Menu ✖

Mode Gelap

Ekonomi

Pengusaha Menjerit Hargar Solar Industri di Tanjungperak Rp27.000/L, Mencekik Ekonomi Jawa Timur

badge-check


					Ketua APBMI Jawa Timur, Kody Lamahayu,  menyatakan kenaikkan harga solar industri sangat tinggi, mengancam stabilitas biaya logistik dan distribusi barang di Jawa Timur. Foto: Instagram@portalJTv Perbesar

Ketua APBMI Jawa Timur, Kody Lamahayu,  menyatakan kenaikkan harga solar industri sangat tinggi, mengancam stabilitas biaya logistik dan distribusi barang di Jawa Timur. Foto: Instagram@portalJTv

Penulis: Sri Muryanto  |  Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWW.COM, SURABAYA-  Isu perang Iran-Israel  sejak meletus 28 Februari 2026, menyebabkan harga minyak dunia melonjak.  Kondisi terasa sejak awal Maret 2026,  solar industri di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, terus naik hingga kini mencapai hingga Rp27.000 per liter.

Sebelumnya harga sebelumnya sekitar Rp14.400 per liter, memicu keluhan keras dari pelaku usaha bongkar muat barang. Kenaikan hampir dua kali lipat atau 100 persen, sehingga biaya operasional alat berat, truk, dan logistik di pelabuhan semakin meroket.​

Ketua APBMI Jawa Timur, Kody Lamahayu sejak 10 Maret 2026 menyatakan hal ini mengancam stabilitas biaya logistik dan distribusi barang di Jawa Timur, terutama saat ekonomi masih pemulihan.​

Pelaku usaha khawatir biaya jasa bongkar muat ikut naik, membebani rantai pasok secara keseluruhan.​

Para pengusaha mendesak pemerintah untuk mengawasi distribusi dan harga agar tidak dimanipulasi penjual.​

Pertamina menyebut Rp27.000 bukan harga resmi nasional, melainkan kondisi lapangan yang viral di media sosial, dan menyangkal adanya kenaikan resmi sebesar itu.​

Isu ini dikaitkan dengan dampak konflik Timur Tengah terhadap harga minyak mentah global.​

Di tengah Ramadan dan aktivitas pelabuhan yang tinggi, kenaikan ini dianggap tidak wajar dan memerlukan evaluasi mekanisme distribusi.

APBMI meminta langkah konkret seperti pengawasan ketat untuk menjaga harga terkendali dan mendukung kelancaran logistik.​

Kenaikan harga solar industri di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, hingga Rp27.000 per liter dilaporkan terjadi sekitar awal Maret 2026.

Ahad Rahedi, Area Manager Communication, Relations, dan CSR Pertamina Regional Jatimbalinus, adalah pihak yang secara resmi merespons keluhan kenaikan harga solar industri di Pelabuhan Tanjung Perak.​

Ia menjelaskan bahwa harga dari terminal Surabaya sekitar Rp15.000 per liter, naik menjadi Rp17.000–Rp19.000 di tingkat agen dan industri, sehingga Rp27.000 yang viral bukan harga resmi.​

Respons ini disampaikan sekitar 13-14 Maret 2026 untuk menenangkan pelaku usaha di tengah isu yang ramai di media.

Kronologi

Keluhan dari Ketua APBMI Jatim, Kody Lamahayu, terekam dalam artikel tanggal 10 Maret 2026, menandakan kenaikan sudah terasa di lapangan sebelum berita viral.​

Media sosial dan video JTV mulai ramai membahasnya pada 12 Maret 2026, dengan konteks harga resmi periode 1-14 Maret masih di kisaran Rp21.000-Rp23.000 untuk wilayah Jatim.

Pertamina merespons isu ini pada 13-14 Maret, menegaskan Rp27.000 bukan harga resmi melainkan harga lapangan yang dipengaruhi faktor eksternal. **

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Aquarium Underwater Rp120 M, akan Dibangun Jatim Park Group-Investor Malaysia

24 September 2026 - 20:18 WIB

PHPS: Telur Ayam Ras Rp30.100, Cabai Rawit Tembus Rp100 Ribu Per Kilogran

24 September 2026 - 20:05 WIB

Pemerintah Siapkan Rp3,8 T, untuk Warga Usia 17 Tahun Berupa Rekening Rp50 Ribu

23 September 2026 - 20:11 WIB

Pasokan Gas Terbatas PHK Massal Bayangi Industri Keramik Jatim

22 September 2026 - 20:40 WIB

Beras Fortifikasi Menyumbang Kenaikan Harga

21 September 2026 - 19:06 WIB

Kuwalahan Permintaan, FIlipina Stop Ekspor Ubi Ungu, Peluang Emas Indonesia

20 September 2026 - 18:32 WIB

Harga Emas Jadi Rp2,623 Juta Per Gram, Naik Rp25.000

18 September 2026 - 20:31 WIB

PPn Dipastikan 11 Persen, Tidak Naik

18 September 2026 - 20:11 WIB

Pajak Market Place Mulai 1 November 2026

17 September 2026 - 16:30 WIB

Trending di Ekonomi