Penulis: Tanasyafira Libas Tirani | Editor: Priyo Suwarno
YEONGDEOK-KORSEL, SWARAJOMBANG.COM– Sugianto, 31, adalah warga negara Indonesia yang saat ini menjadi buah bibir di Korea Selatan. Karena dianggap berjasa sebagai menyelamatkan sekitar 60 warga terutama lansia desa dari kebakaran hutan di Yeongdeok-gun, tanggal 25 Maret 2025.
Yeongdeok-gun, kata “gun” (군) dalam bahasa Korea berarti “kabupaten” atau “distrik.”, unit administratif yang mencakup daerah pedesaan dengan beberapa kota kecil dan desa. Yeongdeok-gun merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Gyeongsang Utara, Korea Selatan.
Berada di pesisir timur negara tersebut, dengan jarak sekitar 47 km ke arah selatan dari kota Pohang. Kabupaten ini dikenal sebagai daerah penghasil kepiting salju yang terkenal dan memiliki berbagai objek wisata alam seperti gunung Palgak dan pantai-pantai di Laut Timur.
Kawasan itu kemudian menjadi salah satu area kebakaran hutan yang besar yang terjadi sejak 21 Maret 2025. Api mulai menyala di kawasan hutan Uiseong, menyebar dengan cepat dan mengancam keselamatan penduduk setempat, terutama lansia yang memiliki mobilitas terbatas.
Pada hari kelima, tanggal 25 Maret 2025, api sudah mulai mendekati desa Yeongdeuk-gun, dimana Sugianto tinggal. Ia dikenal sebagai nelayan di desa tersebut. Dia pula yang mengambil inisiatif untuk memperingatkan warga tentang kebakaran.
Bersama kepala desa Yoo Myung-shin, ia berlari dari rumah ke rumah, membangunkan penduduk yang sedang tidur dan mendorong mereka untuk segera mengungsi. Sugianto berkeliling ke tetangganya terdekat, memperingatkan warga tentang kebakaran yang mendekat.
Mereka mengetuk pintu rumah-rumah dan membangunkan penduduk yang sedang tidur dengan teriakan, “Nek, ada kebakaran di gunung. Kita harus segera mengungsi!”.
Bahkan Sugianto dan kepala desa menggendong beberapa warga lansia yang tidak dapat bergerak cepat. Mereka berlari sejauh sekitar 300 meter ke tempatlebih aman, yaitu ke lokasi pemecah gelombang di depan desa.
Dia menggendong seorang wanita tua dan berusaha memastikan semua orang dapat selamat. Berkat tindakan cepat dan keberanian Sugianto, tidak ada korban jiwa di desa tersebut, dan semua 60 penduduk yang ada berhasil dievakuasi dengan selamat.
Dalam proses evakuasi itu, Sugianto juga menggendong beberapa lansia, termasuk seorang nenek berusia 90 tahun, dan membawanya sejauh 300 meter ke tempat yang lebih aman.
Seorang warga desa berusia 90-an mengatakan, “Jika Sugianto tidak ada di sana, kami semua pasti sudah mati. Saya tertidur saat menonton TV, tetapi ketika saya terbangun karena mendengar teriakan bahwa ada kebakaran di luar, saya melihat ke luar dan melihat Sugianto di sana. Saya berhasil melarikan diri dari rumah dengan menggendongnya.”
Sugianto mengatakan, “Saya tidak ingat berapa kali saya berlarian dengan kepala desa saat itu. Saya menggendong nenek-nenek yang terbangun karena suara saya.”
Warga setempat sangat menghargai tindakan heroik Sugianto. Mereka menyatakan bahwa tanpa bantuan dari Sugianto dan kepala desa, banyak dari mereka mungkin tidak akan selamat. Sugianto sendiri merasa bahwa keselamatan penduduk adalah prioritas utama saat menghadapi situasi darurat tersebut.
Kisah ini tidak lepas dari kebakaran hutan yang melanda wilayah tersebut, dimulai dari tanggal, 21 Maret 2025. Kebakaran itu berawal dari hutan di Kabupaten Sancheong, Provinsi Gyeongsang Utara, sekitar pukul 15.00 waktu setempat. Api dengan cepat menyebar ke daerah Uiseong dan sekitarnya, diperburuk oleh angin kencang dan kondisi kering.
Dalam tempo 24 jam api terus berkobar, hingga 22 Maret 2025, menyebabkan evakuasi massal. Sekitar 27.000 warga terpaksa mengungsi dari rumah mereka. Pada hari ini, dilaporkan ada empat korban tewas, termasuk tiga petugas pemadam kebakaran dan satu pegawai negeri.
Hari ketiga, 24 Maret 2025, jumlah korban tewas meningkat menjadi 19 orang akibat kebakaran yang semakin meluas. Api menghancurkan banyak bangunan, termasuk kuil Buddha berusia 1.300 tahun.
Keesokan harinya, pada tanggal 25 Maret 2025, korban tewas mencapai 28 orang. Kebakaran menyebabkan kerusakan yang parah di berbagai daerah, termasuk Andong dan Yeongdeok. Sugianto, seorang WNI, berperan penting dalam menyelamatkan lansia dari kebakaran ini.
Pemerintah provinsi Gyeongsang Utara, Korea Selatan, serta aparat setempat akhirnya berhasil memadamkan api kebakaran itu pada tanggal 30 Maret 2025. Setelah hampir sepuluh hari berjuang melawan api, pihak berwenang mengumumkan bahwa kebakaran telah berhasil dikendalikan. Namun, total korban tewas dilaporkan mencapai 30 orang dan lebih dari 48.000 hektare lahan telah terbakar.
Disela-sela perjuangan hebat usaha memadamkan api itu, ada sesosok manusia Indonesia dengan ringan tangan membantu tetangga dan warga desa Yeongdeok-gun, terhindar dari malapetakan dan korban sia-sia.
Nama Sugianto pun melejit sebagai ‘pahlawan’ bagi warga Yeongdeok-gun. Kabar ini didengar oleh pemerintah Korea Selatan negara yang sangat menghargai jerih payah seseorang untuk kemanusiaan.
Sebagai bentuk penghargaan atas tindakan heroiknya dalam menyelamatkan warga lansia dari kebakaran hutan, pemerintah Korea Selatan berencana memberikan visa tinggal jangka panjang (F2) kepada Sugianto.
Kementerian Kehakiman Korea Selatan menganggap aksinya sebagai kontribusi signifikan bagi kepentingan umum dan keselamatan masyarakat setempat. Jika permohonan ini disetujui, itu akan menjadi pengakuan resmi atas keberanian dan dedikasi Sugianto dalam situasi darurat tersebut. **