Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Priyo Suwarno
HONGKONG, SWARAJOMBANG.COM – Kebakaran dahsyat melanda kompleks apartemen (Wang Fuk Court) di distrik Tai Po, pada 26 November 2025 pukul 14:51, menjadi bencana mematikan terburuk sejak 1962 dengan 94 korban tewas, ratusan hilang, dan ribuan mengungsi.
Api berasal dari renovasi di (Wang Cheong House) — gedung 32 lantai dari delapan tower dengan kapasitas sekitar 4.600 jiwa— yang menyebar cepat melalui perancah bambu dan busa polistirena mudah terbakar, membakar tujuh tower selama 20 jam.
Dua korban tewas warga Indonesia, PMI, menurut Kementerian P2MI, adalah Novita dan Erawati. Dua PMI lainnya mengalami luka-luka dan sedang menjalani perawatan. KJRI Hong Kong terus melakukan pendataan dan koordinasi memastikan data korban akurat.
Presiden China [Xi Jinping] menyampaikan belasungkawa atas kebakaran tragis ini dan memerintahkan upaya maksimal dari Kantor Penghubung Pusat China di Hong Kong dan Komite Sentral Partai Komunis China untuk mendukung pemadaman api, pencarian penyelamatan, perawatan korban, serta penghiburan keluarga korban.
Beijing juga mengalokasikan dana darurat sebesar 2 juta Yuan (setara Rp4,7 miliar) kepada Palang Merah Hong Kong untuk penyelamatan dan bantuan kemanusiaan.
Kebakaran ini tercatat sebagai insiden kebakaran paling mematikan di Hong Kong sejak 1962, melampaui Garley Building yang menewaskan 41 orang pada 1996. Pada peristiwa ini, asap hitam pekat menyelimuti gedung dan evakuasi terhambat suhu ekstrem selama 20 jam perlawanan api.
Kronologi kejadian:
-
14:51: Api mulai saat renovasi oleh Prestige Construction sejak Juli 2024; alarm kebakaran gagal berbunyi di banyak area
-
15:34: Siaga pemadam tingkat 4; asap pekat menjebak penghuni di lantai atas
-
18:22: Eskalasi ke level 5; 767 petugas dan 140 kendaraan dikerahkan, evakuasi terhambat oleh suhu dan asap
-
Dini hari 27/11: Tiga tower padam setelah 10 jam; 4 lainnya terkendali pukul 06:00; pencarian korban mencapai lantai 13-23
Dua pekerja migran Indonesia sektor domestik meninggal, dua luka stabil dengan pendampingan dari KJRI. Sementara dua warga asal Ponorogo, Sri Wahyuni dan Siti Fatonah, hilang kontak dan dipantau oleh Kemenlu RI dan Disnaker. Total minimal empat WNI terdampak.
Polisi telah menculik tiga pria dari perusahaan konstruksi terkait dugaan kelalaian penggunaan material dan perancah tidak aman, dengan fokus penyelidikan pada busa polistirena dan kelalaian renovasi. Pemerintah membentuk tim khusus dalam investigasi ini. Warga setempat mengeluhkan fasilitas darurat kompleks yang sudah usang.
Update terbaru: KJRI Hong Kong terus memantau dan memperbarui data WNI terdampak serta melaksanakan evakuasi lanjutan. **











