Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Priyo Suwarno
TOKYO, SWARAJOMBANG.COM– Tak mau ketinggalan dari Amerika dan China, saat ini Jepang resmi meluncurkan sistem komputer kuantum hasil riset mandiri penuh, menyusul Amerika Serikat dan Tiongkok yang lebih dulu memimpin perkembangan teknologi masa depan ini.
Perangkat bernama MoQuren beserta sistem superkonduktor pendampingnya diumumkan secara resmi pada pekan terakhir Juli 2026 oleh konsorsium yang dipimpin RIKEN dan sejumlah perusahaan teknologi nasional.
Kehadirannya mengubah peta persaingan yang semula didominasi dua negara adidaya, sekaligus menawarkan pendekatan yang berbeda dari pesaingnya.
Berbeda dengan Amerika Serikat yang melalui IBM dan Google lebih mengandalkan teknologi superkonduktor yang harus disimpan dalam suhu mendekati nol mutlak, serta Tiongkok yang mengembangkan sistem fotonik dan superkonduktor secara bersamaan untuk mencapai supremasi hitungan, Jepang menempuh jalur yang lebih menekankan pada kepraktisan.
MoQuren menggunakan teknologi fotonik yang dapat beroperasi pada suhu ruang biasa, sehingga tidak memerlukan perangkat pendingin raksasa yang memakan biaya dan energi sangat besar.
Prof. Dr. Akira Fujimura, Kepala Pusat Riset Kuantum RIKEN, menjelaskan keunggulan ini dalam konferensi pers peresmian.
“Kami tidak sekadar berlomba mengumpulkan jumlah qubit terbanyak. Kami ingin menciptakan teknologi yang kelak benar-benar bisa dipasang di pusat data biasa, hemat energi, dan mudah dirawat. Inilah yang menjadi perbedaan mendasar pendekatan kami dibandingkan yang sudah ada sebelumnya,” ujarnya.
Sistem superkonduktor buatan Jepang sendiri kini telah mencapai kemampuan hingga 256 qubit, namun dengan tingkat kesalahan yang jauh lebih rendah dibandingkan kebanyakan sistem sejenis.
Seluruh komponen mulai dari bahan dasar, sirkuit, hingga perangkat lunak pengendali bernama OQTOPUS dikembangkan sepenuhnya oleh peneliti dalam negeri tanpa bergantung pasokan dari negara lain.
Hal ini menjamin kemandirian teknologi yang menjadi salah satu prioritas utama kebijakan industri Jepang.
Para ahli menilai terobosan ini sangat penting karena hambatan terbesar adopsi komputer kuantum selama ini justru terletak pada kerumitan perawatan dan biaya operasional yang sangat mahal.
Jika teknologi suhu ruang ini semakin matang, dalam waktu beberapa tahun ke depan komputer kuantum tidak lagi hanya menjadi milik laboratorium khusus, melainkan bisa dimanfaatkan secara luas untuk pengembangan obat baru, desain material ramah lingkungan, perhitungan iklim, hingga pengamanan sistem keuangan dan komunikasi nasional.
Meskipun Amerika Serikat dan Tiongkok masih memegang keunggulan pada skala hitungan tertentu, kehadiran Jepang melengkapi keragaman pendekatan teknologi ini.
Persaingan kini bukan lagi soal siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang paling cepat menghadirkan manfaat nyata bagi kehidupan.
Pemerintah Jepang pun telah menyiapkan kerangka kerja sama dengan industri dan lembaga pendidikan untuk memastikan teknologi ini terserap dan dikembangkan lebih lanjut demi kemajuan bersama.**











