Menu

Mode Gelap

Nasional

Nawal El Saadawi: Demokrasi Itu Sebenarnya Tidak Ada

badge-check


					Nawal El Saadawi: Demokrasi Itu Sebenarnya Tidak Ada Perbesar

Penulis: Ganjar | Editor: Aditya Prayoga

SURABAYA, SWARAJOMBANG.COM– Nawal El Saadawi (1931–2021) adalah tokoh intelektual terkemuka dari Mesir, dikenal sebagai penulis, dokter, psikiater, dan aktivis feminis. Karya-karya fiksinya, seperti novel terkenal Perempuan di Titik Nol yang diangkat dari kisah nyata narapidana, dan nonfiksi yang kontroversial, seperti Woman and Sex (1972) yang sempat dilarang di Mesir selama 20 tahun, menjadikannya rujukan penting bagi akademisi dan aktivis.

Kritiknya Terhadap Tatanan Politik Global

Secara konsisten, El Saadawi melontarkan kritik keras terhadap praktik politik dunia, menyimpulkan bahwa “Tidak ada demokrasi di dunia” dan “Demokrasi adalah ilusi.”

* Amerika Serikat dan Barat: Pengalaman 20 tahun tinggal di Amerika memperkuat pandangannya bahwa sistem politik negara-negara besar tidak benar-benar demokratis. Ia mencontohkan pergantian kekuasaan di AS bahwa Bill Clinton, Obama, dan Donald Trump “tidak dikeluarkan dengan demokratis” karena proses politik sering digerakkan oleh kepentingan ekonomi
dan kekuatan elite, bukan suara publik.

* Mesir dan Kudeta Morsi: Kritiknya tak kalah tajam terhadap situasi di negaranya. Ia mempertanyakan legitimasi pergantian kekuasaan dengan bertanya, “Anda pikir bahwa Morsi dikeluarkan dengan demokratis?”

Sebagai konteks, Mohamed Morsi adalah Presiden Mesir terpilih secara demokratis (2012–2013) setelah Revolusi 2011, mewakili Ikhwanul Muslimin. Ia digulingkan oleh kudeta militer pimpinan Jenderal Abdel Fattah el-Sisi pada Juli 2013.

El Saadawi menilai bahwa campur tangan pihak luar, dukungan finansial, dan keberpihakan politik internasional memainkan peran besar dalam perubahan kepemimpinan di Mesir. Ia bahkan menyebut keterlibatan tokoh Barat sebagai indikasi kuat adanya kepentingan eksternal.

Pandangan Tentang Kapitalisme, Imperialisme, dan Agama
Lebih jauh, ia berpendapat bahwa kekuatan kolonial dan imperialis seringkali lebih memilih mendukung kelompok berbasis agama karena dianggap efektif mencegah lahirnya pemerintahan yang benar-benar revolusioner.

Baginya, kebebasan hakiki dan demokrasi sejati mustahil tercapai selama: Sistem kapitalisme,
Imperialisme, Patriarki, Otoritas religius
masih mendominasi.

Ia menegaskan, “Demokrasi adalah kebebasan yang benar. Kebebasan,” yang hanya bisa dicapai ketika elemen-elemen kontrol tersebut dihilangkan.

Melalui keberanian dan konsistensinya menantang struktur kekuasaan, baik di tingkat nasional maupun global, Nawal El Saadawi dikenang sebagai intelektual feminis yang pemikirannya terus menjadi referensi penting dalam diskusi mengenai keadilan sosial dan politik.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

UMKM dan Penginapan Senyum Lebar, Jika KA Penuh

17 Mei 2026 - 20:11 WIB

Mulai 2027 Kelas 3 SD Wajib Bahasa Inggris

17 Mei 2026 - 19:28 WIB

Presiden Cabut Sejumlah Kewenangan Polri Dialihkan ke TNI, Andrianus Meliala: Kembali ke Dwi Fungsi ABRI

16 Mei 2026 - 21:54 WIB

Pelatihan Kebersihan Depo Air dan Gigi Mahasiswa Poltekses Surabaya di Desa Plumbon Gambang Jombang

16 Mei 2026 - 20:42 WIB

Prabowo: Mau Dolar Berapa Ribu, Kalian di Desa Kan Gak Pakai

16 Mei 2026 - 20:00 WIB

Peluang Bisnis Ternak Unta di Indonesia

15 Mei 2026 - 19:53 WIB

Dedi Mulyadi Bayar Denda Rp240 Juta dan Pulangkan 4 TKW yang Disekap di Libya

15 Mei 2026 - 14:06 WIB

Satu Pasien Meninggal, Evakuasi saat Kebakaran di Lantai V Pusat Layanan Jantung RSUD Dr. Soetomo

15 Mei 2026 - 10:22 WIB

Pemerintah Pastikan Gaji ke-13 PNS dan Pensiunan Segera Cair

14 Mei 2026 - 19:58 WIB

Trending di Nasional