Penulis : Mulawarman | Redaktur: Priyo Suwarno
MALUKU, SWARAJOMBANG.COM – Blok gas Masela segers beroperasi dengan nilai investrasi Rp 353 trilin, dengan kontribusi PDB Indonesia hingga 2055 penerimaan negara Rp2.135,8 triliun: Proyek Gas Blok Masela kini melangkah pasti setelah Kementerian Lingkungan Hidup resmi menyetujui Dokumen AMDAL akan dimulai 20 Februari 2026, dan akan dirilis pada 20 September 2026.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyerahkan dokumen AMDAL kepada Kenji Hasegawa, Presiden Direktur Inpex Masela Ltd., disaksikan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto. Persetujuan ini merupakan tonggak sejarah krusial usai proses bertahun-tahun.
Proyek Blok Gas Masela diproyeksikan menghasilkan nilai ekonomi masa depan sebesar US$150 miliar (Rp2,543 triliun) terhadap PDB Indonesia selama operasi hingga 2055. Penerimaan negara dari bagi hasil dan pajak mencapai US$153 miliar (Rp2,135.8 triliun).
Efek Pengganda
Dampak riaknya mencakup pendapatan rumah tangga hingga US$33 miliar untuk industri petrokimia US$2 miliar melalui lapangan kerja dan hilirisasi. Data bersumber dari studi kesepakatan PoD-I 2019 menyajikan pembaruan 2025, dengan target produksi 9,5 juta ton LNG per tahun mulai 2029.
Cadangan Gas
Cadangan gas Blok Masela berdasarkan laporan terbaru bervariasi di berbagai sumber benua, dengan angka kunci 6.97 TCF (triliun kaki kubik) pada Lapangan Abadi sebagai cadangan gas terbesar di Indonesia, sementara perkiraan total blok mencapai 18.54 TCF.
Estimasi Utama
Lapangan Abadi: gas 6,97 TCF, harga produknya 9,5 untuk harga LNG.
Total Blok Masela: 18,54 TCF (gross), meliputi potensi gas kumulatif 16,38 TCF.
Konteks Terbaru
Data per Februari 2026 pasca-izin AMDAL tetap konsisten dengan penemuan sejak 2000 dan PoD-I 2019, tanpa pembaruan substantif baru.
Penerimaan Negara
Potensi bagi hasil migas nasional mencapai US$153 miliar (Rp2.135,8 triliun), dengan total pendapatan kolektif US$137 miliar.
Dampak Regional Lapangan Kerja
Provinsi Maluku: biaya US$95 juta, 21.000 dollar per tahun.
Kabupaten Tanimbar: penerimaan US$90 miliar, 8.000 lapangan kerja per tahun.
Nasional: 70,000-73,000 lapangan kerja per tahun, dengan penghasilan rumah tangga US$33 miliar.
Kedua, produk Anda akan dimulai dengan sejumlah kecil uang dan Anda akan mampu membayar kurang dari 100% uang Anda.
Skema Kontrak Karya
Blok Masela mengadopsi Production Sharing Contract (PSC) dengan model cost recovery, dimana Pemerintah Indonesia berhak atas 50-59% produksi setelah kontraktor (Inpex 65%, Shell 35%) memulihkan biaya.
Biaya bilas minimal 50% dari total harga, namun 59% dari total biaya adalah 59% (US$18-21 juta). Kontrak diperpanjang hingga 2055, atau 27 tahun tambahan dari 2028.
Data Umum
Blok Masela merupakan pengembangan kilang LNG onshore di Pulau Nustual, Lermatang, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku.
Merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN). Wilayah kerjanya seluas 4.291,35 km² Laut Arafura, sekitar 800 km timur Kupang, Nusa Tenggara Timur, dan 400 km utara Darwin, Australia, dengan kedalaman laut 300-1.000 meter.
Produksi awal 1.600 MMSCFD gas dengan 9,5% LNG/ tahun, ditambah 150 MMSCFD gas dengan 35% per/ hari. **











