Penulis: Ganjar | Editor: Aditya Prayoga
SURABAYA, KREDONEWS.COM– Sebuah rekaman video memperlihatkan kekesalan seorang pelajar SMP terhadap materi IPA. Sambil menggerutu tentang teori gravitasi, remaja itu berkata, “nih ipa nih ipa, ini ada buah jatuh jatuh.”
Ia lantas menirukan pertanyaan khas soal fisika dengan nada jengkel, “energi potensialnya berapa? energi kinetiknya berapa? kecepatannya berapa? Ribet ribet, buah jatuh aja di hitung.” Video tersebut diakhiri dengan aksi remaja itu memukul kamera menggunakan sapu.
Keluhan ini justru mendapat dukungan dari Fatwa Adikusuma PhD, seorang ahli rekayasa genetika lulusan Australia. Melalui media sosialnya.
Fatwa merespons, “Dek, dek abang yang udah S1, S2, PhD di luar negeri, malah lanjut jadi saintis di akademik sudah 8 tahun, setuju sekali sama pendapat adek ini.
Fatwa membenarkan bahwa banyak materi sekolah terasa rumit dan kurang terpakai di dunia nyata, persis seperti yang ia rasakan dulu.
Ia mengungkapkan, “Abang juga ngerasa, ngapain sih dulu aku belajar hal yang ribet, repot, dan gak relevan dalam kehidupan sehari-hari, dan malah gak kepake di dunia yang sesungguhnya.”
Ia mencontohkan materi perhitungan fisika yang sering kali dianggap jauh dari rutinitas orang biasa. “Misalnya itu, menghitung energi kinetik. Itu kan nggak relevan di kehidupan sehari-hari ya.”
Menurut Fatwa, kunci agar siswa mau belajar adalah pemahaman mengenai kegunaan ilmu tersebut. Ia menjelaskan, “Kalau seandainya kita dijelaskan fungsinya di keseharian kita, itu kita bisa lebih menerima pelajaran itu.”
Selain itu, melatih logika tidak harus lewat pelajaran berat, bisa juga melalui permainan. “Main sudoku, mengasah otak, dan fun.”
Ia menutup pandangannya dengan mengingatkan peran guru untuk membuat materi lebih bermakna bagi siswa, yakni dengan “Mengkaitkan itu dengan kehidupan mereka sehingga mempelajari sesuatu itu lebih make sense, bukan hanya sekedar bisa mengerjakan soal ujian.”***











