Menu

Mode Gelap

Nasional

Menelisik Akar Terorisme (8): Sepak Terjang Kaum Templar

badge-check


					Ilustrasi. Foto: Ist Perbesar

Ilustrasi. Foto: Ist

Penulis: Jacobus E. Lato  |  Editor: Hadi S. Purwanto

DWARAJOMBANG.COM— Meskipun demikian, sejumlah ksatria orde militer melepaskan diri dari kelompoknya agar bisa meneruskan praktek organisasi mereka dalam bentuk baru.

Raja Philip dan Jacques de Moley pun berusaha menjarah dan menghancurkan keberadaan mereka.

Operasi kedua penguasa itu dinilai sama efisiennya dengan operasi Hitler ketika menyingkirkan Röhm dan para pengikutnya yang Berbaju Coklat.

Meski demikian, catatan kekayaan kaum Templar di Paris atau arsip-arsip sekte lain atau armada pertahanannya, terutama yang berbasis di La Rochele, sama sekali tidak ditemukan.

Banyak bukti dan sejumlah tradisi memperlihkatkan bahwa kekayaan dan nyaris semua arsip organisasi itu dipindahkan dengan kapal laut dan dibawa oleh Kaum Templar yang mengungsi ke Portugal dan ke pantai barat serta timur Skotlandia, tempat mereka disambut dengan sangat baik.

Setelah diperingatkan, de Molay mengumpulkan banyak catatan kekayaan organisasi kemudian membakarnya. Salah satu pengakuan yang diungkapkan dari para ksatria Prancis dan dicatat oleh Inkwisi adalah kesaksian John de Châlon dari Poitiers.

Berdasarkan pernyataannya, Gerard de Villieers, sang pendidik (Preceptor) orde itu, sudah lebih dulu mengetahui penangkapan massal sehingga dia memutuskan melarikan diri dari Kuil kaum Templar di Paris bersama lima puluh ksatria, yang diperintahkannya dibawa ke laut dalam delapan belas perahu Templar.

Di negara-negara Eropa lain, kaum Templar bergabung dengan Knights Hospitaller atau juga meninggalkan orde mereka dan bergerak di bawah tanah.

Di Jerman, di mana para ksatria dari kelompok Teutonic Knight sedang membangun sebuah kerajaan di timur, kaum Templar bergabung bersama mereka dan bersedia menerima upacara-upacara keagamaan mereka yang sedikit berbeda.

Nyaris semua pengungsi kaum Templar Prancis yang ditempa oleh kerasnya laut mencapai Skotlandia.

Menurut sebuah tradisi Masonik Prancis (sebuah tradisi yang dibangun berdasarkan tiga prinsip dasar yaitu; kebenaran, cinta persaudaraan dan kerelaan untuk mendukung orang lain yang membutuhkann), berbagai catatan dan kekayaan dibawa dengan sembilan kapal laut ke Pulau Mey di Firth di Forth.

Sebagian lagi yakin bahwa kapal-kapal itu menuju Irlandia kemudian menuju Mull dan Western Isles di Skotlandia.

Ketika pihak berwewenang mendadak memasuki rumah-rumah Kaum Templar Irlandia, mereka menyaksikan para anggota organisasi sudah melepaskan semua perhiasan mereka, namun, pada saat bersamaan Robert Sang Bruce justru memperoleh banyak pasokan senjata sebelum Perang Bannock-burn, berkat biaya serta keluhan Raja Edward II dari Inggeris.

Robert Sang Bruce dari Normandia dan keturunan bangsawan Skotlandia diekskomunikasi atau dikeluarkan dari komunitas Gereja Katolik karena melakukan pembunuhan atas John Comyn, yang mengalahkan Inggris tiga kali dalam sehari, namun belakangan mengakui kedaulatan Inggris dan Gereja Roma.

Setelah tindakan murtad ini patriot dan pemimpin gerilyawan Skotlandia, William Wallace ditangkap dan dieksekusi mati secara mengerikan oleh Inggris.

Kini Bruce menentukan sikapnya melawan Raja Edward II dan pasukannya di Bannokburn, tiga bulan setelah Jacques de Molay dibakar pada tiang gantungan.

Pertempuran terjadi dekat Puri Stirling pada hari raja St. Yohanes, Juni 1314, yang merupakan tanggal penting bagi orde-orde militer yang menghormati Sang Pembaptis.

Pasukan Bruce kalah jumlah dengan sedikitnya tiga berbanding satu, 6.000 anggota pasukan melawan 20.000 tentara.

Kekurangannya terletak pada banyaknya ksatria. Ada 3.000 ksatria yang masuk dalam pasukan Inggris sementara Skotlandia hanya mampu mengerahkan 500 pasukan kavaleri dengan persenjataan yang tidak memadai.

