Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Priyo Suwarno
PAKISTAN, SWARAJOMBANG.COM – Pakistan kini secara resmi mengekspor daging keledai ke China lewat Pelabuhan Gwadar, dengan target 50 kontainer setiap bulan. Langkah ini menjadi bagian dari perkembangan pesat sektor perdagangan peternakan serta ekspor produk pertanian di Pakistan.
Nilai dari ekspor tersebut belum bisa dipastikan secara akurat karena kurangnya data terbaru mengenai harga daging keledai per ton maupun muatan standar setiap kontainer (biasanya 20-25 ton untuk kontainer reefer).
Perkiraan sementara mengacu pada harga pasar dunia untuk daging keledai (sekitar US$3.000-5.000 per ton) ditambah ongkos pengiriman, berpotensi mencapai US$7,5-12,5 juta setiap bulan (setara Rp120-200 miliar), yang sudah termasuk keuntungan dan biaya laut dari Gwadar menuju China.
Para pejabat menyebutkan bahwa program ini diantisipasi bakal membuka sumber pendapatan baru, membuka peluang kerja bagi warga lokal, serta mempererat ikatan perdagangan bilateral antara Pakistan dan China.
Pakistan memanfaatkan posisi strategis Pelabuhan Gwadar untuk mengangkat daya saing industri peternakannya dan menembus pasar global yang lebih luas.
Inisiatif tersebut memancing perdebatan di komunitas perdagangan serta pertanian, sekaligus menunjukkan komitmen pemerintah dalam memperluas keragaman barang ekspor dan memanfaatkan peluang pasar internasional niche. Para analis menilai kemajuan ini semakin menegaskan peran Gwadar sebagai hub perdagangan untuk sektor industri maupun pertanian.
Perusahaan asal China bernama Hangeng, yang beroperasi di Gwadar North Free Zone, telah memperoleh izin resmi dari General Administration of Customs China (GACC) guna mengekspor daging keledai usai lolos pemeriksaan daring.
Pengiriman pertama dijadwalkan berlangsung minggu depan dari fasilitas rumah jagal baru di zona tersebut, dengan target stabil 50 kontainer per bulan setelah memasuki fase operasional penuh.
Langkah ini terintegrasi dalam koridor ekonomi China-Pakistan (CPEC), yang terus memacu perdagangan produk peternakan Pakistan, khususnya daging keledai yang populer di China untuk keperluan makanan dan pengobatan tradisional.
China mengimpor daging keledai dalam volume besar, terutama demi produksi ejiao, yaitu gelatin tradisional yang diolah dari kulit keledai untuk pengobatan tradisional Tiongkok.
Permintaan ejiao terus meningkat karena keyakinan masyarakat bahwa ramuan ini efektif mengatasi beragam keluhan seperti insomnia, anemia, hingga tanda-tanda penuaan dini, sementara stok keledai lokal di China menyusut tajam hingga 76% sejak 1992 akibat urbanisasi dan perubahan pola ekonomi.
China memerlukan sekitar 4,8 juta lembar kulit keledai setiap tahun untuk memproduksi ejiao dalam jumlah ribuan ton, sehingga bergantung pada pasokan impor dari negara-negara seperti Pakistan, Afrika, serta Amerika Latin sebagai alternatif utama.
Ejiao, yang merupakan gelatin dari kulit keledai, diakui dalam pengobatan tradisional Cina (TCM) sebagai tonik darah ampuh untuk mengatasi kondisi kekurangan darah atau “xue xu”.
Khasiat pokoknya mencakup pemulihan darah sehingga berguna mengobati anemia, perdarahan berlebih seperti menstruasi tidak lancar pada perempuan, serta pemulihan setelah sakit berat seperti demam berdarah atau kemoterapi melalui peningkatan trombosit dan kekebalan tubuh.
Ejiao juga dipercaya mampu menjaga vitalitas, mengurangi pusing atau kehilangan kesadaran karena kelemahan, serta memperbaiki fungsi organ vital seperti paru-paru, ginjal, dan hati. **











