Menu

Mode Gelap

Seni & Budaya

Cerita Nusantara: Kenali 4 Jenis Kuntilanak, Simak Tips Bule Selamat dari Serangannya

badge-check


					Kuntilanak merah lebih ganas dibanding yang klasik Perbesar

Kuntilanak merah lebih ganas dibanding yang klasik

Penulis: Satwiko Rumekso | Editor: Yobie Hadiwijaya

SURABAYA, SWARAJOMBANG.COM-Kuntilanak menjadi urban legend paling terkenal di Indonesia. Betapa tidak, penampakannya yang lazim di pepohonan pada malam hari kerap membuat orang ketakutan.

Sekadar informasi, kata kuntilanak diambil dari (puntianak) yang merupakan singkatan dari–perempuan mati beranak.

Hantu yang identik dengan wanita berambut panjang terurai berantakan itu kerap muncul disertai suara melengking. Ada yang bilang jika makhluk astral ini berasal dari jelmaan arwah perempuan yang meninggal ketika sedang hamil atau setelah melahirkan. Tentu saja itu hanya mitos belaka.

Selain dikenal menyeramkan, kuntilanak juga menyimpan berbagai fakta unik, di antaranya memiliki varian warna.

Warna tersebut ternyata menunjukkan karakter kuntilanak itu sendiri. Sebut saja kuntilanak merah, kuntilanak jenis ini konon disebut yang paling ganas, berenergi lebih kuat dan agresif ketimbang kuntilanak putih. Berikut jenis kuntilanak dilihat dari warna dan karakternya.

Kuntilanak Putih


Sering disebut sebagai kuntilanak standar karena eksistensinya yang lebih dominan ditemui oleh manusia. Konon, panjang rambutnya ini didasarkan pada seberapa lama dia telah meninggal. Kuntilanak putih memiliki kekuatan paling standar alias paling rendah dari yang lainnya.

Ia biasanya lebih banyak menampakkan diri di rumah kosong, kebun, hutan, dan tempat-tempat yang dekat dengan peradaban manusia. Walaupun tidak terlalu mengancam, jenis kuntilanak putih ini merupakan jenis kuntilanak yang usil dan centil kepada pria.

Kuntilanak Merah


Kuntilanak jenis ini biasanya menyerang orang-orang yang menjadi sasaran dendamnya. Bahkan, berbagai sumber mengatakan bahwa kuntilanak merah akan tetap menyerang dan membalaskan dendamnya walaupun orang yang menjadi sasaran dendamnya itu sudah meninggal.

Ia akan mengalihkan sasaran dendamnya kepada anak-cucu dari orang tersebut hingga tujuh turunan. Dikatakan juga bahwa kuntilanak merah tidak akan berhenti meneror sampai dendam dan penderitaannya terbalaskan.Tanda penampakan ada kuntilanak merah adalah adanya bau amis darah kotor dan suara tertawa melengking.

Kuntilanak Biru

Kuntilanak jenis ini disebut-sebut sangat berbahaya dan memiliki kekuatan paling kuat. Biasanya kehadirannya ditandai oleh bau anyir sangat menyengat dan suasana yang membuat bulu kuduk merinding. Yang lebih ngerinya lagi, kuntilanak jenis ini bisa membuat orang tiba-tiba lemas dan tidak sadarkan diri lho!

Kuntilanak Hitam

Kuntilanak hitam dikategorikan ke dalam dua jenis bentuk yang berbeda. Walaupun terlihat sama-sama memakai pakaian dengan warna hitam pekat, nyatanya kuntilanak ini bisa mempunyai asal-usul yang berbeda. Kuntilanak hitam jenis pertama melambangkan usia kuntilanak yang semakin menua.

Biasanya, kuntilanak hitam mempunyai energi yang lebih positif dan semakin menjauh dari peradaban manusia. Sedangkan, kuntilanak jenis kedua adalah kuntilanak yang bekerja sama dengan dukun.

Ia diperalat oleh seorang dukun untuk membantu menyelesaikan masalah duniawi. Berbeda dengan kuntilanak jenis pertama, kuntilanak jenis kedua ini biasanya lebih agresif dan paling sering menggangu manusia.

Selain ketiga jenis kuntilanak yang telah disebutkan, masih ada lagi jenis kuntilanak yang katanya suka sekali meneror manusia secara langsung bahkan suka menyerang organ vital para lelaki yang mereka temui.

