awal 2026.
-
Produksi harian hanya 1 juta barel, jauh di bawah potensi karena infrastruktur rusak dan sanksi.
-
Estimasi realistis untuk peningkatan produksi butuh puluhan miliar dolar investasi bertahun-tahun, seperti yang disebut Trump.
-
Harga minyak global fluktuatif ($56-$61 per barel akhir 2025-awal 2026) akibat ketegangan AS-Venezuela.
Estimasi cadangan minyak Venezuela menurut sumber resmi seperti US Energy Information Administration (EIA), BP Statistical Review of World Energy, dan OPEC adalah sekitar 303 miliar barel minyak mentah terbukti, menjadikannya negara dengan cadangan terbesar di dunia.
Angka ini konsisten sejak beberapa tahun terakhir, termasuk data 2022-2025, meskipun produksi aktual hanya sekitar 1 juta barel per hari akibat sanksi dan infrastruktur rusak.
Meski besar, nilai teoritisnya sekitar $17-18 triliun pada harga $57-61 per barel (2026), bukan angka hiperbola seperti klaim viral sebelumnya. Trump sebutkan potensi ini untuk investasi AS pasca-penangkapan Maduro. **











