Penulis: Arief H. Soesatyo | Editor: Priyo Suwarno
JOMBANG, SWARAJOMBANG.COM— Tumpah ruah ribuan muktamirin dan warga yabv hadir di pelataran Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, tempat di mana Nahdlatul Ulama tumbuh dan berakar, adab lebih tinggi daripada jabatan.
Kesan itu begitu kental dan terjaga secara kuat, saat pembukaan Muktamar ke-35 NU digelar Kamis pagi itu, 27 Agustus 2026.
Mata ribuan hadirin tertuju bukan pada lambang kepresidenan di dada, melainkan pada sikap seorang pemimpin negara yang justru bersikap adab, dengan cara hormat merendahkan dirinya di hadapan para kiai sepuh.
Perilaku itu pula yang diperlihatkan oleh Presiden Prabowo Subianto saat hadir lengkap dengan pakaian kebesaran dan peci hitam.
Begitu melihat KH Nurul Huda Djazuli, Pengasuh Ponpes Al-Falah Ploso Kediri, ia langsung menghampiri kiai sepuh duduk di kursi roda.
Presiden langsung menghentikan langkahnya tak berhenti di jarak hormat. Lalu merendahkan tubuhnya hingga bersimpuh di lantai, sejajar tinggi duduk sang kiai sepuh.
Bahu membungkuk dalam, jemari saling bertaut, lalu diiringi pelukan hangat hingga ciuman di pipi kanan dan kiri — penuh tulus, tanpa ragu, tanpa peduli sorotan kamera.
Bukan satu kiai saja yang disambut demikian. Presiden berkeliling sendiri mendatangi para ulama dan tetua NU di area acara, mendekat ke kursi mereka, menunduk saat berbicara, seakan-akan tak ada jarak antara Istana dan pesantren.
Kepala negara melayang turun, menyatu dengan adat santri: ilmu lebih tinggi dari pangkat, guru lebih mulia dari jabatan. Aksi spontan itu bukan sekadar seremonial.
Di pidato resminya, Presiden menegaskan: pemerintah bertekad dekat, membesarkan, dan memberdayakan pesantren serta organisasi keagamaan seperti NU maupun Muhammadiyah. Dan ia membuktikan kata-katanya saat itu juga.
Sikap bersimpuhnya menjadi pelajaran hidup: seberapa pun tinggi seseorang mendaki tangga dunia, ia tetap harus tahu tempat berlututnya di hadapan sumber ilmu.
Di tengah zaman yang kerap memuja kemegahan, momen sederhana di Tambakberas ini justru bersinar paling terang.
Sebuah pesan tak bersuara namun didengar seantero negeri: negara besar tak ditandai betapa tingginya pemimpin berdiri, melainkan betapa dalam ia tahu cara merendah demi menghormati akarnya.**