Kisah-kisah berkenaan dengan konflik itu sangat jarang dan itupun tercerai-berai, namun mereka membuktikan keberadaan dua peristiwa yang aneh.

Menyusul tuntutan banyak tentara penjaga melawan para pemanah Inggris dari pasukan cadangan yang ditahan kembali oleh Bruce, sepasukan tentara berkuda yang masih segar bugar kemudian maju dengan spanduk-spanduk berkibaran ketika semua pasukan bertempur kemudian mengejar musuh.

Skadron pasukan baru ini menciptakan terror di Inggris yang mengakui kekuatan musuh mereka juga spanduk perang mereka, Beauseant.

Dengan harapan pada akhirnya mampu menciptakan perdamaian dengan pihak gereja sehingga sebuah perang salib dapat diumumkan melawan bangsa Skotlandia seperti menentang kaum bidaah Cathar dari Languedoc, Rober Sang Bruce, menuntut agar Kaum Templar menjadi organisasi rahasia, yang belakangan memunculkan Upacara Perkumpulan Kebatinan kaum Freemason di Skotlandia Kuno.

Menurut sebuah tradisi kuno, Bruce membangun Orde Bangsawan Skotlandia guna menghargai keberanian kaum Templar di Bannockburn. Guru Agungnya Yang Berdaulat (Sovereign Grand Master) adalah Raja Skotlandia.

Jabatan ini diduduki oleh para bangsawan dan tetap hidup hingga sekarang bersama kekuasaan rahasianya. Meski orde itu tidak disatukan dengan kaum Templar, banyak anggotanya yang kenamaan menjadi anggota Orde Para Bangsawan, termasuk Grand Masternya di Skotlandia.

Kontribusi kaum Templar kepada Ritus Skotlandia Kuno para Freemason yang kemudian muncul dan memberontak adalah organisasi serta upacara-upacara mereka.

Hingga kini, hirarki para Freemason ini dibangun berdasarkan pendahulunya Kaum Templar dan kaum Assassin, termasuk juga sumpah rahasia mereka.

Simbol tengkorak dan simpul tali, pilar Kuil kembar, Tabut Perjanjian, ular pada salib Tau serta kaki lima hitam-putih yang diselipkannya merupakan tiruan atas Beauseant, semuanya diteruskan pada Ritus Skotlandia Kuno, sebagaimana masih dapat dilihat pada Kitab Gulungan Kirkwall dari abad kelima belas di Orkney, yang menjadi bukti yang bertahan tentang koneksi Templar.

Yang paling penting lagi, kepercayaan Kaum Cathar dan Templar terhadap pendekatan langsung menuju kebijaksanaan ilahi bertentangan dengan Gereja dan negara yang rusak dan penuh penindasan, sehingga diwariskan dalam kerajinan tangan dan gilde abad pertengahan yang belakangan berkembang sebagai Freemason.

Dalam Perang Sipil di Inggris, juga dalam Revolusi Amerika serta Prancis, kelompok bawah tanah Lodge bertindak sebagai pusat-pusat operasi militer seperti para komando orde Templar lama.

Juga, bidaah yang sesungguhnya dari pewahyan suci pribadi mengilhami abad-abad paling berdarah terror suci dalam sejarah Eropa, dua ratus tahun setelah datangnya Reformasi dan pembunuhan-pembunuhannya.**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Soal Foto Seronok Siswi Dikeluarkan dari MAN 7 Jombang, Ibu Minta Bantuan Cak Sholeh

26 Mei 2026 - 00:43 WIB

Diagnosis Mumpuni Indonesia Antisipasi Ebola

25 Mei 2026 - 19:50 WIB

Warga Temukan Jasad Wanita di Bawah Flyover Aloha Sidoarjo

25 Mei 2026 - 08:32 WIB

Gedung Putih Diserang Rentetan Tembakan, Nasir Best Tewas Ditemvak Agen Keamanan

25 Mei 2026 - 01:01 WIB

Dedy Mulyadi Cetuskan Pesta Babi: Jabar Kehilangan 12.000 Ha Hutan Akibat Eksploitasi

24 Mei 2026 - 23:57 WIB

Satgas PKH Cabut IUP PT Emas Hitam Mulia, 12 Tahun Menambang Batubara di Hutan Lindung Kaltim

24 Mei 2026 - 21:11 WIB

Harga Pangan Melonjak Jelang Idul Adha 2026

24 Mei 2026 - 20:45 WIB

Iuran BPJS Kesehatan 2026 Naik, Menkes Pastikan PBI Aman

24 Mei 2026 - 20:34 WIB

Hilirisasi Zirkon, Jalan Menuju Kemandirian Teknologi Nasional

24 Mei 2026 - 20:26 WIB

Trending di Nasional