Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
SWARAJOMBANG.COM— Revolusi Prancis beserta konsekwensinya diperlihatkan dengan sangat baik oleh Jacques-Louis David dalam bukunya Marat, Assassinated (Marat, Terbunuh), yang merupakan preluda atas hempasan angin dari buku Napoleon crossing the Alps (Napoleon Menyeberangi Pegunungan Alpen).
Berbagai guncangan menyusul pembunuhan pemimpin terroris yang tengah mandi menjadi tuduhan teror itu sendiri; dibohongi para pembunuhnya sendiri. Memang, Marat tidak kebal dari balas dendam hukuman mati.
Tirani yang didukungnya dengan dalih Kehendak Rakyat seperti diperlihatkan Daud, berakhir dalam despotisme Napoleon, yang melesat menunggang menuju kemenangan kekaisaran yang akhirnya merendahkan martabat manusia.
Kekalahan Napoleon di Spanyol menginspirasi Fransico de Goya memperlihatkan deskripsi lebih maju dari ketakutan selama perang.
Berkat dukungan pasukan-pasukan Duke of Wellington, petani bangkit menentang pendudukan Perancis membebaskan semenanjung Iberia setelah tahun 1808, sehingga menghentikan pesaingnya di Waterloo.
Rangkaian rangkaian lukisan karya Goya, Los desastres de la Guerra (Tentang Bahaya Perang), memperlihatkan konsekwensi revolusi atas kemerdekaan, yang dirusak menjadi tirani buas.
Pejuang kemerdekaan Spanyol dengan brutal dieksekusi karena keyakinan mereka yang salah bahwa Perancis akan datang membebaskan, bukan untuk menaklukan mereka.
Dalam karyanya sang pelukis tidur, sketsanya Caprichos memperlihatkan impian Akal Budi yang tengah menciptakan para monster. Dan memang, terjadi.
Karya-karya kontemporer Goya mencoba melakukan rekonsiliasi “persaudaraan penggali kubur, kesederajatan makam serta kebebasan maut.”
Setelah Goya, seorang pelukis jenius Inggeris pula berkurangnya Teror Besar lain masa itu. Pada 1840, J.M. W. Tunrer melukiskan The Slave Ship (Kapal Budak) atau Slaves Throwing Overboard the Dead and Dying – Typhoon Coming On (Budak Melemparkan Diri dari Kapal Penumpang Mati dan Sekarat—Badai Berkecamuk).
Lukisan itu menyajikan insiden sesungguhnya, ketika enam puluh tahun sebelumnya seorang kapten kapal melemparkan dari kapalnya penduduk Afrika yang sakit yang diangkutnya agar bisa mengklaim asuransi atas kapalnya.
Menyadari kenyataan ini, budak-budak terakhir dengan putusan sendiri melompat ke dalam kebebasan laut buas.
Dalam lukisan itu, gelombang keras dan mentari senja merah darah mendominasi, walau ikan-ikan hiu memakan tungkai dan lengan jenasah-jenasah hitam yang dirantai.
Para budak dan kapal nyaris tenggelam dalam alam yang marah. Kekejaman manusia menyerang surga, yang sebaliknya marah kepada ketidakadilan manusia kepada manusia lain.
John Ruskin yang pernah memiliki lukisan itu, mengatakan bahwa keabadian karya Turner dapat ditemukan dalam lukisan itu, namun dia menjualnya kepada seorang warga Amerika karena sulitnya hidup di hadapan pertunjukan penderitaan manusia.
Berbagai lukisan itu merupakan pengakuan atas perbuatan jahat yang beriring jalan dengan penolakan atas kekejaman masa lalu.
Ikan-ikan hiu merepresentasikan orang-orang kulit putih yang melumat tuntas mangsa mereka yang terkungkung sementara kemarahan ilahi mengancam semuanya dalam angin topan yang marah, disamarkan sebagai badai di lautan.
Kepekaan kaum Victoria hanya akan menerimanya seperti ini, seperti diperlihatkan dalam karya Gericault, Raft of Medussa (Rakit Medussa).
Dalam lukisan itu, suasana muram menggayuti orang-orang yang mampu bertahan hidup ditarik keluar dari kesulitannya, sementara kapal penyelamat ragu-ragu berlayar melewatinya.
Ada aturan yang memang dibuat untuk mengelola ketakutan manusia sehingga dapat dilukiskan. Kesadaran diri dibiarkan agar mampu menyisipkan hal yang hanya disarankan untuk dilihat. (Bersambung)











