Penulis: Sri Muryanto | Editor: Priyo Suwarno
JOGJAKARTA, SWARAJOMBANG.COM– Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) BMKG, mencatat 22 kejadian gempa sejak 30 Januari 2026, dengan magnitudo terbesar mencapai 3.8 Skala Richter (SR).
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan fenomena ini dipicu aktivitas sesar Opak yang berada di wilayah tersebut.
Dalam konferensi pers virtual, Kepala Balai PVMBG Yogyakarta, Dr. Imam A. Riyadi, Jumat 6 Febaruwi 2026, menyebutkan bahwa gempa-gempa tersebut bersifat tektonik yang berasal dari segmen aktif Sesar Opak.
“Sesar Opak memiliki panjang sekitar 70 km, membentang dari selatan Gunung Merapi hingga Samudra Hindia. Aktivitasnya meningkat sejak 2006 pasca-gempa besar magnitudo 6,3 yang mencapai lebih dari 5.700 jiwa,” jujar Imam.
Data BMKG menunjukkan kronologi gempa sebagai berikut:
-
30 Januari 2026 : Total panjang 2,5 s/d 14.32 WIB, kurang lebih 7 km menuju Cangkringan, Sleman.
-
1 Februari : Tiga gempa beruntun (M 2.8–3.2 SR) di malam hari, dirasakan hingga Klaten.
-
3–5 Februari : Kegiatan puncak dengan 12 gempa, termasuk M 3,8 SR pada 4 Februari pukul 05.17 WIB, getarannya terasa III–IV MMI di Bantul dan Kulon Progo.
-
6 Februari (siang) : Dua gempa kecil M 2.1–2.4 SR.
Sumber: Data BMKG/PVMBG per 6 Februari 2026, dikonfirmasi per resmi, dan arsip UGM
Tidak ada laporan korban jiwa atau kerusakan signifikan, namun warga diimbau untuk tetap waspada.
“Intensitas gempa ini belum menandakan potensi gempa besar, tapi pemantauan 24 jam terus dilakukan. Kami sarankan hindari tambah bangunan rapuh dan ikuti protokol 3M: Menjauh, Membungkuk, Menggenggam,” Imam.
Sesar Opak pernah aktif pada tahun 2006, memicu gempa dahsyat yang menghancurkan ribuan rumah di Bantul. Sejak itu, aktivitas minor sering terjadi, terakhir pada tahun 2023 dengan 15 gempa dalam sebulan.
Ahli geologi dari UGM, Prof. Bambang Suwignyo, menambahkan, “Peningkatan ini wajar karena tekanan tektonik di Lempeng Indo-Australia terus mendorong lempeng Eurasia. Pemetaan ulang sesar diperlukan untuk mitigasi.”
Pemerintah Daerah DIY melalui BPBD telah mengaktifkan posko siaga dan sosialisasi evakuasi. Anda juga dapat mendownload aplikasi Info BMKG dan mendapatkannya melalui maghla.bmkg.go.id.
Risiko Utama
Fenomena ini sering memicu gempa kecil hingga sedang, seperti yang terjadi pada tahun 2006 (M 6.3, >5.700 korban jiwa dan ratusan ribu bangunan rusak). Guncangan kuat berpotensi di jalur sesar (Bantul, Sleman, Klaten) karena kedalaman hiposenter dangkal, ditambah bahaya ikutan seperti likuifaksi tanah di Sungai Opak, longsor perbukitan, dan runtuhnya bangunan.
Dampak Sosial-Ekonomi
Warga merasakan “lindu” atau getaran ringan secara intensif, menyebabkan trauma psikologis, keluhan sementara, dan gangguan aktivitas sehari-hari. Secara ekonomi, berisiko merusak infrastruktur pariwisata, pertanian, dan bangunan gempa non-standar, meskipun mitigasi seperti standar IMB aman gempa telah ditingkatkan pasca-2006.
Mitigasi
BMKG menecankan pemantauan 24 jam, literasi bencana, dan peta detail sesar untuk antisipasi. Namun hal ini mungkin disebabkan karena mungkin digunakan oleh 3M (Menjauh, Membungkuk, Menggenggam). **
()











