Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Priyo Suwarno
JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM – Nama imam Yesuit asal Indonesia, Christoforus Bayu Risanto SJ, kini resmi melintas di langit sebagai nama sebuah asteroid. Working Group for Small Body Nomenclature (WGSBN) di bawah International Astronomical Union (IAU) membubuhkan nama (752403) Bayurisanto sebagai penghormatan atas kiprahnya di dunia sains dan Gereja.
Asteroid yang sebelumnya dikenal dengan penanda 2015 PZ₁₁₄ itu berada di Sabuk Utama, di antara orbit Mars dan Jupiter.
Batu angkasa ini mengelilingi Matahari pada jarak rata-rata sekitar 2,2 hingga 3,3 satuan astronomi (AU), dengan orbit stabil dan aman sehingga tidak berpotensi mengancam Bumi.
Penamaan tersebut dimuat dalam WGSBN Bulletin edisi 12–16 Januari 2026, sebuah bentuk penghargaan yang terbilang langka bagi ilmuwan sekaligus tokoh religius.
Kontribusi
Penghormatan ini diberikan atas kontribusi ilmiah Romo Bayu di bidang meteorologi dan ilmu atmosfer, yang sekaligus menunjukkan jembatan keilmuan lintas disiplin dari studi cuaca hingga astronomi.
Ia memiliki rekam jejak internasional, antara lain mengajar di Sekolah Menengah Atas Xavier di Mikronesia pada 2007–2009, serta terlibat dalam proyek riset cuaca di Meksiko dan Arab Saudi.
Kini, Romo Bayu tercatat sebagai peneliti pertama asal Indonesia di Vatican Observatory sejak Juli 2024.
Ia berbasis di dua lokasi observatorium milik Vatikan, yakni Castel Gandolfo di Italia dan Tucson, Arizona, Amerika Serikat.
Jejak hidup
Christoforus Bayu Risanto lahir di Bogor pada Januari 1981. Masa kecil dan remajanya dihabiskan di kota kelahiran hingga 1996, sebelum melanjutkan pendidikan ke Seminari Menengah St. Petrus Kanisius, Magelang.
Ia masuk Serikat Yesus pada tahun 2000, menerima tahbisan imam pada 2012, dan mengucapkan Kaul Akhir pada 15 Agustus 2025.
Perjalanan akademiknya dimulai dengan studi filsafat pada 2003, dengan tesis tentang konsep waktu dalam fisika Newton dan Einstein beserta implikasi epistemologisnya.
Setelah meraih gelar master teologi pada 2012, ia melanjutkan studi doktoral (Ph.D.) di bidang meteorologi dan klimatologi di Amerika Serikat.
Dalam program tersebut, Romo Bayu terlibat proyek riset di Universidad Nacional Autónoma de México (UNAM), Meksiko, dan King Abdullah University of Science and Technology (KAUST), Arab Saudi, lalu meneruskan penelitian pascadoktoral di University of Arizona.
Selain riset, ia juga pernah mengajar fisika, geometri, dan sains di tingkat sekolah menengah atas di Mikronesia.
Fokus risetnya mencakup prediksi cuaca numerik di wilayah semi-kering hingga gersang, yang kemudian memperkaya kontribusinya pada kajian atmosfer dan semakin mengokohkan alasan di balik penamaan asteroid (752403) Bayurisanto. **











