Penulis: Ganjar | Editor: Aditya Prayoga
BLITAR, SWARAJOMBANG.COM– Di sebuah siang, barisan muda Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) tiba di sebuah desa perbatasan Blitar dan Malang. Sambutan hangat dari penduduk lokal menyambut mereka. Para ibu dengan sigap menyajikan hidangan terbaik, puncaknya adalah “ingkung”, seekor ayam bakar utuh yang menjadi simbol penghormatan bagi para pejuang.
Dalam kehangatan percakapan yang penuh cerita tentang pengalaman di medan laga, seorang sesepuh desa tiba-tiba menyampaikan keinginannya, “Mas, kami yang lebih tua juga ingin turut bertempur jika kalian berperang.”
Kesempatan itu pun datang. Intelijen menyebutkan sebuah pos kecil Belanda sedang dalam kondisi lemah karena ditinggalkan sebagian pasukannya. Sebuah peluang yang dinilai tepat untuk disergap.
Perlu dicatat, usia pasukan Mas TRIP kala itu masih sangat belia, antara 16 hingga 19 tahun. Ayah saya, yang merupakan anggota termuda, berusaha menjelaskan dengan penuh hormat. Baginya, perang bukan semata soal keberanian fisik atau usia. “Ini tentang strategi, kalkulasi risiko, dan ketersediaan senjata,” kenangnya.
Ia mengingatkan bahwa senjata andalan warga hanyalah bambu runcing, sementara di balik barikade karung goni, musuh bersembunyi dengan senapan mesin (mitraliur) yang bisa menghujani peluru tak henti-henti.
Maka, disusunlah strategi oleh komandan TRIP. Warga diajak bergabung di fase akhir serangan. Pasukan TRIP akan bergerak lebih dulu: merayap, mengambil posisi aman, dan mendekat diam-diam. Setelah tembakan pertama dilancarkan dan perhatian musih tertuju ke timur, barulah warga boleh menerjang.
Markas Belanda yang terletak di area terbuka memungkinkan serangan dari Barat dan Utara. Sisi lainnya terlalu berbahaya. Rencananya, TRIP akan menyerang dari Barat sebagai umpan, sementara warga menyerbu dari Utara.
Saat malam tiba, eksekusi dimulai. Pasukan TRIP bergerak pelan dalam gelap, diikuti dari belakang oleh warga yang penuh semangat. Namun, situasi berbalik arah secara tiba-tiba dan hampir berakhir tragis.
Ketika para pejuang muda TRIP masih merayap di tanah lapang yang tak ada perlindungannya, tiba-tiba dari belakang membahana teriakan takbir: “Allahuakbar! Allahuakbar!”

Penghargaan cikal bakal TNI
Semangat warga yang tak terbendung membuat mereka meluncur lebih awal sebelum waktunya. Kekacauan pun terjadi. Pasukan TRIP dan tentara Belanda sama-sama terkejut. Belanda langsung melepaskan peluru suar yang meledak di angkasa, menyinari seketika lapangan yang gelap.
Dalam cahaya terang benderang itu, ayahku untuk pertama kalinya menyaksikan peluru suar. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Dengan jelas, ia melihat tentara Belanda mengarahkan laras senapan mesin ke arah mereka yang masih terjebak di area terbuka. Mereka menjadi sasaran empuk..
Namun, keberadaan berpihak. Cahaya suar itu cepat padam, dan kegelapan kembali menjadi tameng. Ayahku langsung menempelkan badannya ke tanah sekuat tenaga. Desingan peluru mulai bersliweran di atas kepala. Dari arah suara itulah, dengan mengandalkan insting dan pendengaran, ia mencari celah untuk mundur.
Teriakan “Mundur! Mundur!” kemudian menggema. Dengan merayap dalam gelap pekat, dibimbing oleh naluri dan sedikit keberuntungan, ia berhasil menarik diri. Setelah merasa berada pada jarak yang aman, ia berlari dengan teknik “sipat kuping”, tanpa menoleh, sambil terus berteriak memimpin rekan-rekannya untuk menyelamatkan diri.
Malam itu tercatat sebagai pengalaman paling mencekam dalam hidupnya. Sebuah pelajaran berharga tentang arti sebenarnya dari perang, pentingnya strategi, dan bagaimana niat baik serta semangat yang membara bisa berubah menjadi malapetaka ketika tidak dikelola dengan disiplin.
Beruntung, tidak ada nyawa yang melayang malam itu, hanya beberapa orang yang mengalami luka-luka. Namun, hikmah dan kenangan pahit itu melekat kuat dalam ingatan ayahku, menjadi warisan cerita yang tak ternilai bagi generasi setelahnya.***
Kisah ini berasal dari Prijosanjoto yang diceritakan kepada putranya.***