Bule Melihat Kuntilanak Memangsa Pria

Tak hanya warga Nusantara yang pernah ketemu Kuntilanak.. Salah satu yang mengalami ini adalah perempuan Belanda bernama Augusta de Wit. Dia mengaku bertemu langsung kuntilanak saat berkunjung ke Jawa pada 1894 dan menceritakan pengalamannya itu dalam buku Java, Fact and Fancies.

Terlepas dari kebenaran cerita, satu hal pasti dari kesaksian de Wit adalah soal bagaimana orang Eropa bertemu hantu Nusantara dan mencatatkan keberadaan mereka.

Pada mulanya, dia mengaku pertama kali melihat sosok kuntilanak sedang duduk di dahan pohon sembari tertawa nyaring. Suara nyaring itu, kata de Wit, sangat memecah keheningan. Dan saat melihat wajahnya, de Wit bersaksi kalau kuntilanak sangat cantik.

“Rupa wajahnya lebih cantik dari pengantin dewi cinta,” tulis de Wit.

Namun, kuntilanak itu tak cuma berdiam diri sambil tertawa saja, tetapi juga memangsa para pria. Ini dilakukannya sebagai cara untuk merasakan cinta yang selama ini terpendam. Sebab, kata de Wit, eksistensi kuntilanak berasal dari jiwa perawan yang tidak pernah dicium oleh kekasihnya.

“Dan dia tidak bisa beristirahat karena dia tidak pernah mengenal cinta. Dan dia akan memenangkannya meski sekarang bukan dalam kebaikan, tetapi dalam kedengkian yang mematikan,” ungkap perempuan Belanda itu.

Menurutnya, cara kuntilanak memangsa pria adalah lewat nyanyian. Di dahan pohon, kuntilanak sering bernyanyi lembut sembari menyisir rambut panjang.

Biasanya, aktivitas ini bertujuan untuk memancing seorang pria muda terpesona hingga berani memeluknya. Dan ketika kuntilanak melancarkan aksinya, pria muda yang melihatnya langsung terbutakan hingga berani memeluknya.

“Tapi, saat dia (pria muda) memeluknya, dia merasakan luka menganga di punggungnya yang ternyata disembunyikan di balik rambut panjang,” tutur de Wit.

Ketika itu terjadi maka tamatlah riwayat pria muda itu. De Wit mengisahkan pria muda itu tak bisa lepas dari jeratan pelukan kuntilanak. Di tengah ketakutan, kuntilanak menyumpahi pria itu agar mati.

Maka, sebelum malam berganti, pria muda itu langsung meninggal. Namun, de Wit juga mengungkap jurus selamat dari pelukan maut kuntilanak. Bahkan, berkat keberanian itu, ada pria muda yang kelak menjadi suami dari putri raja dan ayah dari para pangeran.

“Jika cerdik dan berani, dia akan mencabut sehelai rambut kuntilanak. Jika berhasil, dia tidak mati, tetapi hidup sampai usia lanjut, kaya, terhormat dan bahagia,” katanya. Anda Percaya?***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Seni Bercinta dalam Laku Budaya Jawa

11 Maret 2026 - 10:40 WIB

Makna Tradisi Nyadran di Yogyakarta saat Bulan Ruwah

26 Januari 2026 - 09:27 WIB

Hamengku Buwono X Melarung Payung Songsong Gilap ke Pantai Parangkusumo

19 Januari 2026 - 14:18 WIB

Teaterikal Kedatangan Cindy Adams di Jombang: Pertegas Bung Karno Lahir di Ploso

17 Januari 2026 - 14:15 WIB

Tradisi Turun Temurun Dusun Thekelan Semarang: Saling Bersilatuhami Saat Acara Besar Keagamaan

26 Desember 2025 - 11:52 WIB

Melestarikan Budaya dengan Menjadi Prajurit Keraton Yogyakarta, Ini Syaratnya!

20 Desember 2025 - 18:52 WIB

Besok! Malam Jumat Kliwon membahas Kayu dalam Budaya Nusantara

17 Desember 2025 - 12:11 WIB

Buku Dari Gebang ke Gedongan Diluncurkan dari Desa Wedomartani

3 November 2025 - 17:08 WIB

Sangkan Paran: Jeritan Luka Melawan Stigma yang Menancap di Bangunrejo Surabaya

1 Oktober 2025 - 15:24 WIB

Trending di Seni & Budaya